Sedapat mungkin saya berusaha mengikuti "nasib" pendeta yang sedang terus didiskusikan dalam subjek Management Pendeta, yang berlangsung di gkjnet. Semoga semua ungkapan mencerminkan: Kasih, Penghargaan, Perhatian, dan Kerinduan Berkomunikasi yang santun dengan para pendeta kita (dan yang sebaliknya juga berlaku). Ada beberapa catatan kecil saya:
Pendeta juga memerlukan cinta-kasih dan sikap positif dari jemaatnya. Karena mereka juga manusia yang bisa luput, bisa lelah, bisa 'semplah,' bisa bersukacita, bisa berubah duka dan lain-lain layaknya manusia biasa.
Kita belajar kalau seseorang sering dikritik, maka hasilnya biasanya kurang baik. Menghargai (mengapresiasi) hal-hal positif dari seseorang lebih membangun ybs. ketimbang sering-sering mengritik.
Setiap manusia tidak terkecuali pendeta adalah ciptaan yang unik. Jadi kekuatan dan kelemahannya juga unik. Tidak perlu kita menggeneralisir (nggebyah-uyah), baik tentang hal-hal positif maupun negatif.
Sebagai insan biasa, pendeta juga dapat "kehabisan/tekor perhatian" - karena itu kita juga terpanggil untuk membantu "mengisi cadangan perhatian" dari para pendeta yang kita kasihi itu, sehingga sang pendeta dapat kembali membagikan perhatiannya kepada warga gereja dan masyarakat yang dilayaninya. Apa lagi jika ada satu-dua warganya yang bagaikan "sumur tanpa dasar" - karena itu selalu "menuntut perhatian besar" sebab ybs tidak pernah merasa penuh terisi. (Hanya "sumur yang berdasar" yang dapat berisi dan membagikan dengan "berkelimpahan" ).
Apabila memperoleh pressure yang terus-menerus, para pendeta juga bisa mengalami disorientasi, krisis percaya diri, bahkan bingung dan memerlukan bantuan psikiater atau psikolog (profesional) , sama persis dengan setiap orang diantara kita. (Pendeta yang mengalami disorientasi telah beberapa kali terjadi dilingkungan GKJ).
Pendeta bisa diajak bertumbuh bersama-sama dengan pertumbuhan para warganya (intelektual, kecakapan praktis, kemampuan mengapresiasi, peningkatan selera khususnya terhadap berbagai selera lokal, dll.). Kalau lingkungannya memberi rasa aman maka setiap orang biasanya akan cepat membuka diri untuk belajar dan tumbuh bersama.
Kalau berhadapan dengan warga jemaat yang mempunyai potensi untuk "menyakiti orang lain" (dan bp/ibu pendeta menjadi sasarannya), kiranya kita juga perlu membantu membebaskan "sasaran/korban" dari menjadi bulan-bulanan penyaluran potensi yang keliru itu. Tidak mustahil sikap negatif kepada pendetanya itu mengindikasikan kebutuhan akan perawatan secara khusus oleh profesional.
Pendeta memang diharapkan senantiasa bersemangat dalam menghayati panggilannya untuk "menolong" orang lain - baik warganya maupun warga masyarakat umum, agar pendeta selalu dapat menghayati panggilannya itu pendeta juga perlu mengingat kebutuhan untuk "menolong" dirinya sendiri (dan ditolong) agar dia dapat menolong orang lain. Kita semua perlu (saling) dilayani agar dapat (saling) melayani.
Kalau kita "menegur" pendeta yang keliru, tentunya kita akan melakukan dengan kasih sehingga tidak melakukannya dimuka umum.

Salam kasih :-)
KH
Discuss   Add this link to...  Bury

Comments Who Voted Related Links