
Siapa yang berhak mengelola Persembahan dari jemaat? Siapa yang berhak mengurusi Keuangan Gereja? Apakah Pendeta atau cukup oleh warga saja? Mereka yang memilih Pendeta akan berargumen bahwa Pendeta-lah yang lebih tahu kebutuhan pelayanan. Sedangkan yang memilih warga gereja memiliki argumen bahwa urusan keuangan hendaknya di serahkan ke yang benar memahami, sedangkan pendeta cukup mengurusi kerohanian saja
Landasan Alkitab
Dalam Kisah Para Rasul 6:1-7 dikisahkan bagaimana gereja mula-mula menghadapi masalah distribusi makanan bagi janda-janda. Para rasul memutuskan untuk memilih tujuh orang (seperti Stefanus) yang penuh Roh Kudus dan hikmat untuk mengurus "pelayanan meja" (termasuk aspek keuangan dan distribusi sumber daya), sehingga rasul dapat fokus pada doa dan pelayanan firman.
- Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul dan berkata: "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah untuk melayani meja.
- Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk tugas itu,
- dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman."
Perikop ini menekankan akan pentingnya pemisahan tugas pelayanan agar masing-masing dapat fokus dengan bidang pelayanan yang pada akhirnya dapat dikerjakan secara maksimal.
1 Petrus 4:10: "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah."
Ayat ini secara tidak langung dapat diartikan seorang pendeta sebaiknya mengurusi hal kerohanian dan warga yang paham keuanganlah yang dapat dipercaya mengurusi keuangan gereja.
Pendapat Tokoh Kristen
Larry Burkett, pendiri Christian Financial Concepts, dalam bukunya Business by the Book: The Complete Guide of Biblical Principles for the Workplace (1998), menekankan bahwa pengelolaan keuangan gereja harus melibatkan tim yang terdiri dari warga gereja yang kompeten, bukan hanya pendeta, untuk menghindari konflik kepentingan. Burkett berargumen bahwa pendeta sebaiknya fokus pada pelayanan rohani, sementara keuangan ditangani oleh dewan keuangan independen, berdasarkan prinsip Alkitab tentang kejujuran (Amsal 11:1).
Sedangkan Geoffrey V. Guns, dalam buku Church Financial Management: A Practical Guide for Today's Church Leaders (1998), berpendapat bahwa warga gereja yang memiliki keahlian akuntansi atau bisnis sebaiknya menjadi penanggung jawab utama, sementara pendeta memberikan arahan visi. Guns mengaitkan ini dengan model diaken dalam Alkitab, di mana pelayanan praktis dipisahkan dari pengajaran.
Pendapat-pendapat ini secara umum mendukung keterlibatan warga gereja sebagai bentuk akuntabilitas bersama, sesuai dengan prinsip Kristen tentang tubuh Kristus yang saling melengkapi (1 Korintus 12:12-27).
Tabel Perbandingan: Jika Uang Dipegang oleh Pendeta atau Warga Biasa
Berikut adalah tabel perbandingan sederhana yang membandingkan pro dan kontra jika keuangan gereja dikelola secara dominan oleh pendeta atau warga gereja.
| Aspek | Dipegang oleh Pendeta | Dipegang oleh Warga Gereja |
|---|---|---|
| Kelebihan |
- Keputusan cepat karena terintegrasi dengan visi rohani pendeta. - Konsistensi dengan kepemimpinan spiritual (misalnya, seperti rasul dalam Kisah 4:35). |
- Akuntabilitas lebih tinggi melalui tim independen, mengurangi risiko penyalahgunaan. - Memanfaatkan keahlian bisnis warga, sesuai model diaken (Kisah 6:3). |
| Kekurangan |
- Risiko konflik kepentingan atau godaan serakah - Kurang transparansi jika tanpa pengawasan eksternal. |
- Potensi kurangnya sinkronisasi dengan visi gereja jika tidak ada pengawasan. - Proses keputusan lebih lambat karena melibatkan banyak orang. |
| Risiko |
- Tuduhan korupsi atau nepotisme, seperti kasus-kasus skandal gereja. - Beban berat bagi pendeta, mengalihkan fokus dari pelayanan rohani. |
- Kurangnya komitmen rohani jika warga tidak teruji - Potensi politik internal di antara warga. |
| Contoh Praktik | Pendeta menyetujui anggaran, tapi mudah disalahgunakan jika sendirian. | - Melakukan audit tahunan, memastikan transparansi |
Tabel ini menunjukkan bahwa tidak ada pendekatan sempurna, tapi kolaborasi sering menjadi solusi terbaik.
Siapa yang sebaiknya mengelola keuangan gereja?
- Bukan pendeta seorang diri. Pendeta harus bebas dari konflik kepentingan dan fokus pada penggembalaan dan pelayanna kerohanian.
- Bukan satu warga jemaat saja. Uang gereja jangan dipusatkan pada satu tangan; selalu gunakan prinsip empat mata/dua penandatangan dan pemisahan fungsi penerimaan–pencatatan–pengeluaran.
- Model yang dianjurkan: Bendahara dan/atau tim keuangan dari warga yang kompeten (akuntansi/keuangan), berada di bawah pengawasan majelis/pengurus gereja; pendeta juga bisa ikut menandatangani keputusan strategis/di atas ambang batas tertentu, dengan audit internal/eksternal berkala.
Walaupun pengelolaan keuangan sebaiknya diserahkan kepada tim namun bagi gereja yang baru merintis awalnya pengelolaan keuangan dapat ditangani langsung oleh Pendeta. Namun seiriang berjalannya waktu dan pertumbuhan jemaat maka pengelolaan keuangan gereja harus diserahkan ke jemaat yang mampu
Akhir Kata...
Secara teologis, uang gereja adalah titipan Tuhan; secara praktis, yang paling aman dan sehat adalah pengelolaan oleh tim jemaat yang kompeten dengan pengawasan majelis, sementara pendeta memimpin secara rohani dan tidak memegang kas seorang diri. Pola ini dapat mengurangi konflik kepentingan, memperkuat kepercayaan jemaat, dan memastikan keberlanjutan pelayanan. Dengan kebijakan jelas, kontrol internal, dan pelaporan transparan, gereja dapat setia dalam perkara kecil dan besar—demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan warga gereja