
Ketika pandemi covid-19 kemarin melanda, banyak ibadah tatap muka di gereja dihentikan, sebagai gantinya ibadah virtual melalui media sosial. Selain gereja yang kosong, kotak persembahan pun juga ikut kosong karena tidak semua jemaat yang di rumah akan memberikan persembahan seperti halnya ketika di gereja. Imbasnya penerimaan persembahan gereja menurun dengan drastis.
Sebagian gereja, keuangannya mulai bergejolak, namun sebagian lagi tetap bertahan. Yang bertahan ini karena mereka memiliki sumber pemasukan lain selain dari persembahan - pemasukan dari Koperasi, Tabungan Emas, Reksadana, bahkan Saham.
Pandemi Covid-19 kemarin telah mengajarkan pelajaran berharga bagi Gereja dalam pengelolaan keuangannya
- Ibadah virtual menyebabkan penurunan drastis pemasukan rutin.
- Gereja perlu mencari sumber pemasukan selain dari Persembahan jemaat
Kenapa Gereja Perlu Menginvestasikan Persembahan Jemaat
Investasi persembahan gereja bukanlah hal yang tabu dan bukan pula hanya berbicara soal keuntungan semata tapi ini adalah langkah bijak untuk memastikan keberlanjutan pelayanan. Dengan berinvestasi, gereja dapat:
- Memastikan dana dari jemaat terus berkembang untuk mendukung program-program pelayanan di masa depan.
- Mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian ekonomi atau krisis serupa di masa mendatang.
- Menjadi teladan / contoh bagi gereja lain dalam pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab.
Apakah ini Artinya Gereja Berbisnis?
Investasi memang bisnis yang bertujuan mencari keuntungan. Namun dalam konteks gereja berinvestasi dapat dipahami sebagai cara gereja untuk mengelola sumber pendapatannya dengan bijak. Gereja juga harus bertanggung jawab memastikan persembahan dari jemaat digunakan sebaik mungkin untuk kemuliaan Tuhan, bukan semata-mata untuk profit. Oleh karena itu transparansi terkait keuangan gereja termasuk investasi sangat diperlukan.
Matius 25:14–30 berisi mengenai perumpamaan mengenai talenta yang harus dikembangkan
Jenis Investasi Gereja: Pilihan, Keuntungan, dan Risiko
Berbagai pilihan investasi bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan nilai gereja.
| Instrumen | Keuntungan | Risiko |
|---|---|---|
| Deposito Bank | Stabil, bunga terjamin | Imbal hasil rendah |
| Reksadana (Pasar Uang / Pendapatan Tetap) | Imbal hasil lebih tinggi dari deposito | Tidak dapat segera dicairkan |
| Surat Berharga Negara | Imbal hasil lebih tinggi dari deposito | Berjangka minimal 2 tahun |
| Tabungan Emas | Nilai uang tetap | Untuk jangka panjang |
| Properti | Pendapatan sewa, nilai aset meningkat | Modal besar, butuh pemeliharaan |
Kapan Bisa Dimulai
Tidak ada waktu yang tepat secara umum untuk memulai investasi. Asalkan sudah disetujui dalam Sidang Majelis atau rapat pengurus maka investasi bisa segera dimulai. Namun demikian ada beberapa pertimbangan penting:
- Saat ada surplus dana dari persembahan yang tidak terpakai dalam jangka pendek
- Ketika gereja memiliki rencana jangka panjang yang memerlukan dana besar, seperti pembangunan gedung
- Sebagai bagian dari strategi keuangan untuk diversifikasi sumber pemasukan
Pastikan menggunakan dana yang memang ditujukan untuk di-investasikan / dana dingin