Kebenaran agama adalah bagian yang penting dari setiap agama yang hidup di dunia ini, malah dengannya agama itu bertahan, bertumbuh dan mempesona begitu banyak manusia. Namun dengan “kebenaran†itu pulalah konflik antar agama terjadi, sehingga pertanyaan kita (dhi. Kristen) kini: Apakah ada jalan bagi orang Kristen untuk menerima kebenaran dari agama lain, tanpa menanggalkan kebenaran agamanya sendiri, suatu jalan yang dapat dipertanggungjawabkan secara teologis (dan filosofis)?
1 Comment Add this link to...Bury Add to:
| Bookmarks
written by kakiwir 399 days ago
Rating: 0
| Rate Comment:+-
kristian wrote:
Quote:
Apakah ada jalan bagi orang Kristen untuk menerima kebenaran dari agama lain, tanpa menanggalkan kebenaran agamanya sendiri, suatu jalan yang dapat dipertanggungjawabkan secara teologis (dan filosofis)?
My opinion is:
Menerima kebenaran agama lain demi atasi konflik lantaran beda pendapat atau prinsip?
Dalam konteks kristen, saya melihat bahwa:
1. Adalah kebenaran bahwa Ishak yang hendak dikorbankan dan bukan Ismael, sementara dalam konteks agama lain (islam) justru sebaliknya.
2. Adalah kebenaran bahwa di sorga kelak orang tidak kawin dan tidak pula dikawinkan tetapi akan seperti malaikat, sementara di islam, sorga penuh bidadari cantik bermata jeli
Quran 37:48
Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya
Dua contoh itu saja menunjkkan dua pandangan yang bertolak belakang, seperti gelam dan terang, bukan hanya berbeda (tidak mirip) tetapi berlawanan (opposite).
Dalam hal Ishak dan Ismael maka tidak mungkin keduanya benar, tetapi hanya salah satu yang benar atau keduanya salah.
Dalam hal surga, juga tidak mungkin keduanya benar, tetapi pastilah hanya salah satu yang benar, ataukah keduanya salah?
Satu hal lagi. Dalam konteks kristen (ajaran Yesus) keselamatan manusia diperoleh dengan: mengaku dengan mulutnya bahwa Yesus adalah Penebus dosa, Tuhan, Juruselamat, dst dan percaya dengan hatinya bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari kematian karena disalib karena menanggung dosa kita, supaya bilur-bilurNya menyembuhkan sakit penyakit kita (Yes 53:3-5)dan mau hidup seturut firman dengan pertolongan Roh Kudus. Itulah keselamatan dalam konteks kristen, sementara di islam, keselamatan didapat dengan banyak berbuat baik dan sama sekali tidak ditekankan perlunya Yesus sebagai Juruselamat.
Karena itu, memasukkan atau menerima "kebenaran" agama lain yang jelas berlawanan dengan ajaran Kristus tidak dapat dipertanggung jawabkan secara teologis. Entahlah kalau secara filosofis.
Saya melihat okok-pokok ajaran Yesus antara lain:
a. Supaya saling mengasihi
b. Wajib mengampuni kesalahan orang lain tanpa memandang jenis ataupun besar ksalahan, agar "Bapamu di sorga juga mengampuni kesalahanmu" (Matius 5,6)
c. Mendoakan orang atau pihak yang memusuhi orang kristen, sebab orang yang masih tinggal dalam "wilayah" kebencian adalah orang yang belum melihat kebenaran Kristus.
d. Memberkati (mendoakan yang baik) bukan mengutuki.
e. Menyembuhkan (hati maupun fisik) bukan menyakiti apalagi menganiaya.
f. Membangkitkan orang mati, bukan membunuh orang hidup.
g. Mengusir setan dan roh-roh jahat (Markus 16:17) bukan berkawan dengan mereka (pergi ke dukun, paranormal dan orang pintar)
Pluralisme selayaknya dihadapi dengan "Cerdik eperti ular, tetapi tulus seperti merpati" bukan dengan kompromi.
Comments
kristian wrote:
Quote:
Apakah ada jalan bagi orang Kristen untuk menerima kebenaran dari agama lain, tanpa menanggalkan kebenaran agamanya sendiri, suatu jalan yang dapat dipertanggungjawabkan secara teologis (dan filosofis)?
My opinion is:
Menerima kebenaran agama lain demi atasi konflik lantaran beda pendapat atau prinsip?
Dalam konteks kristen, saya melihat bahwa:
1. Adalah kebenaran bahwa Ishak yang hendak dikorbankan dan bukan Ismael, sementara dalam konteks agama lain (islam) justru sebaliknya.
2. Adalah kebenaran bahwa di sorga kelak orang tidak kawin dan tidak pula dikawinkan tetapi akan seperti malaikat, sementara di islam, sorga penuh bidadari cantik bermata jeli
Quran 37:48
Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya
Dua contoh itu saja menunjkkan dua pandangan yang bertolak belakang, seperti gelam dan terang, bukan hanya berbeda (tidak mirip) tetapi berlawanan (opposite).
Dalam hal Ishak dan Ismael maka tidak mungkin keduanya benar, tetapi hanya salah satu yang benar atau keduanya salah.
Dalam hal surga, juga tidak mungkin keduanya benar, tetapi pastilah hanya salah satu yang benar, ataukah keduanya salah?
Satu hal lagi. Dalam konteks kristen (ajaran Yesus) keselamatan manusia diperoleh dengan: mengaku dengan mulutnya bahwa Yesus adalah Penebus dosa, Tuhan, Juruselamat, dst dan percaya dengan hatinya bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari kematian karena disalib karena menanggung dosa kita, supaya bilur-bilurNya menyembuhkan sakit penyakit kita (Yes 53:3-5)dan mau hidup seturut firman dengan pertolongan Roh Kudus. Itulah keselamatan dalam konteks kristen, sementara di islam, keselamatan didapat dengan banyak berbuat baik dan sama sekali tidak ditekankan perlunya Yesus sebagai Juruselamat.
Karena itu, memasukkan atau menerima "kebenaran" agama lain yang jelas berlawanan dengan ajaran Kristus tidak dapat dipertanggung jawabkan secara teologis. Entahlah kalau secara filosofis.
Saya melihat okok-pokok ajaran Yesus antara lain:
a. Supaya saling mengasihi
b. Wajib mengampuni kesalahan orang lain tanpa memandang jenis ataupun besar ksalahan, agar "Bapamu di sorga juga mengampuni kesalahanmu" (Matius 5,6)
c. Mendoakan orang atau pihak yang memusuhi orang kristen, sebab orang yang masih tinggal dalam "wilayah" kebencian adalah orang yang belum melihat kebenaran Kristus.
d. Memberkati (mendoakan yang baik) bukan mengutuki.
e. Menyembuhkan (hati maupun fisik) bukan menyakiti apalagi menganiaya.
f. Membangkitkan orang mati, bukan membunuh orang hidup.
g. Mengusir setan dan roh-roh jahat (Markus 16:17) bukan berkawan dengan mereka (pergi ke dukun, paranormal dan orang pintar)
Pluralisme selayaknya dihadapi dengan "Cerdik eperti ular, tetapi tulus seperti merpati" bukan dengan kompromi.
Kakiwir