Thursday, January 08 2009
:: http://pendeta-gki.berteologi.net :: - Joomla - the dynamic portal engine and content management system :: HTTP://PENDETA-GKI.BERTEOLOGI.NET ::
HomeLinksContact UsNews FeedsCreditsGuest Book
Home arrow Article arrow Refleksi arrow Bulan Sabit dan Salib yang Warnanya Sama-sama Merah
Main Menu
Home
Links
Contact Us
News Feeds
Credits
Guest Book
Content Menu
Article
Downloads
Glossary
Blogorum Pastorale
Search
Login Form





Lost Password?
No account yet? Register
Index Articles
0-9 A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Bulan Sabit dan Salib yang Warnanya Sama-sama Merah PDF Print E-mail
Written by Yolanda Pantou   
Monday, 18 September 2006
 

Minggu lalu saya berkesempatan pergi ke Jogjakarta menengok daerah bekas bencana. Ketika kami sampai di bandara, ada beberapa penjemput yang membawa papan bergambar palang merah dan bulan sabit merah. Tentunya saudara tahu apa arti kedua gambar itu. Palang merah, atau red cross adalah lambang organisasi kemanusiaan berskala internasional yang bergerak dalam memberi pertolongan bagi manusia yang sedang mendapat kesulitan tanpa membedakan suku bangsa maupun agama. Sementara bulan sabit merah juga menjadi tanda dari lembaga kemanusiaan yang memiliki visi yang sama.

 

BULAN SABIT DAN SALIB YANG WARNANYA SAMA-SAMA MERAH

Oleh : Yolanda Pantou

 

Minggu lalu saya berkesempatan pergi ke Jogjakarta menengok daerah bekas bencana. Ketika kami sampai di bandara, ada beberapa penjemput yang membawa papan bergambar palang merah dan bulan sabit merah. Tentunya saudara tahu apa arti kedua gambar itu. Palang merah, atau red cross adalah lambang organisasi kemanusiaan berskala internasional yang bergerak dalam memberi pertolongan bagi manusia yang sedang mendapat kesulitan tanpa membedakan suku bangsa maupun agama. Sementara bulan sabit merah juga menjadi tanda dari lembaga kemanusiaan yang memiliki visi yang sama.

Saya sendiri baru tahu tentang bulan sabit merah ini sejak peristiwa tsunami tahun 2004 di Aceh. Agak kuper memang, tapi sebelumnya yang saya tahu Palang Merah Internasional, atau The International Committe of the Red Cross (ICRC) hanya punya satu lambang, ya palang merah itu. Namun rupanya sudah sejak lama palang merah tidak sendirian menjadi lambang organisasi ini.

Berawal di tahun 1859 ketika Henry Dunant, seorang warga negara Swiss melihat penderitaan lebih dari 45000 tentara yang terluka tanpa ada yang merawatnya, ia mengajukan usul untuk mendirikan suatu lembaga yang berperan merawat para tentara dalam medan perang tanpa dapat dilukai. Maka pada tahun 1863 sampai tahun 1864 dibentuklah lembaga tersebut, dengan tanda palang merah, kebalikan dari bendera negara Swiss. Tanda ini dimaksudkan untuk memperjelas bahwa orang-orang yang membawanya adalah tenaga medis yang tak boleh dilukai dalam perang.

Tentunya kata cross untuk palang di sini bisa juga diterjemahkan menjadi salib, yang identik dengan kekristenan. Itulah akibatnya pada masa perang antara Rusia dan Turki, tahun 1876 - 1878, Kekaisaran Ottoman keberatan jika harus menggunakan lambang palang merah. Mereka menggunakan lambang bulan sabit merah untuk kelompok medis dari kelompok mereka. Penggunaan ini tidak hanya pada saat itu, tapi terus berlanjut dan telah diresmikan pada tahun 1892. Saat ini 151 negara menggunakan lambang palang merah, dan 32 lainnya  menggunakan lambang bulan sabit merah.

Selain bulan sabit, ada lagi Perisai Daud, yang digunakan oleh negara Israel untuk menunjukkan identitas mereka. Walaupun keberadaan lambang tersebut tidak diakui secara resmi oleh konferensi di Jenewa. Sebaliknya, konferensi di Jenewa berusaha untuk memikirkan satu lambang baru yang tidak bermuatan penafsiran keagamaan apa pun. Pada tahun 2005 diresmikanlah lambang ketiga yaitu Kristal Merah, sebuah lambang berbentuk wajik berwarna merah. Dan pada tanggal 20 - 21 Juni 2006 ini diadakan lagi pertemuan di Jenewa untuk mengamandemen keberadaan lambang ketiga ini sebagai lambang yang resmi dari gerakan kemanusiaan tersebut.

Luar biasa perjalanan panjang yang harus ditempuh dari tahun ke tahun, bahkan melalui tiga abad untuk bicara tentang lambang. Hal ini menunjukkan bahwa yang namanya ‘lambang' dalam hidup manusia tidak bisa dianggap tidak berarti. Manusia memang makhluk yang berbahasa, dan bahasa salah satunya dinyatakan dalam lambang dan simbol. Jadi tidak bisa dianggap remeh kalau Anda memberi suatu lambang yang salah dan orang menjadi senang atau marah karenanya. Misalnya ketika Anda memberi bunga kamboja kepada orang yang sedang berulang tahun, yah jangan disalahkan kalau Anda tidak diundang lagi ke ulang tahunnya yang akan datang.

Demikian juga kehidupan di dalam gereja. Walaupun gereja kita tidak sesarat gereja Katolik dalam pemilikan dan pemaknaan simbol-simbol, gereja kita tetap memiliki simbol-simbol atau lambang-lambang tertentu yang menunjukkan suatu makna teologis tertentu yang tidak dimaksudkan untuk dianggap remeh, walau tidak perlu menjadi tujuan ibadah. Maksudnya kita tidak beribadah kepada lambang, tetapi kita tidak bisa seenaknya meniadakan lambang. Contohnya, kita tidak beribadah atau berdoa kepada salib, tapi kita tidak bisa tiba-tiba mengajukan usul agar di belakang mimbar sebagai ganti salib kita pasang saja foto anggota jemaat teladan atau foto pendeta jemaat.

Hal yang sama dengan Perjamuan Kudus. Ketika kita mengambil bagian dalam Perjamuan Kudus, makan roti dan minum anggur, kita tidak bisa menganggapnya sebagai basa basi belaka. Roti dan anggur itu melambangkan tubuh dan darah Kristus yang tercurah untuk menebus dosa manusia, yaitu kita. Ketika kita mengambil bagian di dalamnya berarti kita menyatakan bahwa kita menerima penebusan itu dan tidak lagi hidup seturut dengan kemauan kita sendiri, melainkan sesuai dengan kehendak yang menebus kita.

Oleh karena itu untuk menyiapkan diri diadakan sensoramorum selama tiga minggu berturut-turut dalam ibadah minggu sebelum diadakan Perjamuan Kudus. Sensoramorum artinya adalah pemeriksaan diri, sudahkah hidup kita selama ini berpadanan dengan Injil Tuhan, sudahkah kita melakukan kehendak Tuhan.

Namun sering kali baik sensoramorum maupun Perjamuan Kudus sendiri sudah merosot nilai dan maknanya. Sementara di beberapa gereja beraliran lain Perjamuan Kudus begitu diagung-agungkan, sampai ada yang membawa pulang roti perjamuan untuk diberikan kepada orang yang sakit, di gereja kita makna menjadi satu dengan Kristus dan melakukan kehendakNya semakin memudar. Ketika kita ambil bagian dalam Perjamuan Kudus kita masih saja memiliki kebencian dalam hati. Pulang dari ibadah kita masih suka melakukan dosa. Dalam mengelola berkat Tuhan kita masih hanya memikirkan diri sendiri, dan seterusnya.

Kalau lambang untuk lembaga kemanusiaan yang tujuannya sama-sama menolong orang saja bisa melalui proses yang begitu panjang dan serius, tidakkah seharusnya kita lebih memaknai dengan serius lambang-lambang religius yang ada dalam hidup kita bergereja? Dan tentunya dengan terutama melakukan makna yang terkandung dalam lambang-lambang tersebut.

 

Comments
BH, boksu IP:61.94.128.116 | 2006-09-19 04:59:16
Refleksi sederhana, namun mengandung dan mengajar makna yang dalam. Tq bu pnt Yola.
Quote
Write comment
Name:
Title:
BBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
< Prev   Next >
Invite your friends to see this site
 10 left
Check Invites
Ujar Bijak Eka

Seorang “pemimpin” yang baik harus mau menjadi “pengikut” yang baik. Tidak hanya pintar bekoar, tapi juga mesti peka mendengar. Tidak sekadar mahir dan gemar mendamprat, tapi harus pula bersedia taat dan hormat. Dengan itulah ia memperlihatkan kualitas karakter dan kepribadiannya. Seorang “pemimpin” yang bajik harus terlebih dahulu lulus sebagai “hamba” yang baik.

Statistics
 
Template source from Ades Design. Converted to Mambo template by Your Mambo Design.
© 2009 :: http://pendeta-gki.berteologi.net ::
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.
 
Home     Links     Contact Us     News Feeds     Credits     Guest Book