Saturday, February 12, 2005

Hadiah Terindah Buat si Miskin

Oleh Lesminingtyas

Ketika saya memutuskan untuk menjadi pendamping dalam Natal Bersama Yayasan KDM (Kampus Diakonia Moderen) untuk ratusan pengemis dan gelandangan di Ibu Kota, saya berharap akan bertemu dengan teman-teman sepelayanan. Walaupun semula komitmen saya untuk melayani sudah bulat, tetapi Tuhan tidak begitu saja memberi saya kemudahan.
Perjalanan dari Bogor ke GKI Wahid Hasyim untuk mengikuti pengarahan seminggu sebelum pelaksanaan, bukanlah perjalanan yang mudah. Setelah berjam-jam tidak menemukan alamat gereja, saya hanya geleng-geleng kepala seraya bertanya, "Tuhan, inikah tanda-tanda dariMu bahwa seharusnya saya tidak kemari?".
Namun sedetik kemudian hati kecil saya justru menantang saya, "Kau sering bilang 'always GKI', sekarang mana buktinya? Baru kesulitan mencari lokasi gereja saja sudah menyerah, bagaimana mau mencari jiwa-jiwa hilang dan sesat?"
Ketika puluhan calon pendamping memasuki aula, saya hanya tersenyum masam"Ala mak, junior sekaleee!" kata saya dalam hati. Saya benar-benar tidak siapuntuk belajar bersama para junior yang mungkin berumur 10-15 tahun lebih muda dari saya.
Saya kembali menerima shock therapy dari seorang pantia yang memberikan pembekalan. Tanpa menanyakan latar belakang atau pengalaman dari masing-masing calon pendamping, panitia itu langsung menghantam dengan "kuliah" bagaimana kami harus berbicara dan mendampingi orang miskin. Pengalaman selama 19 tahun malang melintang bersama kaum marginal membuat saya sangat risih harus dikuliahi dengan anak yang “baru kemarin sore” terlibat dalam pelayanan diakonia.
Ketika hendak pulang, panitia itu bertanya, "Apakah kalian siap menjadi pendamping?"Walaupun dalam hati saya berkata, "Sorry ya! Pelayanan kayak gini nggak leveldeh buat saya!", namun saya masih berusaha untuk bergaya sok rohani danberkata,"Saya akan terus gumulkan!"
Saya pun memohon,"Tuhan, pelayanan ini buat saya tidak ada manfaatnya sama sekali! Izinkan saya undur diri dan jangan panggil saya untuk bersama-sama mereka lagi!"
Satu minggu saya terus bergumul. Saya masih terus menguji, apakah menjadipendamping benar-benar panggilan Tuhan ataukah keinginan iseng saya untukmelayani? Saya mulai bermain-main dengan Tuhan.
"Tuhan, kirimkan orang untuk menginterupsi dan meminta pelayanan saya di hari Minggu, supaya saya yakin bahwa tidak menjadi pendamping bukan karena saya menolak panggilanMu"
Malam sebelum pelaksanaan, saya kembali bergumul. Saya berdoa,"Tuhan, kalau memang Engkau memanggilku untuk menjadi pendamping, bangunkan saya dengan kesegaran pada besok pagi jam 03.30 untuk persiapan".
Tapi dasar manusia, ketika pagi itu Tuhan membangunkan sesuai yang saya minta, saya pun masih menawar. "Tuhan, biarkan saya tiduran 30 menit lagi, sambil mempertimbangkan keputusan untuk pergi atau tidak".
Walaupun saya berusaha memejamkan mata lagi, tapi saya tidak bisa tidur,"Tuhan, saya ingin melayaniMu, tapi jangan sekarang!" kata saya dalam hati.
Suara hati saya bertanya "Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi?" Sayapun masih menawar,"Tahun depan toh masih ada acara Natal juga!"
Sejenak kemudian hati saya tidak tenang, seraya mempertanyakan,"Dari manakau yakin, kalau tahun depan kau masih ada? Pergilah sekarang juga untukTuhanmu! Hari ini Tuhan ada di antara pengemis, gelandangan dan orang-orangyang menderita. Tuhan Yesus menunggu pelayananmu!"
Saya masih saja ingin mengeraskan hati seraya berkata,"Tuhan, utuslah sayatapi jangan Kau tempatkan saya di bawah supervisi orang-orang yang lebihjunior!""Kalau tidak di sana, kamu mau diutus ke mana?" suara hati saya kembalibertanya."Ke Aceh kan lebih keren, Tuhan! Di sana saya bisa berbuat lebih banyakdari sekadar pesta Natal!" jawab saya dalam hati.
"Semua orang pergi ke Aceh! Semua bantuan difokuskan ke Aceh! Lalu siapayang memperhatikan pengemis dan gelandangan di ibu kota ini?"
"Tapi saya nggak nyaman diperlakukan layaknya junior Tuhan!" keluh saya.Suara hati saya kembali mendorong saya "Soal panitia yang menempatkan kamusejajar dengan para junior, bukan urusanmu. Urusanmu sekarang adalahmenjadikan nama Tuhan dipermuliakan, dan bukan untuk meninggikan namamu!"
Keakuan saya pun masih saja menawar "Tapi bolehkan, saya nebeng sedikit untukmendapatkan nama supaya lebih popular ketika melayaniMu? Apakah salah, kalaupelayanan saya menjadikan nama Tuhan ditinggikan dan nama saya punterangkat?"Suara hati saya kembali berkata,"Terserah kamu! Tapi kalau kamu sudahmendapat imbalan di dunia, kamu jangan berharap lagi mendapatkan tempat yangtinggi di hari kekekalan nanti!"
Sayapun segera membulatkan tekad,"OK, Tuhan! Saya akan datang melayaniMu diantara pengemis dan gelandangan itu! Tapi tolong mampukan saya untukmenghilangkan kesombongan! Bungkuslah diri saya dengan kebersahajaan. Mampukansaya untuk selalu rendah hati. Siapkan telinga saya untuk mendengar.Mampukan saya untuk menerima dan mengasihi mereka dengan hati yang tulus!"
Pagi itu secepat kilat saya mempersiapkan diri. Jam 04.30 saya keluar rumah.Kabut yang masih pekat dan dinginnya udara Bogor hampir saja menggoyahkantekad saya. Terlebih lagi, sepagi itu di kompleks saya belum ada angkotataupun ojek yang beroperasi.
Tidak ada pilihan lain, saya harus berjalan kira-kira 200 meter melewati jembatan dan tanjakan yang kemiringannya lebih dari 35 derajat, yang oleh penduduk dianggap angker. Sejujurnya kaki saya berat sekali untuk melangkah. Tapi untuk mengejar waktu, saya paksa kaki saya untuk agak berlari sambil berdoa,"Tuhan, kalau memang Engkaumemanggilku untuk menjadi pendamping, jangan biarkan saya berjalan sendiridalam kegelapan pagi ini!"
Saya terus berdoa sambil ngos-ngosan. Ketika hampir sampai di jembatan yangterkenal angker itu, tiba-tiba terdengar suara keras seperti seng bergesek denganaspal. Jantung saya hampir copot! Tanpa sadar saya berteriak,"Tuhan Yesus,kenapa Kau biarkan saya sendiri!" Sayapun mendengar jawaban "Aya naon neng?!"
Ya, ampun! Ternyata di belakang saya berjalan seorang pemulung yang menarikgerobaknya. Sayapun hanya tersenyum malu. Kalau saja orang itu pendeta saya,pasti dia akan bilang "Di manakah imanmu, hai orang yang tidak percaya!"
Saya berusaha berjalan cepat mengikuti langkah si pemulung supaya saat ditanjakan yang terkenal angker itu saya tidak sendirian. Walaupun sayabersama pemulung itu, rasa takut saya tetap tidak berkurang, tetapi justrusemakin bertambah.
Jantung saya berdetak sangat cepat, ketika saya menemukan ingatan saya. Seingat saya, selama 4 tahun tinggal di kompleks itu, saya belum pernah bertemu dengan pemulung yang beroperasi di pagi yang buta.
Pagi itu saya sangat buru-buru. Panitia yang menjadwalkan untuk pengarahan pukul05.30 di UGD-RSUKI benar-benar sangat menyulitkan saya. Pagi itu sungguh-sungguhberbeda. Saya yang biasanya naik bis AC yang bersih, dengan tempat duduk yang empuk,pagi itu saya harus berdiri di bis jurusan Bogor-UKI kelas ekonomi yang kotor.
Tugas pertama yang harus kami lakukan sebagai pendamping adalah mengalungkanbunga kepada para pengemis dan gelandangan, serta membagi balon kepadaanak-anak yang masih sangat kecil.
Saya kembali bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, Engkau memberi saya talenta yang luar biasa. Tapi mengapa saya hanya mengerjakan tugas yang sangat sepele seperti ini?"
Suara hati saya pun menjawab,"Kalau bukan kamu, mau siapa lagi?" Sayapun masih berusaha memberontak "Masih banyak anak-anakMu yang bisa Kaupakai untuk mengalungkan bunga dan membagi balon. Biarkan saya mengerjakantugas yang lebih penting dan mulia, Tuhan!"
Kembali suara hati saya berkata,"Kalau semua anak-anakKu bersikap sepertikamu, siapa yang akan menyambut orang-orang miskin itu? Kalau kalian semuatidak mau melayaniKu dalam hal-hal yang sepele, apakah aku harus memanggilorang-orang yang bukan pilihanKu untuk melayaniKu?"
"Tapi, berikan saya tugas yang tidak sesederhana itu Tuhan!" saya masih menawar.
Suara hati saya pun kembali menaklukkan ke-aku-an saya. "Rendahkan dirimudi hadapanKu! Lakukan apa saja dengan penuh kasih, untuk Aku! Janganpikirkan dirimu lagi, tapi sambutlah para pengemis dan gelandangan itusupaya mereka merasakan damai Natal, karena sesungguhnya segala sesuatu yangkamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-KU yang paling hina ini, kamutelah melakukannya untuk AKU." Pagi itu saya diingatkan oleh perkataan TuhanYesus seperti yang tertulis dalam Matius 25:40.
Begitu para pengemis dan gelandangan itu datang, kami harus berbaur denganmereka. Kami berusaha untuk dekat dan menyambut mereka dengan hangat.
Anak-anak balita dalam gendongan ibunya memandang saya seolah ingin disambutjuga. Saya bisa memastikan, saat itu tidak ada tindakan yang lebih tepatselain menggendongnya. Melihat anak orang lain digendong, beberapa pengemismeminta saya untuk menggendong anaknya juga.
Lima menit pertama tidak masalah. Tapi menit-menit berikutnya, perut sayamual sekali. Anak-anak yang tergolong malnourished dan bau tak sedap dariompol yang bercampur dengan keringat dan bau "matahari", sangat jauh berbedadengan anak saya sendiri yang berkulit licin dan wangi.
Tiba-tiba saja produksi air liur saya langsung meningkat. Dan anehnya, dalam situasiseperti itu saya jijik sekali untuk menelan ludah sendiri.
Rasa ingin muntah sudah tidak tertahan lagi. Untung saja seorang pemuda memberi saya permen rasa mint, sehingga saya tak jijik lagi menelan ludah sendiri. Walaupunperut saya masih agak mual, saya tetap berusaha tersenyum dan mengajakmereka terlibat dalam obrolan yang hangat dan penuh kasih.
Saya kembali berbicara kepada Tuhan,"Tuhan inilah hadiah yang terindah dari saya untuk kaum papa! Tidak ada yang lebih indah yang bisa saya berikan kepada mereka,kecuali pengorbanan diri dan kerendahan hati. Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk merendahkan diri, menyambut dan melayaniMu”.

Hadiah Terindah Buat si Miskin

Oleh Lesminingtyas

Ketika saya memutuskan untuk menjadi pendamping dalam Natal Bersama Yayasan KDM (Kampus Diakonia Moderen) untuk ratusan pengemis dan gelandangan di Ibu Kota, saya berharap akan bertemu dengan teman-teman sepelayanan. Walaupun semula komitmen saya untuk melayani sudah bulat, tetapi Tuhan tidak begitu saja memberi saya kemudahan.
Perjalanan dari Bogor ke GKI Wahid Hasyim untuk mengikuti pengarahan seminggu sebelum pelaksanaan, bukanlah perjalanan yang mudah. Setelah berjam-jam tidak menemukan alamat gereja, saya hanya geleng-geleng kepala seraya bertanya, "Tuhan, inikah tanda-tanda dariMu bahwa seharusnya saya tidak kemari?".
Namun sedetik kemudian hati kecil saya justru menantang saya, "Kau sering bilang 'always GKI', sekarang mana buktinya? Baru kesulitan mencari lokasi gereja saja sudah menyerah, bagaimana mau mencari jiwa-jiwa hilang dan sesat?"
Ketika puluhan calon pendamping memasuki aula, saya hanya tersenyum masam"Ala mak, junior sekaleee!" kata saya dalam hati. Saya benar-benar tidak siapuntuk belajar bersama para junior yang mungkin berumur 10-15 tahun lebih muda dari saya.
Saya kembali menerima shock therapy dari seorang pantia yang memberikan pembekalan. Tanpa menanyakan latar belakang atau pengalaman dari masing-masing calon pendamping, panitia itu langsung menghantam dengan "kuliah" bagaimana kami harus berbicara dan mendampingi orang miskin. Pengalaman selama 19 tahun malang melintang bersama kaum marginal membuat saya sangat risih harus dikuliahi dengan anak yang “baru kemarin sore” terlibat dalam pelayanan diakonia.
Ketika hendak pulang, panitia itu bertanya, "Apakah kalian siap menjadi pendamping?"Walaupun dalam hati saya berkata, "Sorry ya! Pelayanan kayak gini nggak leveldeh buat saya!", namun saya masih berusaha untuk bergaya sok rohani danberkata,"Saya akan terus gumulkan!"
Saya pun memohon,"Tuhan, pelayanan ini buat saya tidak ada manfaatnya sama sekali! Izinkan saya undur diri dan jangan panggil saya untuk bersama-sama mereka lagi!"
Satu minggu saya terus bergumul. Saya masih terus menguji, apakah menjadipendamping benar-benar panggilan Tuhan ataukah keinginan iseng saya untukmelayani? Saya mulai bermain-main dengan Tuhan.
"Tuhan, kirimkan orang untuk menginterupsi dan meminta pelayanan saya di hari Minggu, supaya saya yakin bahwa tidak menjadi pendamping bukan karena saya menolak panggilanMu"
Malam sebelum pelaksanaan, saya kembali bergumul. Saya berdoa,"Tuhan, kalau memang Engkau memanggilku untuk menjadi pendamping, bangunkan saya dengan kesegaran pada besok pagi jam 03.30 untuk persiapan".
Tapi dasar manusia, ketika pagi itu Tuhan membangunkan sesuai yang saya minta, saya pun masih menawar. "Tuhan, biarkan saya tiduran 30 menit lagi, sambil mempertimbangkan keputusan untuk pergi atau tidak".
Walaupun saya berusaha memejamkan mata lagi, tapi saya tidak bisa tidur,"Tuhan, saya ingin melayaniMu, tapi jangan sekarang!" kata saya dalam hati.
Suara hati saya bertanya "Kalau tidak sekarang, mau kapan lagi?" Sayapun masih menawar,"Tahun depan toh masih ada acara Natal juga!"
Sejenak kemudian hati saya tidak tenang, seraya mempertanyakan,"Dari manakau yakin, kalau tahun depan kau masih ada? Pergilah sekarang juga untukTuhanmu! Hari ini Tuhan ada di antara pengemis, gelandangan dan orang-orangyang menderita. Tuhan Yesus menunggu pelayananmu!"
Saya masih saja ingin mengeraskan hati seraya berkata,"Tuhan, utuslah sayatapi jangan Kau tempatkan saya di bawah supervisi orang-orang yang lebihjunior!""Kalau tidak di sana, kamu mau diutus ke mana?" suara hati saya kembalibertanya."Ke Aceh kan lebih keren, Tuhan! Di sana saya bisa berbuat lebih banyakdari sekadar pesta Natal!" jawab saya dalam hati.
"Semua orang pergi ke Aceh! Semua bantuan difokuskan ke Aceh! Lalu siapayang memperhatikan pengemis dan gelandangan di ibu kota ini?"
"Tapi saya nggak nyaman diperlakukan layaknya junior Tuhan!" keluh saya.Suara hati saya kembali mendorong saya "Soal panitia yang menempatkan kamusejajar dengan para junior, bukan urusanmu. Urusanmu sekarang adalahmenjadikan nama Tuhan dipermuliakan, dan bukan untuk meninggikan namamu!"
Keakuan saya pun masih saja menawar "Tapi bolehkan, saya nebeng sedikit untukmendapatkan nama supaya lebih popular ketika melayaniMu? Apakah salah, kalaupelayanan saya menjadikan nama Tuhan ditinggikan dan nama saya punterangkat?"Suara hati saya kembali berkata,"Terserah kamu! Tapi kalau kamu sudahmendapat imbalan di dunia, kamu jangan berharap lagi mendapatkan tempat yangtinggi di hari kekekalan nanti!"
Sayapun segera membulatkan tekad,"OK, Tuhan! Saya akan datang melayaniMu diantara pengemis dan gelandangan itu! Tapi tolong mampukan saya untukmenghilangkan kesombongan! Bungkuslah diri saya dengan kebersahajaan. Mampukansaya untuk selalu rendah hati. Siapkan telinga saya untuk mendengar.Mampukan saya untuk menerima dan mengasihi mereka dengan hati yang tulus!"
Pagi itu secepat kilat saya mempersiapkan diri. Jam 04.30 saya keluar rumah.Kabut yang masih pekat dan dinginnya udara Bogor hampir saja menggoyahkantekad saya. Terlebih lagi, sepagi itu di kompleks saya belum ada angkotataupun ojek yang beroperasi.
Tidak ada pilihan lain, saya harus berjalan kira-kira 200 meter melewati jembatan dan tanjakan yang kemiringannya lebih dari 35 derajat, yang oleh penduduk dianggap angker. Sejujurnya kaki saya berat sekali untuk melangkah. Tapi untuk mengejar waktu, saya paksa kaki saya untuk agak berlari sambil berdoa,"Tuhan, kalau memang Engkaumemanggilku untuk menjadi pendamping, jangan biarkan saya berjalan sendiridalam kegelapan pagi ini!"
Saya terus berdoa sambil ngos-ngosan. Ketika hampir sampai di jembatan yangterkenal angker itu, tiba-tiba terdengar suara keras seperti seng bergesek denganaspal. Jantung saya hampir copot! Tanpa sadar saya berteriak,"Tuhan Yesus,kenapa Kau biarkan saya sendiri!" Sayapun mendengar jawaban "Aya naon neng?!"
Ya, ampun! Ternyata di belakang saya berjalan seorang pemulung yang menarikgerobaknya. Sayapun hanya tersenyum malu. Kalau saja orang itu pendeta saya,pasti dia akan bilang "Di manakah imanmu, hai orang yang tidak percaya!"
Saya berusaha berjalan cepat mengikuti langkah si pemulung supaya saat ditanjakan yang terkenal angker itu saya tidak sendirian. Walaupun sayabersama pemulung itu, rasa takut saya tetap tidak berkurang, tetapi justrusemakin bertambah.
Jantung saya berdetak sangat cepat, ketika saya menemukan ingatan saya. Seingat saya, selama 4 tahun tinggal di kompleks itu, saya belum pernah bertemu dengan pemulung yang beroperasi di pagi yang buta.
Pagi itu saya sangat buru-buru. Panitia yang menjadwalkan untuk pengarahan pukul05.30 di UGD-RSUKI benar-benar sangat menyulitkan saya. Pagi itu sungguh-sungguhberbeda. Saya yang biasanya naik bis AC yang bersih, dengan tempat duduk yang empuk,pagi itu saya harus berdiri di bis jurusan Bogor-UKI kelas ekonomi yang kotor.
Tugas pertama yang harus kami lakukan sebagai pendamping adalah mengalungkanbunga kepada para pengemis dan gelandangan, serta membagi balon kepadaanak-anak yang masih sangat kecil.
Saya kembali bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, Engkau memberi saya talenta yang luar biasa. Tapi mengapa saya hanya mengerjakan tugas yang sangat sepele seperti ini?"
Suara hati saya pun menjawab,"Kalau bukan kamu, mau siapa lagi?" Sayapun masih berusaha memberontak "Masih banyak anak-anakMu yang bisa Kaupakai untuk mengalungkan bunga dan membagi balon. Biarkan saya mengerjakantugas yang lebih penting dan mulia, Tuhan!"
Kembali suara hati saya berkata,"Kalau semua anak-anakKu bersikap sepertikamu, siapa yang akan menyambut orang-orang miskin itu? Kalau kalian semuatidak mau melayaniKu dalam hal-hal yang sepele, apakah aku harus memanggilorang-orang yang bukan pilihanKu untuk melayaniKu?"
"Tapi, berikan saya tugas yang tidak sesederhana itu Tuhan!" saya masih menawar.
Suara hati saya pun kembali menaklukkan ke-aku-an saya. "Rendahkan dirimudi hadapanKu! Lakukan apa saja dengan penuh kasih, untuk Aku! Janganpikirkan dirimu lagi, tapi sambutlah para pengemis dan gelandangan itusupaya mereka merasakan damai Natal, karena sesungguhnya segala sesuatu yangkamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-KU yang paling hina ini, kamutelah melakukannya untuk AKU." Pagi itu saya diingatkan oleh perkataan TuhanYesus seperti yang tertulis dalam Matius 25:40.
Begitu para pengemis dan gelandangan itu datang, kami harus berbaur denganmereka. Kami berusaha untuk dekat dan menyambut mereka dengan hangat.
Anak-anak balita dalam gendongan ibunya memandang saya seolah ingin disambutjuga. Saya bisa memastikan, saat itu tidak ada tindakan yang lebih tepatselain menggendongnya. Melihat anak orang lain digendong, beberapa pengemismeminta saya untuk menggendong anaknya juga.
Lima menit pertama tidak masalah. Tapi menit-menit berikutnya, perut sayamual sekali. Anak-anak yang tergolong malnourished dan bau tak sedap dariompol yang bercampur dengan keringat dan bau "matahari", sangat jauh berbedadengan anak saya sendiri yang berkulit licin dan wangi.
Tiba-tiba saja produksi air liur saya langsung meningkat. Dan anehnya, dalam situasiseperti itu saya jijik sekali untuk menelan ludah sendiri.
Rasa ingin muntah sudah tidak tertahan lagi. Untung saja seorang pemuda memberi saya permen rasa mint, sehingga saya tak jijik lagi menelan ludah sendiri. Walaupunperut saya masih agak mual, saya tetap berusaha tersenyum dan mengajakmereka terlibat dalam obrolan yang hangat dan penuh kasih.
Saya kembali berbicara kepada Tuhan,"Tuhan inilah hadiah yang terindah dari saya untuk kaum papa! Tidak ada yang lebih indah yang bisa saya berikan kepada mereka,kecuali pengorbanan diri dan kerendahan hati. Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk merendahkan diri, menyambut dan melayaniMu”.

Saturday, February 05, 2005

Saya Tidak Percaya pada Allah yang Salah

BANDA ACEH-Gelombang pasang tsunami terjadi ketika sukacita Natal sedang pada puncaknya, pada Hari Natal Kedua 26 Desember 2004, 40 hari yang lalu. Sukacita Natal itu adalah kegembiraan umat manusia karena begitu bernilai di mata Allah sehingga "dihargai" senilai Putra Allah sendiri yang diutus-Nya dengan cinta ke dalam dunia. Namun, tsunami datang begitu saja merenggut ratusan ribu nyawa.
Maka timbullah konflik batin kerena tidak bisa mendamaikan suka cita Natal itu (manusia berharga di mata Allah) di satu pihak, dan fakta ratusan ribu orang mati oleh bencana sangat ganas di pihak lain. Dari konflik batin ini timbullah banyak pertanyaan, antara lain: apakah Allah sedang murka?
Bila Dia murka, apakah sebabnya dan mengapa harus orang-orang Aceh, Sumatra Utara, dan Nias, warga Asia dan Afrika timur? Atau kalau Allah tidak sedang murka, di manakah Dia saat bencana terjadi? Spakah Dia diam saja membiarkan ratusan ribu orang itu mati?
Sebagai anggota umat beriman, saya mengalami konflik batin ini, dan saya menduga, konflik batin yang sama juga menimpah sesama umat Allah. Saya mencoba menyimak dan membaca banyak khotbah, renungan, ulasan pada media massa, tetapi konflik batin saya belum juga teratasi. Saya mengalami kesulitan berikut ini: kalau Allah sedang murka (Allah beraksi), maka ini mengganggu iman saya tentang Allah Maha Baik, sedangkan kalau Allah membiarkan saja tsunami itu terjadi (Allah diam) juga mengganggu iman saya akan Allah Maha Baik.
Saya tiba di Kota Banda Aceh, Kamis (2/2) petang, membawa serta konflik batin yang sama. Dan ketika berkeliling di kota itu Jumat siang, menyaksikan langsung sisa bencana—dari wajah kota yang tampak berantakan terbayangkan ganasnya tsunami itu—pertanyaan-pertanyaan di atas timbul lagi dalam hati.
Saya masih terus mencari jawab, hal yang mendorong saya mampir ke Gereja Katolik Hati Kudus, Banda Aceh, yang terletak sekitar 500 meter dari Mesjid Raya Baiturrahman dipisahkan Kali Aceh.
Saya menjumpai Pastor Ferdinando asal Brasil, pastor kepala paroki Hati Kudus itu. Saya mengutarakan kepadanya konflik batin yang terus menghantui saya 40 hari terakhir. Ferdinando sendiri saat tsunami datang berada di Kota Meulabouh, pada jarak 500 meter dari pantai. Ia luput bersama segelintir orang karena berhasil naik ke lantai dua sebuah musalah.
Pastor yang sudah mengabdi 30 tahun di Indonesia ini bercerita, saat gempa, 30 menit sebelum tsunami, ia sedang membeli kue di toko yang sedianya akan diantarkan ke rumah warga yang sedang sakit. Ia langsung tiarap ke tanah dan dengan tangan terentang berteriak: "Kemuliaan kepada Allah di tempat maha tinggi dan damai di bumi di antara orang yang berkenan kepada-Nya."
Dengan rasa heran saya bertanya, mengapa Pastor justru mengucapkan kalimat itu dan bukannya teriak minta tolong kepada Tuhan Yesus. "Saya memuliakan Tuhan karena gempa itu begitu mengguncang, hal yang sangat dahsyat yang pernah saya alami," jawabnya. Dan saya bertanya lagi: Lalu bagaimana peristiwa dahsyat itu, gempa dan tsunami, dipandang dari kaca mata iman Pastor?
Ferdinando berkeberatan untuk menghubungkan begitu saja gempa dan tsunami itu pada Allah. Betapapun dahsyatnya, kata imam dari tarekat Fransiskan Konventual itu, bencana itu adalah tetap peristiwa alam yang biasa yang mungkin memang paling dahsyat dalam 100 tahun terakhir, tetapi bukan bencana satu-satunya yang paling ganas.
"Alam kita ini hidup, ia bergejolak dan bernafsu tak ubahnya manusia. Seperti juga kelakuan manusia dengan nafsu-nafsunya, alam pun demikian, dan itulah antara lain gempa dan tsunami itu," jelas Fernando.
"Allah tidak mau begitu saja menghentikan kebebasan yang telah diberikannya kcpada manusia, demikian juga atas gejolak alam yang diciptakan-Nya dengan begitu baik dari awal mula."
Secara tidak langsung, menurut Pastor yang sudah ubanan itu, tidaklah tepat untuk menghubungkan begitu saja peristiwa alam yang biasa itu pada Allah dan karenanya tidaklah relevan apakah Allah beraksi atau diam atas peristiwa itu.
Ia menekankan, sejak manusia meninggalkan Taman Eden—menurut cerita Alkitab—manusia memilih untuk hidup tanpa Allah dengan melanggar perintah Allah "Jangan makan dari buah pohon terlarang."
Dalam dunia tanpa Allah ini—kendati Yesus pun sudah diutus—manusia harus menanggung risiko dari pilihan awal meninggalkan Taman Eden itu. "Gempa dan tsunami adalah salah satu dari risiko itu," kata Fernando. "Salahlah omong kosong Tuhan sedang murka itu, atau ia sedang mencobai umatnya dengan bencana dahsyat, sebab Dia Allah Maha baik," katanya.
“Tetapi siapa yang tabah, tidak kehilangan iman oleh pengalaman-pengalaman pahit kehidupan dalam dunia pilihanuya sendiri, termasuk pengalaman bencana gempa dan tsunami, akan diimbali Allah dengan keselamatan surgawi," lanjutnya. "Anda tahu, saya selamat dari tsunami, tetapi ini berarti saya masih harus terus berupaya di hadapan Allah agar kelak diselamatkan-Nya dalam surga. Mereka yang sudah duluan, mungkin sudah duluan selamat dari kita," tambahnya.
Begitu Ferdinando menyebut Taman Eden, saya teringat wejangan seorang teman, juga seorang pastor, jauh sebelum peristiwa tsunami. Kata teman pastor itu, godaan terbesar bagi manusia adalah ingin menjadi seperti Allah. Itulah yang dilakukan Adam dan Hawa dengan makan buah dari pohon terlarang di Taman Eden.
Sekiranya saya bertemu lagi dengan teman pastor itu sekarang ini, sangat boleh jadi dia berkata, usai tsunami banyak orang tergoda mau menjadi Allah dengan mengutak-atik isi hati dan pikiran Allah, lalu kemudian dengan mudah Allah itu disalahkan entah Dia beraksi atau diam.
Entah kenapa, setelah bersalaman pamit dari Pastor Ferdinando dan ingatan singkat kata-kata teman pastor yang lain itu, hati saya merasa lega. Beban hati karena konflik berkepanjangan kini terhenti. Hati saya pun berkata: Saya tidak percaya pada Allah yang salah. (SH/john julaman).

Saturday, January 29, 2005

Kokok Setia Gereja Ayam

Oleh Martha Ringo

ANGKUTAN kota M-12 jurusan Senen-Kota yang saya tumpangi sedang terjebak macet di Jalan Samanhudi, Jakarta Pusat, saat celoteh-celoteh ini mengganggu lamunan. "Kenapa diberi nama Jalan Gereja Ayam, ya?" "Ooo, di sebelahnya kan, ada gereja yang ada patung ayamnya." "Kenapa ayam?" "Mungkin dulu ada peternakan ayam di sini. Atau karena di sekitar daerah ini banyak ‘ayam’-nya?" ungkap yang lain sambil menunjuk beberapa tempat hiburan yang tak jauh dari bangunan tua peninggalan Belanda itu. "Ah, kamu ada-ada saja," teman lain menimpali.
Penasaran. Saya mendongakkan kepala ke atas bangunan yang dimaksud. Tampak seekor ayam jago bertengger di puncak menara gereja. Sendirian. Dahi saya mengernyit. Ayam? Apa tidak salah?
Bangunan yang terletak di Jalan Samanhudi Nomor 12 ini pertama kali dibangun pada 1850. Saat itu masih berupa kapel atau gereja kecil. Lalu pada 1915, barulah bangunan yang tak jauh dari Pasar Baru ini dipugar menjadi gedung gereja yang cukup besar dengan kapasitas sekitar 1.500 orang. Arsitek Cuypers dan Hulswit merancang bangunan ini dalam perpaduan gaya Italia dan Portugis.
Interior bangunan kuno ini terbilang awet. Kursi, mimbar, dan perabotan lain yang terbuat dari kayu jati masih asli peninggalam zaman Belanda. Gedung gereja ini bahkan menyimpan sebuah Alkitab kuno cetakan 1855. Kitab ini hanya satu-satunya di Indonesia. Ada satu lagi kembarannya, itu pun tersimpan di Negerinya Ratu Julianan sono.
Selain tua, Alkitab ini terbilang unik lantaran ukurannya besar. Relief di Kitab Suci ini juga menawan. Usia yang sepuh membuat lembaran dan jilid Kitab ini sedikit rusak. Karenanya, buku ini sempat diboyong ke Belanda selama setahun untuk diperbaiki. Hingga kini, Alkitab ini tetap lestari.
Menilik sejarahnya, bangunan ini sempat direnovasi beberapa kali. Entah karena kerusakan akibat materialnya yang sudah lapuk atau lantaran tak memadai lagi melayani para jemaat. "Yang pasti perbaikannya hanya tambal sulam saja. Tidak mengubah bentuk asli," kata Gembala Sidang Gereja Ayam James Manahanti.
Pernah pula gereja yang semula dikenal dengan Gereja Baru ini diperbaiki gara-gara diserang massa pada peristiwa kerusuhan 1998. Secuil kisah mukjizat muncul dalam kejadian kelabu ini. Waktu itu, kata James, ratusan orang berusaha menerobos pagar untuk menyerang bangunan. Namun usaha tersebut gagal, padahal, gereja sedang tidak diamankan oleh siapapun. "Kami percaya ini adalah berkat Tuhan," ungkap dia.
Sebenarnya, bangunan ibadah ini mempunyai nama lengkap Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Pniel. Namun karena nama “ayam” sudah melekat sejak lama, orang lebih sering menyebutnya Gereja Ayam. Di zaman Batavia dulu, mulai dari ambtner gubernermen sampai kusir sado menyebutnya Haantjes Kerk.
Nama “ayam”, jelas James, sesuai sejarah, dipilih karena mengingatkan pada peristiwa penyangkalan Petrus terhadap Kristus. Injil mencatat ayam langsung berkokok tiga kali sesaat setelah Petrus membantah identitasnya sebagai murid Yesus.
"Maka diharapkan, setiap melihat lambang ini orang Kristen diingatkan agar setia pada Kristus," tutur James. Pejabat Gereja Ayam yang bergabung sejak dua tahun silam ini menambahkan ayam juga dianggap melambangkan kehidupan. Hewan jenis unggas inilah yang setiap pagi membangunkan segala makhluk dari tidur.
Gereja Ayam tak sekadar aset budaya. Tempat ibadah yang beranggotakan sekitar 2.000-an jiwa ini juga menjadi garam bagi masyarakat sekitar. Para hamba Tuhan di sana tak menutup mata bahwa kehadiran beberapa tempat hiburan di sekitar daerah ini menimbulkan efek tersendiri, seperti prostitusi, perjudian, dan obat-obatan terlarang.
Untuk itu, para pelayan Gereja Ayam berusaha bergaul dengan penduduk yang terlibat kegiatan-kegiatan itu. Salah satu caranya adalah dengan pendekatan ke rumah-rumah. Pelayan Gereja Ayam mendata umat Nasrani setempat dan melayani mereka dengan siraman rohani.
"Kami di sini merangkul umat. Beberapa orang yang dianggap sampah masyarakat pun, saya ketahui berjemaat di sini. Kami membangkitkan iman dan merangkul dengan kasih. Sesuai falsafah ayam yang membangunkan kehidupan di pagi hari," ucap James.
Melihat segala keunikan tersebut, pantaslah kalau Gereja Ayam dikategorikan aset budaya yang berharga. Ia sejajar dengan bangunan-bangunan tua lain yang beberapa masih bertebaran di kawasan Pasar Baru, seperti Masjid Lautze yang dibangun komunitas muslim Cina dan Vihara Tri Ratna yang dibangun sekitar pertengahan Abad XIX. Sejumlah wisatawan mancanegara, terutama dari Belanda, terhitung kerap bertandang ke sana.
Namun, James menyayangkan ketiadaan perhatian pemerintah pada gereja yang berdiri di lahan seluas 2.500 hektare ini. "Bangunan tua seperti ini kan butuh biaya pemeliharaan yang tidak kecil. Saya harap pemerintah daerah menyadari nilai sejarah yang terkandung di dalamnya," James berharap.
Menurut hamba Tuhan asal Sanger, Sulawesi Utara, itu saat ini pihak gereja tengah mengupayakan hal tersebut, antara lain dengan cara mengumpulkan informasi seputar sejarah dan nilai Gereja Ayam. Pemerintah diharapkan memasukkannya ke dalam ketegori cagar budaya sehingga pemerintah bisa membantu dalam hal biaya.
"Kalau hanya mengandalkan uang gereja dan jemaat, tidak cukup," James menegaskan. Ya, semoga pemerintah peduli, agar kokok Gereja Ayam tetap bergaung.
Kokok Setia Gereja Ayam

Oleh Martha Ringo

ANGKUTAN kota M-12 jurusan Senen-Kota yang saya tumpangi sedang terjebak macet di Jalan Samanhudi, Jakarta Pusat, saat celoteh-celoteh ini mengganggu lamunan. "Kenapa diberi nama Jalan Gereja Ayam, ya?" "Ooo, di sebelahnya kan, ada gereja yang ada patung ayamnya." "Kenapa ayam?" "Mungkin dulu ada peternakan ayam di sini. Atau karena di sekitar daerah ini banyak ‘ayam’-nya?" ungkap yang lain sambil menunjuk beberapa tempat hiburan yang tak jauh dari bangunan tua peninggalan Belanda itu. "Ah, kamu ada-ada saja," teman lain menimpali.
Penasaran. Saya mendongakkan kepala ke atas bangunan yang dimaksud. Tampak seekor ayam jago bertengger di puncak menara gereja. Sendirian. Dahi saya mengernyit. Ayam? Apa tidak salah?
Bangunan yang terletak di Jalan Samanhudi Nomor 12 ini pertama kali dibangun pada 1850. Saat itu masih berupa kapel atau gereja kecil. Lalu pada 1915, barulah bangunan yang tak jauh dari Pasar Baru ini dipugar menjadi gedung gereja yang cukup besar dengan kapasitas sekitar 1.500 orang. Arsitek Cuypers dan Hulswit merancang bangunan ini dalam perpaduan gaya Italia dan Portugis.
Interior bangunan kuno ini terbilang awet. Kursi, mimbar, dan perabotan lain yang terbuat dari kayu jati masih asli peninggalam zaman Belanda. Gedung gereja ini bahkan menyimpan sebuah Alkitab kuno cetakan 1855. Kitab ini hanya satu-satunya di Indonesia. Ada satu lagi kembarannya, itu pun tersimpan di Negerinya Ratu Julianan sono.
Selain tua, Alkitab ini terbilang unik lantaran ukurannya besar. Relief di Kitab Suci ini juga menawan. Usia yang sepuh membuat lembaran dan jilid Kitab ini sedikit rusak. Karenanya, buku ini sempat diboyong ke Belanda selama setahun untuk diperbaiki. Hingga kini, Alkitab ini tetap lestari.
Menilik sejarahnya, bangunan ini sempat direnovasi beberapa kali. Entah karena kerusakan akibat materialnya yang sudah lapuk atau lantaran tak memadai lagi melayani para jemaat. "Yang pasti perbaikannya hanya tambal sulam saja. Tidak mengubah bentuk asli," kata Gembala Sidang Gereja Ayam James Manahanti.
Pernah pula gereja yang semula dikenal dengan Gereja Baru ini diperbaiki gara-gara diserang massa pada peristiwa kerusuhan 1998. Secuil kisah mukjizat muncul dalam kejadian kelabu ini. Waktu itu, kata James, ratusan orang berusaha menerobos pagar untuk menyerang bangunan. Namun usaha tersebut gagal, padahal, gereja sedang tidak diamankan oleh siapapun. "Kami percaya ini adalah berkat Tuhan," ungkap dia.
Sebenarnya, bangunan ibadah ini mempunyai nama lengkap Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Pniel. Namun karena nama “ayam” sudah melekat sejak lama, orang lebih sering menyebutnya Gereja Ayam. Di zaman Batavia dulu, mulai dari ambtner gubernermen sampai kusir sado menyebutnya Haantjes Kerk.
Nama “ayam”, jelas James, sesuai sejarah, dipilih karena mengingatkan pada peristiwa penyangkalan Petrus terhadap Kristus. Injil mencatat ayam langsung berkokok tiga kali sesaat setelah Petrus membantah identitasnya sebagai murid Yesus.
"Maka diharapkan, setiap melihat lambang ini orang Kristen diingatkan agar setia pada Kristus," tutur James. Pejabat Gereja Ayam yang bergabung sejak dua tahun silam ini menambahkan ayam juga dianggap melambangkan kehidupan. Hewan jenis unggas inilah yang setiap pagi membangunkan segala makhluk dari tidur.
Gereja Ayam tak sekadar aset budaya. Tempat ibadah yang beranggotakan sekitar 2.000-an jiwa ini juga menjadi garam bagi masyarakat sekitar. Para hamba Tuhan di sana tak menutup mata bahwa kehadiran beberapa tempat hiburan di sekitar daerah ini menimbulkan efek tersendiri, seperti prostitusi, perjudian, dan obat-obatan terlarang.
Untuk itu, para pelayan Gereja Ayam berusaha bergaul dengan penduduk yang terlibat kegiatan-kegiatan itu. Salah satu caranya adalah dengan pendekatan ke rumah-rumah. Pelayan Gereja Ayam mendata umat Nasrani setempat dan melayani mereka dengan siraman rohani.
"Kami di sini merangkul umat. Beberapa orang yang dianggap sampah masyarakat pun, saya ketahui berjemaat di sini. Kami membangkitkan iman dan merangkul dengan kasih. Sesuai falsafah ayam yang membangunkan kehidupan di pagi hari," ucap James.
Melihat segala keunikan tersebut, pantaslah kalau Gereja Ayam dikategorikan aset budaya yang berharga. Ia sejajar dengan bangunan-bangunan tua lain yang beberapa masih bertebaran di kawasan Pasar Baru, seperti Masjid Lautze yang dibangun komunitas muslim Cina dan Vihara Tri Ratna yang dibangun sekitar pertengahan Abad XIX. Sejumlah wisatawan mancanegara, terutama dari Belanda, terhitung kerap bertandang ke sana.
Namun, James menyayangkan ketiadaan perhatian pemerintah pada gereja yang berdiri di lahan seluas 2.500 hektare ini. "Bangunan tua seperti ini kan butuh biaya pemeliharaan yang tidak kecil. Saya harap pemerintah daerah menyadari nilai sejarah yang terkandung di dalamnya," James berharap.
Menurut hamba Tuhan asal Sanger, Sulawesi Utara, itu saat ini pihak gereja tengah mengupayakan hal tersebut, antara lain dengan cara mengumpulkan informasi seputar sejarah dan nilai Gereja Ayam. Pemerintah diharapkan memasukkannya ke dalam ketegori cagar budaya sehingga pemerintah bisa membantu dalam hal biaya.
"Kalau hanya mengandalkan uang gereja dan jemaat, tidak cukup," James menegaskan. Ya, semoga pemerintah peduli, agar kokok Gereja Ayam tetap bergaung.

Saturday, January 22, 2005

“Love will Keep Us Alive”

Oleh Margareth Sandra

Biarpun warisan dari orangtua, kaset tua yang menyanyikan lagu-lagu grup Band Eagles itu masih suka kuputar. Beberapa lagu yang dilantunkan menyentuh, terutama karena kesederhanaan lirik dan melodinya. Ada satu lagu yang selalu terngiang di telingaku sejak beberapa minggu ini, judulnya Love will Keep Us Alive.
Lagu itu mengatakan bahwa cinta kasih memberi semangat hidup, sekaligus mengingatkan, bahwa hidup adalah berkah, yang mesti disyukuri dan diperjuangkan. Sederhana sekali. Hanya itu yang dikatakan.
Ingat lagu-lagu kanak-kanak gubahan Pak Kasur atau Pak AT. Mahmud? Kadang lagunya hanya terdiri dari empat baris kata, dan dengan melodi sederhana dalam satu tangga nada. Sampai sekarangpun, orang masih ingat lagu-lagu anak-anak yang dipelajarinya di Taman Kanak-Kanak. Tapi justru di sana letak keunikannya.
Orang akan mudah mencernanya dan sekaligus mengingatnya. Yang terutama, orang mudah menirunya, melakukannya. Tidak usah berpikir rumit bagaimana melakukannya, tidak perlu was-was bagaimana mengerjakannya. Dengarkan saja, dan lakukan.
Dan sederhana adalah abadi. Menyanyikan lagu gubahan Pak Kasur atau Pak A.T. Mahmud tak perlu harus dihapalkan berhari-hari sebelumnya, tapi toh kita ingat lagunya luar kepala sampai sekarang.
Aku tertegun waktu mendapat SMS (Short Message Service) dari seorang saudara sepupu, tepat pada malam tahun baru. Ia mengabarkan sedang berada di Aceh, sejak tanggal 27 Desember yang lalu. Dia seorang dokter muda yang sedang menyelesaikan pendidikan S2-nya, dan tergerak ketika terjadi bencana yang dahsyat itu. Bersama beberapa kawan, ia segera berangkat menuju Aceh, hanya dengan bekal seadanya, terburu-buru.
"Mengapa ke sana?"tanyaku. Adi malah balik bertanya,"Jika di depanmu seseorang terjatuh dan pingsan, apakah yang kamu perbuat pertama kali? Mencari-cari dan berpikir mengapa dia terjatuh? Mungkin mencari-cari kulit pisang yang telah membuatnya terpeleset, jatuh dan pingsan? Lalu kamu juga akan memilih-milih dulu warna angkot yang akan mengangkutnya ke klinik terdekat?"
Rasanya sekarang ini memang banyak orang yang sedang mencari-cari kulit pisang dan lebih banyak lagi yang sedang memilih-milih warna angkot yang akan membawa si sakit ke klinik. Semua berpikir rumit tentang apa, dan mengapa dan bagaimana,dan tak ada yang peduli dengan kesederhanaan cinta kasih, bahwa cinta kasih yang sederhana, yang memberi tanpa pamrih dan tanpa perhitungan untung dan rugi adalah bak sebuah mata air, sumber pengharapan untuk menguatkan kembali tali-tali rapuh kehidupan yang hampir putus.
Ya, cinta kasih adalah sumber pengharapan. Tapi memang, pandangan seorang Adi mungkin terlalu naif untuk ukuran taipan politik, yang penuh dengan gagasan terselubung dan segala intriknya, mulai dari kecurigaan terhadap bantuan asing sampai soal adopsi anak Aceh.
Ironisnya, luka yang sebenarnya belum terobati, dan hanya akan bertambah parah dari waktu ke waktu karena sibuk memikirkan segala yang rumit-rumit. Kalau nanti si sakit sudah sehat, terserah mau dinaikkan angkot warna apa; warna hijau boleh, putih silakan, pun angkot yang bergaris-garis tidak dilarang.
Marilah kita sekarang ikut bernyanyi, lagu yang sederhana saja, dan mudah diikuti dan dilagukan kembali dan bersama-sama membawa si sakit ke klinik terdekat, terserah dengan kendaraan apa saja.
Sehingga lagu sederhana itu, yang bernama Cinta Kasih, menggema dan menggaung di setiap sudut hati kita. Jangan diam saja, dengarkanlah lagunya, dan ikutlah melagukannya, dan semua orang akan mendengarkan suaramu dan ikut bergembira.
Di telepon sempat kutanya pada Adi,"...Lalu bagaimana dengan bayi yang kau tolong kelahirannya di pengungsian?".
Jawabnya singkat,"Aku hanya menolong persalinannya, dia selamat, mirip ibunya dan telah digendong oleh ibunya kembali.. Dan aku tak perlu tahu siapa nenek dan kakeknya dan kemana kelak ia akan pulang."
Berita dari Adi sempat terhenti, tak ada SMS lagi. Telepon genggamnya tak bisa dihubungi, SMS-ku tidak pernah sampai. Tapi aku masih menunggunya, dengan waswas, sambil terus berusaha.
Pada 7 Januari, Adi memberi kabar sekaligus permintaan,“Mbak, jika sore ini ke Gereja, mohon panjatkanlah doa-doa untuk mereka.”
Dan, sungguh, sore itu aku sempatkan datang untuk misa Jumat sore di Gereja, misa Jumat pertama. Dan seperti permintaan Adi, aku memohonkan doa bagi mereka yang telah menjadi bagian dari hatinya selama tiga belas hari terakhir ini.
Dan aku menyalakan sebatang lilin, berlutut di hadapan patung Bunda Maria bersama seikat bunga liar kering yang aku persembahkan.
Tuhan, terima kasih untuk semua yang terjadi dalam dunia ini, baik dunia di luar diriku; alam semesta, sesama, maupun dunia di dalam diriku; hati, pikiran, dan perasaan.
Terima kasih bahwa aku boleh mengalami semuanya ini, terutama untuk kesadaran bahwa Engkau selalu hadir dalam semua pengalaman itu, sekalipun pada saat-saat tertentu, aku tidak memahami rencanaMu.
Ya, Cinta Kasih sederhana yang menghidupkan! Baiklah, sekarang aku ingin ikut bernyanyi....

I was standing
All alone against the world outside
You were searching
for a place to hide

Lost and lonely
Now you've given me the will to survive
When we're hungry
Love will keep us alive

Don't you worry
Sometimes you"ve just gotta let it ride
The world is changing
Right before your eyes

Now I found you, there's no more emptiness inside.
When we're hungry, Love will keep us alive...!

Saturday, January 15, 2005

Spiritualitas Tsunami

BANDA ACEH – Gempa dan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan Aceh, Sumatera Utara, dan Nias menyisakan trauma pada diri setiap korban, tapi sekaligus juga jejak spritualitas. Masjid Raya Baiturrahman dan Gereja Katolik Hati Kudus yang masih berdiri kokoh di tengah bangunan di sekitarnya yang tinggal puing, menjadi pengalaman iman tersendiri pada diri para penganut agama samawi.
Masjid Raya Baiturrahman terletak di tengah-tengah Kota Banda Aceh yang seperti terpanggang dihajar tsunami pada Minggu (26/12) itu. Sementara Gereja Katolik Hati Kudus yang berjarak 100 meter dari Masjid Baiturrahman terletak hanya 10 meter dari Sungai Krueng Aceh, sungai yang membelah Kota Banda Aceh dan membawa air ke darat pada saat gelombang tsunami menerjang.
Satu kilometer dari Gereja Katolik Hati Kudus, sejumlah gereja lainnya juga seperti tak tersentuh tsunami, yakni Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB), Gereja Katolik Methodis dan Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Sebuah bangunan kelenteng yang berjarak sekitar 500 meter dari Gereja Hati Kudus, juga masih utuh.
Menariknya, keutuhan rumah ibadah ini tak hanya terjadi di tengah kota, tapi juga hingga sepanjang jalan-jalan kecil dan perkampungan di pinggir kota Banda Aceh. Masjid Rahmatillah adalah satu-satunya bangunan yang masih tegak berdiri di tengah reruntuhan bangunan lain di Lampuuk, Kecamatan Lhok Nga, Aceh Besar.
Masjid tersebut tampak kokoh terlihat dari Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh yang berjarak sekitar 3 km dari lokasi. Salah satu bagian fondasi masjid tersebut memang runtuh dan menyisakan lubang sedalam satu meter. Namun pilar-pilar masjid masih bisa menahan bangunan tersebut tidak ambruk. Plafon dan tiga kubah masjid masih dalam kondisi utuh.
Orang boleh berpendapat bahwa kokohnya rumah ibadah karena kualitas bahan bangunannya yang bagus. Namun, orang juga berhak menerjemahkan kenyataan ini sebagai sebuah penanda, sebagai pengingat-ingat terhadap hidup yang telanjur berjalan arogan. Setiap orang mendadak menjadi kaya secara spiritualitas.

Pertolongan
Bagi warga Lampuuk yang mengungsi di kampung Lamlhom, kekayaan batin ini seolah lengkap saat belasan orang dengan wajah bule mendatangi kampung tersebut, memberikan bantuan logistik dan obat-obatan tanpa imbalan, bahkan memberikan perhatian dengan ketulusan tak tergambarkan.
Daud (73), salah satu pengungsi dari Lampuuk, mencoba menggambarkan ketulusan ini lewat cerita tentang kaki. Beberapa warga Lampuuk yang selamat dari gulungan gelombang tsunami banyak yang mengalami luka parah di sekujur tubuh dan kaki. Empasan gelombang membuat tubuh mereka terbentur berbagai puing dan reruntuhan.
Beberapa orang yang memiliki sedikit pengalaman keperawatan mencoba mengobati luka ini dengan perlengkapan sekadarnya pada hari pertama saat bencana itu melanda. Akibatnya, bukannya sembuh, sejumlah luka yang mayoritas terdapat pada kaki tersebut justru bengkak dan bernanah karena tak dibersihkan sempurna saat dilakukan pengobatan.
Penyelamat dari sejumlah kaki infeksi ini adalah para dokter dan perawat berwajah bule itu. Para lelaki yang tak bisa mengucapkan Assalamualaikum dan para perempuan yang tak mengenakan jilbab.
Kaki-kaki bernanah tersebut dipegang dengan tangan mereka dan diletakkan di atas pangkuan. Mereka melakukan pengobatan dengan hati-hati dan sama sekali tak menunjukkan rasa jijik. Sementara itu, menurut cerita Daud, para dokter berwajah Melayu terkesan jijik dengan luka-luka tersebut dan menyuruh para pasien meletakkan kaki-kaki penuh luka tersebut di atas kursi sebelum memberikan obat kemudian.
Para relawan berwajah bule itu pula yang berkunjung rutin ke posko pengungsian Lamlhom yang berjarak 3 km dari Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh. Mereka datang dengan bantuan pangan dan obat-obatan, mengucapkan “Apa kabar” dan “Selamat Pagi” dengan bahasa Indonesia yang patah, menebar senyum ramah dan menyapa para pengungsi dengan nama. Nada saat melontarkan sapaan pun terasa hangat.
“Kami malu, mengapa justru mereka yang beda ras dan agama yang memperhatikan kami,” kata Daud.
Tiga hari setelah bencana terjadi, bantuan pertama yang datang ke desa tersebut berasal dari Yayasan Obor Berkat Indonesia, sebuah yayasan Kristen, padahal akses jalan ke wilayah ini cukup sulit untuk ditempuh.
Raihal (23), salah satu warga di Lamlhom yang turut membantu para pengungsi mengatakan kedatangan yayasan tersebut sangat membantu mengobati para pengungsi yang terluka.

Tak Berbatas
Negeri Serambi Mekkah ini, pascatsunami, mendadak dipenuhi dengan orang yang memiliki ras, suku, dan agama yang berbeda. Bantuan yang datang ke provinsi berbasis syariah Islam ini, tak hanya datang dari wilayah di sekitar Indonesia, tapi dunia.
Amerika Serikat, Australia, Singapura, Malaysia, Korea, Jepang, Prancis, Belanda, Yordania, Portugal, membanjiri provinsi tersebut dengan bantuan logistik, obat-obatan, peralatan transportasi, tenaga ahli, dan sejumlah relawan medis.
Bantuan kemanusiaan pada akhirnya memang tak bisa dibatasi oleh ideologi, negara, suku, maupun ras. Bantuan semacam itu muncul berdasarkan solidaritas antarmanusia. Sebuah perasaan senasib dan sepenanggungan yang dirasakan semua orang sebagai tanggung jawab kemanusiaan mereka, tanpa embel-embel “baju” yang mereka kenakan.
Jika kemudian solidaritas kemanusiaan ini dibumbui dengan pesan-pesan di luar kemanusiaan itu sendiri, politis maupun ideologis, maka yang muncul adalah manipulasi.
Di pekan pertama pascabencana, sempat beredar kabar bahwa terjadi tindak diskriminatif terhadap pengungsi yang berasal dari etnis Tionghoa dan beragama non-Islam. Namun, kabar ini dibantah oleh Ketua Umum Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (Inti) Eddy Lembong.
Menurutnya, suasana Aceh pascatsunami mirip dengan kondisi pascaperang dunia kedua. Semua serba tak teratur dan chaos. Jika ada orang yang meminta uang Rp 600.000 untuk menguburkan seorang warga Tionghoa yang menjadi korban tsunami, itu lebih didasari pada kebutuhannya terhadap uang tersebut, bukan tindak pemerasan terhadap warga Tionghoa.
Pengamatan di lapangan juga menunjukkan bahwa apa yang disebut penjarahan adalah ulah penduduk yang memungut barang-barang yang masih bisa digunakan di antara puing rumah dan bangunan yang runtuh. Sejumlah pertokoan yang mayoritas milik warga Tionghoa juga turut kena jarah.
Menyaksikan Kota Aceh yang hancur lebur dan warga yang mendadak menjadi kaum marginal, tanpa rumah dan tanpa uang satu sen pun, tindak penjarahan ini tak bisa dihakimi lewat ukuran moralitas, apalagi mengaitkannya dengan masalah rasialis dan diskriminasi ideologis.
Gempa berkekuatan 8,9 skala richter dan gelombang tsunami berkecepatan 800 km/jam yang menggulung kawasan Aceh tiga pekan lalu, selain meninggalkan duka, juga melahirkan sebuah spiritualitas baru bagi warga Aceh tentang kemanusiaan dalam arti yang sesungguhnya, tentang solidaritas yang tak mengenal batas agama, suku, ras, maupun golongan. (SH/fransisca ria susanti)

Saturday, January 08, 2005

Gereja Katolik Hati Kudus di Banda Aceh Tak Tersapu Tsunami

BANDA ACEH--Saya tercengang ketika menyaksikan sebuah bangunan tua masih berdiri kokoh, padahal rumah-rumah warga di sekitarnya sudah hancur tersapu oleh gelombang tsunami yang maha dahsyat pada Minggu, 26 Desember 2004. Bangunan kuno itu tak lain adalah Gereja Hati Kudus, satu-satunya gereja Katolik yang ada di Banda Aceh.
Gereja itu terletak hanya 10 meter dari Sungai Krueng Aceh, sungai yang membelah Kota Banda Aceh dan membawa air ke darat pada saat gelombang tsunami menerjang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Saya lebih terkesiap lagi saat mengetahui bahwa Pastor Ferdinando Severi, pastor di Gereja Hati Kudus yang berasal dari Italia dan berwarga negara Indonesia, ternyata juga selamat. Pada hari “Minggu hitam” ketika bencana terjadi, ia sedang berada di Meulaboh, Aceh Barat, untuk melayani umat. Ia berangkat ke Meulaboh hari Sabtu (25/12).
Menurut sumber SH, banyak orang Nasrani yang membuka posko di lapangan Neusu dan di kawasan Matai. Namun, SH belum menemukan data berapa jumlah korban dari kaum Nasrani.
Lantas saya pun teringat oleh kidung damai yang dilantunkan di gereja tersebut setahun lalu. Petang itu, pada Misa Natal 24 Desember 2003, lantunan Adzan Magrib bergema dari Tugu Daerah Modal yang menjadi Menara Utama Masjid Raya Baiturrahman, sekitar seratus meter dari gereja.
Di gereja yang dibangun oleh kolonial Belanda itu, ratusan umat Katolik, beberapa di antaranya berseragam biru tua (anggota Brigade Mobil), memasuki gerbang gereja dengan nyanyian puji-pujian sambil memegang lilin. Prosesi Misa pun berlangsung khidmat.
”Perayaan Natal malam ini kita persembahkan untuk perdamaian di Aceh,” ungkap Ferdinando Severi dari altar Gereja Hati Kudus. Dalam pesan Natal itu, Ferdinando menyatakan sudah sepatutnya umat Kristiani bersyukur dan bergembira karena diberi kesempatan untuk bernatal.
Pastor paroki yang membawahi zona Meulaboh Aceh Barat, Takengon Aceh Tengah dan Lhokseumawe Aceh Utara itu, mengingatkan dalam kondisi Aceh yang masih labil, umat Kristiani masih diberi kesehatan untuk berkumpul di gereja yang didirikan oleh kolonial Belanda pada tahun 1926 ini.
Gereja Hati Kudus dibangun sekitar tahun 1926 (diresmikan pemakaiannya 26 September 1926). Gereja kecil dengan dinding berwarna krem itu, memakai ornamen kaca warna-warni dan keramik empat warna. Letaknya berada tepat di depan Markas Komando Daerah Militer Iskandar Muda. "Gedung Kodam itu dulunya bagian dari gereja," ujar Pastor Ferdinando.
Keberadaan gereja dan umat Kristen di Serambi Mekkah ini tidak terlepas dari pendudukan Belanda. Diawali pembangunan Kapel Hati Kudus sekitar tahun 1885 dengan pastor pertamanya, Pastor Henricus Verbraak, SJ, yang tentara Belanda.
Seiring berjalannya waktu, jumlah jemaat gereja ini bertambah dan berubah; bukan lagi tentara, melainkan masyarakat sipil pribumi dan pegawai pemerintah serta pedagang warga Tionghoa. Pada tahun 1970-an, jumlah jemaat gereja ini mencapai 800 orang, melampaui kapasitas gereja yang hanya mampu menampung 400 orang.
Dalam setiap misanya, Pastor Ferdinando mengaku selalu meminta jemaatnya memohonkan perdamaian di Aceh dan mendoakan perdamaian bagi korban yang jatuh akibat konflik ini. Kecintaan Pastor Ferdinando terhadap Aceh dibawanya ke mana pun ia melangkah, bahkan saat ia menjalani operasi bypass jantung di Italia bulan November lalu.
“Saya operasi bypass sampai tiga kali. Saat masuk kamar operasi, saya berdoa, ’Tuhan, kupersembahkan hidupku untuk orang-orang Aceh dan selamatkanlah mereka’. Selesai operasi, saya langsung pulang ke Aceh. Saya tidak tahan (cuaca) dingin di Italia,” ujarnya.
Namun dalam kotbah Misa Natal 24 Desember 2003 lalu ia mengatakan, di Aceh setiap hari ada tujuh atau delapan orang meninggal akibat konflik. “Ini sangat menyedihkan. Mari kita berdoa bagi keselamatan korban-korban konflik di Aceh. Sebab Yesus datang untuk kedamaian dan keselamatan manusia,” kata pastor kelahiran Italia, 19 Desember 1934 itu.

ToleransiMengenai keberadaan gereja itu, Yosef Selevinman, Koordinator muda-mudi Katolik Gereja Hati Kudus, mengatakan,”Sebelum konflik dan hingga sekarang, misa dan perayaan Natal tetap dilakukan”.
Pemuda kelahiran Flores Nusa Tenggara Timur ini mengakui tujuh tahun lebih tinggal di Banda Aceh, pada awalnya agak waswas. Pasalnya dia berdiam di wilayah yang dikenal fanatik Islam.
Malahan sebelumnya, Yosef yang ahli mereparasi sepeda motor itu menduga tidak ada gereja di daerah paling ujung barat dari Pulau Sumatera ini. Namun, Yosef menemukan fakta yang jauh berbeda dengan didengar atau dibaca. ”Masyarakat di sini sangat toleran walaupun Aceh dinyatakan berlaku Syariat Islam,” ungkap pria berpostur sedang ini.
Keyakinan Yosef tidak berlebihan. Blak-blakan dia mengakui, selama perayaan Natal, pihaknya tidak pernah meminta pengawalan ketat dari pihak polisi untuk mengamankan misa atau perayaan Natal. Memang di depan gereja terlihat beberapa truk reo TNI atau polisi yang di badan truk bertuliskan “Allahu Akbar” dalam aksara Arab. Tapi itu adalah aparat yang mengikuti kegiatan rohani.
Sekitar satu kilometer dari Gereja Katolik Hati Kudus, terdapat Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB). Di sisi kiri GPIB, terdapat Gereja Katolik Methodis. Sekitar satu kilometer dari gereja ini, ada gereja HKBP.
Kantor Departemen Agama NAD mencatat, di seluruh Aceh terdapat 154 gereja dengan rincian di Aceh Barat (2), Aceh Utara (2), Aceh Jeumpa (2), Sabang (2), Aceh Singkil (22), Aceh Tenggara (120), Kota Banda Aceh (4). Naasnya, di Aceh Singkil, 17 gereja ditutup (13 Gereja Protestan dan 4 Gereja Katolik) sehingga tersisa 5 gereja untuk melayani sekitar 5.000 jamaah.
Penutupan gereja yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat atas desakan warga sekitar. Alasannya, gereja tersebut didirikan di permukiman warga yang mayoritas muslim.
Namun dalam bencana gempa bumi dan gelombang tsunami lalu, tidak hanya Gereja Hati Kudus yang utuh. Dari beberapa tinjauan SH di lapangan, di pantai Ulele, Lamjaneun serta Lampeuk, bangunan mesjid juga masih berdiri kokoh, padahal rumah-rumah warga di sekitarnya hancur. Entah ini semua pertanda apa. Yang pasti, bencana mengingatkan kita agar kembali kepada Sang Pencipta. (SH/murizal hamzah)

Saturday, December 18, 2004

Menguak Sinterklas yang Sebenarnya

Oleh Renne Kawilarang

Seperti halnya kota-kota lain di Inggris, para keluarga di Birmingham sejak awal Desember sudah sibuk berbelanja pernak-pernik, lampu, maupun hiasan Natal untuk dipajang di rumah mereka. Banyak kafe, bar, dan toko, walau pemiliknya ada yang beragama Muslim dan Hindu, juga ikut memasang pohon-pohon terang sebagai etalase untuk memikat pengunjung.
Namun pemandangan yang paling sering ditemui adalah orang-orang yang berdandan ala Santa Claus alias Noel Baba alias Sinterklas, tokoh favorit yang selalu muncul menjelang perayaan Hari Natal.
Mulai dari pergi ke bar untuk berpesta, mencari uang, sampai mengikuti turnamen lari maraton, pasti ada yang memakai topi atau kostum merah khas Sinterklas. Berunjuk rasa-pun juga memakai kostum Sinterklas seperti yang dilakukan akhir pekan lalu di London.
Berkat imajinasi para pujangga Amerika dan gencarnya iklan perusahaan minuman ringan Coca-Cola, tokoh suci asal Turki bernama Santo (St) Nicholas berubah menjadi kakek periang nan menggemaskan bernama Sinterklas yang membawa banyak hadiah dengan mengendarai kereta yang ditarik sekelompok rusa terbang dari Kutub Utara.
Seperti yang diberitakan harian “The Sunday Times” akhir pekan lalu, para ilmuwan telah merampungkan rekonstruksi wajah “Sinterklas” yang sebenarnya. Dengan memanfaatkan kecanggihan komputer seorang antropolog dari Universitas Manchester, Caroline Wilkinson, menyajikan wajah St.Nicholas dalam bentuk tiga dimensi.
Perupaan tersebut bersumber dari penelitian tulang tengkorak St. Nicholas yang dilakukan atas seizin Gereja Vatikan di Gereja San Nicola, Bari, Italia, pada dekade 1950-an.
Hasilnya sungguh berbeda dari rupa Sinterklas yang sering kita saksikan melalui berbagai iklan dan kartu ucapan. Seperti yang ditayangkan stasiun televisi BBC pada akhir pekan ini, wajah St. Nicholas yang sebenarnya, menurut versi komputer, merupakan seorang pria berewok berhidung patah berusia 60-an tahun yang sepintas lebih mirip seorang kriminal ketimbang seorang kakek yang lucu.

St. Nicholas yang Legendaris
Menurut data yang dihimpun situs lembaga sosial asal Amerika, St. Nicholas Center, Nicholas lahir pada abad ke-3, konon pada tahun 270, di Desa Patara, sebelah selatan Turki, yang dulu masih bernama Bynzantium di bawah kekuasan Kekaisaran Romawi.
Dia merupakan anak keluarga berada, namun Nicholas kecil menjadi yatim-piatu saat kedua orang tuanya wafat karena wabah penyakit.
Kepatuhannya atas ajaran cinta kasih kepada sesama yang dilakukan Yesus Kristus seperti yang tertulis di Alkitab membuat Nicholas tidak segan-segan menyisihkan kekayaan yang diwariskan orang tuanya kepada mereka yang berkekurangan, sakit, maupun yang sedang menderita.
Sifat kedermawanannya yang melekat membuat Nicholas muda mengabdikan dirinya untuk melayani sesama dengan menjadi uskup di Kota Myra. Nama Nicholas menjadi terkenal di penjuru Myra karena secara tulus membantu masyarakat yang lemah, para pelaut, dan sangat sayang kepada anak-anak.
Sifat welas asih Nicholas tak pelak menjadi legenda dan salah satunya yang terkenal, yaitu kisah seorang ayah dan tiga anak perempuannya yang hidup dalam kemiskinan. Demi menyambung hidup, tiada jalan keluar bagi ayah tersebut selain melepas ketiga putrinya sebagai pengantin.
Masalahnya, mereka tidak punya harta yang berharga sebagai mas kawin untuk memikat mempelai laki-laki. Menurut tradisi setempat, semakin berharga mas kawin yang disediakan, makin besar peluang untuk dipersunting laki-laki dari kaum berada.
Keajaiban terjadi di tengah kegundahan ayah tersebut, yang berencana melacurkan ketiga putrinya demi mendapatkan mas kawin. Tiga malam berturut-turut sekantung emas dilemparkan ke dalam rumah keluarga tersebut sebagai pengganti mas kawin.
Pada malam ketiga, ayah ketiga putri tersebut mengintip untuk mencari tahu siapa yang melempar kantung-kantung emas itu. Keesokan harinya dia tidak segan-segan untuk mengabarkan ke penjuru Kota Myra bahwa Nicholas-lah yang memberikan kebaikan kepada mereka.
Kisah tersebut akhinya memunculkan tradisi di negara-negara Barat bahwa menjelang hari Natal anak-anak membantu orang tua mereka memasang beberapa kantung atau kaus kaki panjang di dekat Pohon Terang. Siapa tahu Sinterklas akan menaruh hadiah di kantung-kantung tersebut pada suatu malam.
Selain itu ada juga cerita bahwa yang dilempar Nicholas kepada rumah keluarga miskin tersebut bukanlah tiga kantung emas melainkan bola-bola emas. Itulah sebabnya Sinterklas juga disimbolkan dengan tiga bola emas, yang bisa juga diganti dengan jeruk.
Nicholas juga dikabarkan sempat mendekam di penjara dan menjalani masa pengasingan atas perintah Kaisar Diocletian, yang sangat antikristiani. Konon sebagian besar penghuni penjara Romawi merupakan para uskup dan kaum rohaniwan ketimbang bramacorah maupun pembunuh.
Setelah bebas, Nicholas tetap setia menjadi pengikut Kristus dan menerapkan ajaran cinta kasih kepada umat dan masyarakat sekitar hingga akhir hayatnya pada tanggal 6 Desember 343 dan dimakamkan di gereja di Myra. Tidak lama kemudian dia dianugerahi gelar oleh Gereja Vatikan sebagai orang suci (Santo). Tanggal wafatnya diperingati sebagai hari perayaan Santo Nicholas.

Jasadnya Diperebutkan
Sayang, kepicikan kalangan rohaniwan Kristen Eropa di abad pertengahan membuat jasad St.Nicholas tidak dapat beristirahat dengan tenang dan diperlakukan sebagai barang dagangan karena dianggap benda keramat untuk menarik minat banyak peziarah sehingga mendatangkan keuntungan bagi tempat ibadah dan kota setempat.
Menurut data dari The Sunday Times Magazine, konon beberapa gereja memiliki potongan tulang belulang St. Nicholas. Tiga gereja di Prancis mengklaim memiliki beberapa tulang St. Nicholas, seperti di gereja di Toulouse yang menyimpan tulang jari, gereja di Rimini yang mengoleksi tulang lengan, sedangkan di Corbie menyimpan potongan gigi.
Namun yang paling terkenal adalah gereja di Bari yang menyimpan tengkorak St. Nicholas hasil curian dari kuburan di gereja di Turki. Pada awal bulan Mei 1087, sekelompok tentara bayaran dan pelaut Kristen asal kota Bari, Italia, berhasil menyelinap ke kota pelabuhan Myra di sebelah selatan Turki menuju ke suatu biara. Di biara tersebut, konon mereka berhasil mencuri tulang belulang St. Nicholas. Pencurian tersebut sampai kini tetap dikenang melalui prosesi tahunan yang dilakukan setiap tanggal 6 Mei di lepas pantai Bari.
Gereja San Nicola, Bari, yang menyimpan tulang-belulang curian tersebut kini menjadi salah satu tempat ziarah paling favorit di Eropa. Menurut pakar sejarah teologi dari Universitas Oxford, Pendeta Alister McGrath, kepemilikan tulang-belulang St.Nicholas di beberapa gereja terkait dengan pemahaman bahwa kepemilikan benda-benda keramat erat kaitannya dengan doktrin kekuasaan gereja di abad pertengahan.
“Makin banyak benda keramat yang disimpan di suatu gereja, makin besar pula dominasi gereja tersebut di tengah banyaknya tempat ibadah. Ziarah mendatangkan bisnis dan kepemilikan benda-benda keramat dari orang suci menarik banyak turis,” kata McGrath.

Evolusi menjadi Sinterklas
Di Eropa hari wafatnya Santo Nicholas, 6 Desember, ditetapkan sebagai hari raya. Tradisi tersebut muncul berkat kebiasaan yang dilakukan para biarawati Prancis pada abad ke-12.
Diilhami dari kisah “tiga kantung emas” tersebut, pada malam hari raya Santo Nicholas para biarawati selalu membagikan hadiah kepada keluarga-keluarga miskin berupa kacang, jeruk, dan manisan yang dibungkus dalam kantung. Kebiasaan tersebut menyebar ke daerah-daerah di sekitar Prancis dan akhirnya menjadi tradisi di penjuru Eropa.
Namun pada abad ke-16, popularitas perayaan St. Nicholas mengundang kegundahan bagi kalangan rohaniwan gereja Protestan di Jerman dan Belanda yang meyakini bahwa tokoh yang sepatutnya disembah hanyalah Yesus Kristus.
Mulanya kalangan gereja sempat melarang masyarakat membawa dan membagikan manisan di hari raya St. Nicholas, seperti yang terjadi di Amsterdam. Namun larangan tersebut hanya mengakibatkan kemarahan dan pembangkangan dari masyarakat dan akhirnya tidak populer.
Tradisi perayaan St. Nicholas kemudian diperkenalkan para imigran Belanda di Amerika Serikat (AS). Namun di negeri Paman Sam itulah citra St. Nicholas secara bertahap “dipercantik” oleh para pujangga setempat dari sekadar orang baik dan suci menjadi seorang kakek sakti yang gemar berkelana.
Mula-mula seorang penulis bernama Washington Irving pada tahun 1809 mencitrakan St. Nicholas sebagai pelindung Kota New York yang berkelana dengan kuda. Pada tahun 1822, pujangga bernama Clement C. Moore melalui sajaknya A Visit from St. Nicholas berkhayal bahwa St. Nicholas mengendarai kereta yang ditarik rusa-rusa terbang untuk membawa hadiah kepada anak-anak baik melalui cerobong asap rumah.
Kemudian seorang kartunis bernama Thomas Nast dalam koran Harper’s Weekly pada tahun 1860 menggambarkan tampilan fisik St. Nicholas sebagai orang tua yang menghisap cerutu, berjanggut putih lebat, dan memakai ikat pinggang besar. Sejak saat itu St.Nicholas dirubah namanya menjadi Santa Claus atau Sinterklas.
Kartu natal yang menggambarkan Sinterklas memakai jubah merah sebenarnya pertama kali muncul pada tahun 1885. Namun pihak yang paling berperan memperkenalkan Sinterklas dengan tampilan seperti di atas adalah perusahaan minuman ringan, Coca- Cola.
Selama lebih dari 30 tahun berturut-turut sejak 1931, setiap kali menayangkan iklan bertema Natal, Coca-Cola sukses mempertahankan wujud Sinterklas sebagai kakek tambun berjanggut putih, periang, berkelana dengan kereta yang ditarik sekelompok rusa terbang sambil membawa hadiah untuk anak-anak. Karakter St. Nicholas yang bersahaja akhirnya tergantikan oleh Sinterklas yang lucu dengan tawanya yang khas ho..ho..ho..ho.
Tampilan Sinterklas yang periang dengan pipi tembam kemerah-merahan versi khayalan para pujangga Amerika dan Coca-Cola lebih menarik ketimbang perkiraan rupa asli St.Nicholas versi komputer yang terlihat menyedihkan dan tidak komersil. Namun yang jelas tampilan Sinterklas tersebut berhasil menggeser karakter asli St. Nicholas, seperti yang diungkapkan seorang pengusaha asal Turki, Sami Dundar, kepada harian The Wall Street Journal.
Bila St.Nicholas menjadi suri teladan bagi umat Kristiani, menurut Dundar, Sinterklas justru bukan mewakili agama manapun. “Dia adalah industri,” kata Dundar suatu ketika.

Penulis adalah seorang wartawan, tinggal di Birmingham