
Pengelolaan keuangan gereja bukan sekadar tugas administratif (mencatat pemasukan dan pengeluaran), melainkan sebuah panggilan untuk melayani dengan penuh integritas dan tanggung jawab. Walaupun Gereja adalah organisasi non-profit / nirlaba namun tanpa pengelolaan keuangan yang bijak dan transparan, keberlangsungan pelayanannya bisa terancam. Persembahan yang dikelola asal-asalan, sekalipun dengan niat baik untuk jemaat, dapat menimbulkan pengeluaran yang melebihi pendapatan.
Tanpa perencanaan yang matang, permintaan persembahan yang berulang akan memunculkan kegelisahan di tengah jemaat. Tidak jarang muncul sindiran pahit seperti jemaat hanya sapi perah gereja.
Di sisi lain pengelolaan yang tertata tapi tanpa laporan keuangan yang transparan juga akan menimbulkan tanda tanya bagi jemaat. Imbasnya jemaat akhirnya enggan memberikan persembahan karena menganggap gereja tidak transparan dalam penggunaan uang persembahan jemaat.
🔔 Maka diperlukan pengelolaan keuangan gereja yang bukan hanya rapi secara administratif, tetapi juga dilaporkan secara transparan
✍️ 1. Buatlah Anggaran Pendapatan dan Belanja yang Realistis
Anggaran Pendapatan dan Belanja Gereja (APBG) adalah fondasi dari setiap aktivitas gerejawi. Buatlah proyeksi pemasukan sesuai dengan kapasitas jemaat, bukan berdasar harapan muluk. Bila rata-rata pemasukan per bulan dari persembahan hanya Rp500.000, maka jangan menetapkan target Rp5.000.000. per bulan
- Gunakan akal sehat bersama iman.
- Sesuaikan pengeluaran dengan sumber pendapatan yang tersedia.
- Hindari beban berlebihan (menarik persembahan yang berlebihan) kepada jemaat.
🧩 2. Catat Keuangan Secara Rapi dan Terstruktur
Mencatat semua pemasukan dan pengeluaran adalah langkah wajib. Gunakan alat pencatatan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan:
- Buku kas manual atau program sederhana seperti MS Excel, atau aplikasi keuangan lainnya.
- Bukti transaksi seperti kuitansi perlu disertakan. Jika kuitansi tidak tersedia (misalnya makan di warung), bendahara bisa membuat kuitansi sendiri.
- Kolom bisa disesuaikan dengan kebutuhan gereja (minimal ada tanggal transaksi, pemasukan, pengeluaran, saldo, bukti transaksi)
Tujuannya? Transparansi, keterlacakkan, dan akuntabilitas.
3. Laporkan Secara Rutin dan Transparan/Terbuka
Tidak cukup hanya mencatat—laporkan keuangan secara berkala dan terbuka. Laporan yang rutin membuat jemaat merasa dihargai sebagai bagian dari perjalanan gereja.
| Jenis Laporan | Bentuk Laporan |
|---|---|
| Laporan Mingguan | Penerimaan persembahan, opsional pengeluaran selama 1 minggu |
| Laporan Bulanan | Seluruh transaksi dan saldo bulan sebelumnya |
| Laporan Semester | Realisasi anggaran 6 bulan dengan prosentase capaian |
| Laporan Akhir Tahun | Ringkasan realisasi APBG dan analisis capaian tahunan |
Variasi format laporan akan membantu jemaat membaca penggunaan keuangan dengan nyaman dan jelas.
🗂️ 4. Bentuk Tim Audit Internal
Bentuklah tim audit dari jemaat yang punya latar belakang finansial. Tim ini bukan untuk "menghukum" atau "mencari kesalahan", tapi menjaga kesehatan keuangan gereja:
- Audit bersifat internal dan bersahabat.
- Dokumentasikan temuan untuk bahan evaluasi masa depan.
- Audit menunjukkan gereja serius menjaga kepercayaan jemaat.
🎯 5. Sosialisasikan APBG kepada Jemaat
Setelah APBG selesai jangan lupa sosialisasikan kepada jemaat. Ini adalah bentuk awal keterbukaan. Jemaat yang kritis bukan musuh, tapi mitra dalam pelayanan.
- Tanggapi pertanyaan jemaat dengan kepala dingin.
- Tunjukkan bahwa majelis berjalan di jalur yang benar.
Ketika transparansi dijaga, maka kepercayaan dari jemaat akan tumbuh dan terjaga
💡 Tips Tambahan Praktis
- Sediakan Tabungan Gereja: Untuk dana darurat atau tujuan khusus.
- Lakukan Investasi Bijak: Gunakan dana yang tidak terpakai untuk investasi berisiko rendah demi meningkatkan aset.
Pengelolaan keuangan gereja bukan sekadar administrasi—ia adalah bentuk pelayanan. Ia adalah cara gereja menghormati kepercayaan jemaat dan panggilan spiritual.
“Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” — Matius 6:21