17 November 2008

Matius 11:28-30: PIKULLAH DAN BELAJARLAH (Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.)

Ringkasan Khotbah : 3 September 2006


PIKULLAH DAN BELAJARLAH

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.



Nats: Mat. 11:28-30



Abad 20 merupakan abad di mana filsafat posmodern berkembang dengan pesat. Hal ini terlihat jelas, banyak orang menegakkan otoritas diri. Machiavelli yang disebut juga bapak penguasa menyatakan untuk memerintah dunia haruslah dengan otoritas. Dari sini, orang berpikiran negatif tentang otoritas, orang mengontraskan konsep penguasa dengan konsep demokrasi dan menganggap konsep penguasa lebih kejam daripada konsep demokrasi. Pandangan yang keliru, kalau kita perhatikan, konsep penguasa dan konsep demokrasi ini sama-sama memaksakan kehendak dan bersifat diktator. Bedanya, konsep penguasa pemegang otoritasnya satu orang sedang konsep demokrasi pemegang otoritas banyak orang. Kedua konsep tiran ini menimbulkan kebencian dalam diri Michael Foucoult tetapi toh kebencian pada otoritas ini tidak menghilangkan konsep otoritas itu, ia mengalihkan otoritas itu ke dalam dirinya, dengan kata lain ia mau menyatakan bahwa hanya dirinyalah yang berotoritas dan di luar itu, orang mati. Sampai hari ini kebencian terhadap otoritas itu tidak hilang, hal ini ditandai dengan munculnya berbagai macam opini maupun aliran yang pro dan kontra. Pada saat yang sama, setiap orang ingin menegakkan otoritas dan tidak mau tunduk kepada orang lain karena ia menganggap diri itu adalah kebenaran. Akibatnya orang langsung bereaksi negatif ketika mendengar segala hal yang berbau perintah tak terkecuali dengan Firman Tuhan, orang langsung melawan apa yang menjadi perintah Tuhan.

Dalam Injil Matius, dengan jelas Tuhan Yesus memerintahkan: pikullah dan belajarlah (Mat. 11:29). Perintah untuk belajar di sini bukan belajar dalam hal materi. Tidak! Dunia selalu berpikir kalau belajar itu belajar apa? Salah! Konsep belajar yang Tuhan ajarkan adalah belajar siapa? Orang langsung bereaksi negatif ketika mendengar suatu perintah apalagi kalau perintah itu dikenakan atas dirinya. Pertanyaannya kenapa manusia sulit menerima perintah? Ada 3 aspek yang mendasari kenapa orang sulit menerima perintah dan hal ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi kita, yaitu:
1. Paranoid
Paranoid merupakan salah satu penyakit jiwa di mana orang selalu merasa ketakutan dan tidak ada sebab-sebab pasti kenapa orang merasa takut. Ia selalu menganggap orang lain sebagai musuh yang akan mencelakakan dirinya. Pertanyaannya adalah apa yang menjadi penyebab orang menjadi paranoid? Dosa menyebabkan orang selalu takut, dan ketakutan ini sifatnya laten. Sesungguhnya, orang sadar kalau ia telah berbuat bersalah dan kesalahan itu harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Orang mencoba melupakan hal ini dengan cara menekan setiap permasalahan ke dalam diri sendiri tapi hal itu malah menjadikan orang berbeban berat. Seorang anak yang berbuat salah tapi ia tidak mau mengakui perbuatannya karena takut kena marah dan dihukum ayahnya maka ia menyimpan dosa itu. Akibatnya, ia menjadi paranoid, ia takut terhadap siapa pun, ia takut kalau-kalau perbuatan dosanya diketahui orang lain. Penundaan hukuman justru memunculkan hukuman-hukuman lain di mana hal itu seharusnya tidak perlu kita alami. Sadarlah, kita tidak bisa lepas dari penghukuman sebagai akibat dari perbuatan dosa; keadilan Tuhan nyata nyata atas orang-orang berdosa, cepat atau lambat hukuman itu pasti tiba. Satu-satunya cara supaya orang lepas dari beban adalah orang harus kembali pada Tuhan, kita akan mendapatkan kelegaan kalau kita mengakui segala perbuatan dosa kita.

2. Sombong
Orang selalu merasa dirinya itu lebih dari segala-galanya dari orang lain; orang hanya mau memerintah tapi tidak mau diperintah. Itulah sebabnya, orang selalu melawan ketika ia diperintah. Bandingkan antara perintah Tuhan Yesus dan perintah dunia. Dunia memerintah dengan otoritas dan arogan bahkan kalau perlu dengan kekerasan sebaliknya, Kristus memerintahkan pada kita untuk kembali pada-Nya karena Dia lemah lembut dan rendah hati. Ketika manusia merasa diri lebih dari yang lain maka itu merupakan titik fatal, orang akan sulit mengerti dan menanggapi suatu perintah.

3. Egois
Manusia berdosa tidak suka dengan sesuatu yang benar, yang baik, yang adil, yang suci, dan yang mulia. Manusia hanya suka pada apa yang menyenangkan dirinya. Inilah yang menjadi konsep dasar egoisme. Orang egois selalu memperjuangkan apa yang menjadi keinginan dirinya, yakni bagaimana diri disenangkan. Jiwa utilitarianistik dan jiwa hedonis menjadi citra dalam diri mereka, ia selalu berpikir, bagaimana ia mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Pernahkah terpikir oleh kita kalau sesungguhnya kita telah mempengaruhi orang lain untuk berpikir sama seperti kita? Bayangkan, kalau setiap orang ingin mendapatkan keuntungan maka yang jadi korban pertama tentu saja, orang terdekatnya. Jelaslah bahwa jiwa hedonis menjadi dasar konsep utilitarian. Jiwa hedonis ini telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat, itulah sebabnya kita sulit menyadarkan orang untuk kembali pada kebenaran sejati.

Perintah yang ditegakkan berdasarkan konsep paranoia, kesombongan, dan berjiwa hedonis dan egois menjadikan dunia semakin kacau. Dan yang lebih celaka, tanpa kita sadari kita terjebak masuk dalam perputaran otoritas sistem dunia. Ketika kita melihat perintah, kita melihat arogansi dan egois si pemberi perintah, itu membangkitkan kebencian dan arogansi dalam diri, tapi kita tidak dapat melawannya maka kitapun memerintah orang lain dengan arogansi yang sama maka itu menjadi putaran arogansi. Di satu sisi, kita tidak suka dengan perintah dan benci tetapi di sisi lain, ternyata kita berlaku sama seperti mereka. Betapa semakin kacau dan rusaknya dunia ini kalau perputaran perintah yang arogan ini terjadi dalam keluarga, gereja ataupun masyarakat.

Kalau kita perhatikan, orang tidak peduli dengan perintah yang berbentuk past karena sudah lewat, dan perintah yang berbentuk future sebab perintah tersebut belum berlaku. Orang hanya peduli pada perintah yang bentuknya present, perintah yang sedang berlaku hari ini. Tuhan Yesus memberikan perintah yang berbeda dengan dunia. Alkitab memberikan suatu tenses lain, yakni aorist tense (Yunani) artinya perintah tidak bergantung pada waktu dan subyeknya. Immanuel Kant menyebutnya sebagai categorical imperatif dan pada abad pencerahan, konsep Kant ini merupakan teori moral yang terbesar dibandingkan teori lain yang ia cetuskan. Bagi Kant, kalau saya berbuat baik, kenapa? maka tidak ada alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu sebab berbuat baik merupakan hakekat dasar yang bersifat mutlak dan tidak dapat ditiadakan. I do it because it is onthological absolute necessity. Jauh sebelumnya, Tuhan Yesus telah mengajarkan prinsip ini, sesuatu absolut harus kembali pada kekekalan dan kebenaran Allah. Kata perintah yang digunakan Kristus ini berbentuk auris imperatif artinya perintah ini diberikan kepada manusia bukan untuk menyusahkan manusia tapi demi kebaikan kita.

Ironisnya, manusia menganggap Tuhan hendak memanipulasi manusia maka tidaklah heran kalau manusia selalu melawan perintah Tuhan, salah satunya perintah Kristus yang berbunyi: “Barangsiapa mau mengikut Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku” disikapi paranoia, orang langsung berpikir negatif tentang Kristus. Tidak sadarkah kita kalau musuh terbesar adalah diri sendiri, orang banyak berbuat dosa justru ketika ia tidak menyangkal diri. Jadi, menyangkal diri adalah demi kebaikan kita. Demikian juga halnya ketika Tuhan memerintahkan pada kita untuk memikul kuk dan belajar pada-Nya itu untuk kebaikan kita. Perintah Tuhan itu sifatnya absolute necessity, categorical imperatif – mutlak harus kita lakukan, tidak ada kemungkinan lain yang lebih baik kecuali orang kembali pada Tuhan dan perintah itu sifatnya kekal; kita harus lakukan perintah itu terus menerus. Namun dunia tidak suka dengan segala sesuatu yang “berbau“ perintah, orang hanya menjalankan perintah ketika ia diawasi sebaliknya, perintah itu akan langsung dilanggar ketika ia tidak berada dalam pengawasan. Di dunia modern ini jarang sekali kita temukan bahkan dalam diri orang Kristen yang mempunyai konsep: melakukan yang terbaik di manapun ia berada. Tuhan ingin kita melakukan perintah-Nya secara terus menerus dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan baik.

Perintah Tuhan seharusnya menyadarkan manusia akan kasih Allah. Segala sesuatu yang Tuhan kerjakan adalah untuk kebaikan kita dan ingat, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk manusia daripada manusia itu sendiri. Allah adalah Baik, Dialah sumber segala kebajikan yang ada di dunia ini. Manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah juga mempunyai semua kebajikan itu tapi sifatnya relatif dan derivatif (turunan). Dosa membuat konsep kebajikan menjadi rusak. Ironisnya, manusia masih berpikir kalau ia lebih baik dari Tuhan; manusia berpikir kalau kuk yang sekarang ditanggungnya lebih enak daripada kuk Tuhan. Salah! Memikul kuk Tuhan justru jauh lebih enak dan beban pun menjadi ringan. Terkadang kita tidak mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan namun satu hal yang pasti, Tuhan tidak akan membawa anak-Nya menuju pada kebinasaan. Sangatlah sulit menjalankan kekuasaan, perintah dan demokrasi secara sinkron. Hal ini disadari oleh A. S. Hikam, tokoh politik sekaligus tokoh muslim yang mempertanyakan bagaimana caranya supaya orang bisa berjiwa asketik, jiwa rela berkorban. Dunia tidak akan berterima kasih ketika ada orang lain yang berkorban untuknya, orang selalu menginginkan lebih, dari sini muncullah peribahasa jawa berbunyi: diwenehi ati ngrogoh rempela. Namun Tuhan Yesus tidaklah demikian, Dia rela berkorban untuk manusia dan Dia tidak mengharapkan imbalan apa pun dari kita bahkan Ia memberi yang terbaik untuk kita, Ia merancangkan yang terbaik untuk kita. Tuhan tahu sampai di mana kapasitas dan kemampuan kita sehingga Dia tidak memberikan pada kita beban yang berlebih yang tidak dapat kita tanggung dan ingat, kuk yang Tuhan beri itu ringan. Bagaimana reaksi manusia mendengar tentang hal ini? Berterima kasihkah? Tidak! Manusia jahat, manusia ingin lebih, manusia pikir kalau Tuhan baik seharusnya Tuhan tidak memberikan kuk seharusnya Tuhan angkat kuk. Betapa jahatnya manusia, tidak pernah puas diri. Manusia tidak dapat melihat kebajikan Allah sebagai suatu kebajikan. Jiwa paranoid, egois, dan hedonis itu langsung nampak dan tercermin keluar. Hendaklah kita berserah sepenuh hidup kita pada-Nya karena Dia tahu apa yang terbaik untuk kita.Tuhan memerintahkan kepada kita supaya kita belajar pada-Nya karena Ia lemah lembut dan rendah hati. Konsep ini sangat berlawanan dengan konsep dunia. Dunia kalau memerintah haruslah ditunjang dengan otorisasi bahkan kalau perlu dengan kekerasan akibatnya orang balik melawan maka di sini terjadi adu otorisasi; siapa yang lebih berotoritas maka dia yang akan memerintah. Perputaran otoritas ini tidak pernah berhenti. Berbeda halnya dengan Kristus, Dia tidak memakai otorisasi sebab Ia lemah lembut dan rendah hati. Kristus mengajak kita keluar dari perputaran otorisasi dunia. Dunia tidak pernah memahami ajaran Kristus yang mengajarkan kalau kamu ditampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Mat. 5:39). Ajaran Kristus yang agung itu justru dianggap merugikan dan konyol. Dunia mengajarkan kejahatan harus dibalas dengan kejahatan bahkan pembalasan itu harus lebih kejam dari tindakan. Inilah sifat manusia berdosa. Pertanyaannya sekarang adalah kita mau mengikut pola siapa? Pola dunia yang berdosa ataukah pola Kristus yang agung? Ketika kita memutuskan tidak ingin menjadi sama seperti mereka maka pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana reaksi kita menghadapi orang-orang yang membenci kita? Apakah kita harus membalasnya dengan melakukan agresi ataukah seperti yang Kristus ajarkan, yaitu dengan lemah lembut dan rendah hati?

Memang tidaklah mudah untuk lemah lembut dan rendah hati pada orang yang membenci kita sebab melawan natur manusia berdosa. Tuhan Yesus tidak hanya sekadar memberikan perintah atau mengajar kebenaran. Tidak! Tuhan Yesus adalah kebenaran; Dia menjalankan kebenaran. Dalam suatu seminar, Stephen Chan menyatakan jangan samakan seorang politis teoritis dengan seorang politis praktis sebab seorang pembuat teori-teori politik belum tentu ia dapat menjadi seorang politikus sebaliknya seorang politikus kemungkinan tidak mengerti teori politik tetapi sehari-hari ia mempraktekkannya. Demikian juga halnya antara theolog dengan pendeta, theolog bisa berteori tentang Kekristenan tetapi ia tidak melayani jemaat. Dunia tidak dapat menggabungkan keduanya. Hanya Kristus satu-satunya yang dapat menggabungkan keduanya. He’s the truth. Inilah yang membedakan Kristus dengan pendiri agama yang lain. Pendiri agama hanya dapat berteori tetapi mereka bukanlah kebenaran. Kembali pada Kristus berarti kita kembali pada true wisdom. Pertanyaannya sekarang masihkah kita menaruh curiga pada-Nya saat Dia memerintahkan pada kita untuk memikul kuk yang dari Tuhan dan belajar pada-Nya? Sadarlah, siapakah manusia di hadapan Tuhan yang Maha Agung dan mulia sehingga kita berani menyombongkan diri di hadapan-Nya?

Di dunia terjadi banyak pertikaian otoritas dan setiap orang mengklaim kalau dirinyalah yang paling benar dan berotoritas. Ingat, pemegang otoritas tertinggi adalah Kristus, Dia adalah Raja di atas segala raja dan kita bukanlah siapa-siapa. Firman yang Hidup itu adalah kebenaran sejati dan tidak ada kebenaran lain di dunia maka kita mau datang pada-Nya untuk belajar kebenaran sejati itu dan memikul kuk Tuhan. Biarlah kita menjatuhkan si aku yang sedang duduk di kursi dan membiarkan Kristus duduk di kursi dan bertahta di dalam kerajaan hidup kita. Biarlah kita mengevaluasi diri, sudah berapa lamakah kita menjadi Kristen dan selama itu sudahkah kita men-Tuhankan Kristus dalam hidup kita? Sudahkah Kristus menjadi pusat hidup kita? Kalau selama ini kita banyak tahu tentang Kebenaran Firman, sudahkah kebenaran itu terimplikasi dalam setiap aspek hidup kita? Sudahkah kita menjadi saksi-Nya? Apalah artinya kebenaran kalau kebenaran itu hanya sekadar kita mengerti secara konseptual dan pengetahuan belaka? Merupakan suatu keindahan dan sukacita ketika kebenaran itu terimplikasi, kita akan merasakan kebahagiaan sejati ketika berjalan dalam pimpinan Tuhan.

Terkadang Tuhan membiarkan kita mengalami berbagai tantangan dan kesulitan namun percayalah, kalau Tuhan ijinkan semua itu terjadi atas hidup kita itu untuk kebaikan kita. Berbagai tantangan dan kesulitan itu merupakan tempat pembelajaran bagi kita; Tuhan Yesus ingin kita belajar seperti Dia yang lemah lembut dan rendah hati. Tuhan ingin kita menikmati kuk yang Dia pasangkan itu ringan dan beban pun menjadi ringan. Namun meski demikian toh manusia tetap melawan, orang tidak suka memakai kuk Tuhan. Memang, tidaklah mudah menjalankan semua perintah Tuhan, tidaklah mudah mewartakan kebenaran di tengah-tengah dunia berdosa; kita pasti mengalami banyak kesulitan, kita jatuh bangun dalam iman kita namun hati-hati, janganlah kita dikendalikan oleh kondisi di sekeliling kita tapi hendaklah kita berserah dan taat pada Tuhan dan membiarkan Tuhan yang bekerja dalam setiap aspek hidup kita.

Janganlah kita menjadi orang-orang yang hanya berteori saja atau menjadi orang yang mengerti kebenaran Firman tapi hanya sebatas pengetahuan tanpa kita pernah menjalankannya. Semua itu percuma. Jangan pernah berpikir karena kita sudah memiliki theologi sempurna maka hidup kita sudah sempurna. Tidak! Tuhan menuntut pada setiap kita yang mengaku sebagai warga Kerajaan Sorga untuk memikul kuk dan belajar pada-Nya karena Tuhan lemah lembut dan rendah hati. Hendaklah kita mencontoh teladan Kristus, Dia mengajarkan kebenaran dan sekaligus melakukannya. Biarlah kita semakin diubahkan untuk semakin serupa Dia dan menjadi saksi-Nya di tengah dunia berdosa. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)



Sumber:
http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/2006/20060903.htm

Roma 11:28-32: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-20: Konsep Keselamatan dan Anugerah-2

Seri Eksposisi Surat Roma :
Doktrin Predestinasi-18


“Israel” Sejati atau Palsu-20 (Penutup) :
Konsep Keselamatan dan Anugerah-2


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 11:28-32



Setelah menjelaskan tentang anugerah Allah bagi orang non-Yahudi dan nasihat Paulus agar mereka tidak berbangga diri di ayat 19 s/d 24, maka ia membukakan pengajaran tentang rahasia mengapa mereka tidak boleh berbangga diri mulai ayat 25. Alasan kedua terletak pada ayat 28-32.

Di ayat 28, Paulus mengatakan, “Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang.” Kata “seteru” identik dengan musuh (enemies). Dengan kata lain, di dalam Injil, orang-orang Yahudi yang tidak dipilih Allah adalah seteru Allah oleh karena orang-orang non-Yahudi, tetapi mengenai pilihan, orang-orang Yahudi termasuk kekasih Allah oleh karena nenek moyang mereka. Di sini unik, Paulus mengemukakan dua standar yaitu Injil dan pilihan. Injil mengakibatkan orang-orang Yahudi yang tidak dipilih menjadi musuh Allah karena orang-orang non-Yahudi. Mengapa orang-orang Yahudi yang tidak dipilih ini disebut musuh Allah? Karena mereka menolak Kristus. Tuhan Yesus sendiri di dalam Injil Lukas 10:16 berfirman, “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."” Kristus berani berfirman bahwa barangsiapa yang menolak Dia berarti menolak Bapa yang mengutus-Nya. Di sini ada kaitan antara Allah Bapa dan Allah Anak. Mengapa mereka menolak Tuhan Yesus Kristus, padahal mereka menantikan-nantikan datangnya Mesias atau Kristus itu? Mereka menolak Tuhan Yesus sebagai Kristus karena Kristus yang hadir di hadapan mereka tidak sesuai dengan keinginan mereka yang menginginkan Kristus bertakhta di Israel mengalahkan semua bangsa lain. Kristus membongkar semua kebusukan orang Yahudi yang tidak terpilih bahwa mereka tidak datang dari Allah. Di dalam Yohanes 8:37-59, Kristus membongkar kebusukan orang Yahudi tersebut dengan menuding mereka sebenarnya tidak berasal dari Allah, karena mereka tidak datang kepada Kristus (bdk. ay. 43-44, 47). Orang yang tidak datang kepada Kristus dan bahkan menentang-Nya, itulah tanda orang itu sebenarnya tidak berasal dari Allah, lebih tepatnya disebut antikristus (bdk. 1Yoh. 4:1-3). Ketidakpercayaan Israel mengakibatkan bangsa-bangsa non-Yahudi mendapat anugerah keselamatan. Di dalam bangsa pilihan (Israel) saja, ada yang tidak datang kepada Kristus, apalagi di dalam orang Kristen. Jangan mengira bahwa semua orang Kristen pasti beriman kepada dan di dalam Kristus. Secara fenomenal, mereka mungkin menyanyikan pujian kepada Kristus, tetapi jauh di dalam hati mereka, merekalah yang ingin dipuji. Apa bedanya orang Kristen sejati yang beriman kepada Kristus dengan yang tidak? Orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman kepada Kristus adalah mereka yang meletakkan iman dan hidupnya total hanya kepada dan di dalam Kristus sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup mereka. Sebaliknya, mereka yang secara esensi tidak pernah menTuhankan Kristus, mereka dapat disebut musuh Allah, meskipun secara aktivitas, mereka aktif melayani di gereja. Marilah kita menguji hati kita masing-masing? Sejauh mana Kristus bertakhta di dalam hidup kita? Apakah Kristus hanya menjadi objek rasio dan analisa theologi kita ataukah Kristus sungguh-sungguh kita rasakan dan benar-benar bertakhta di dalam hati dan seluruh keberadaan hidup kita? Jangan kira semua orang Kristen pasti selamat. Tuhan berkenan memakai orang-orang non-Kristen untuk diselamatkan ketika mereka kembali kepada Kristus melalui Roh Kudus. Kesemuanya ini membuktikan bahwa keselamatan itu merupakan anugerah Allah, bukan kehendak bebas manusia.
Kedua, mengenai pilihan, mereka adalah kekasih Allah karena nenek moyang mereka. Siapakah “mereka”? Mereka di sini saya tafsirkan sebagai orang-orang Yahudi yang dipilih Allah. Mengapa? Karena ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang membedakan dua macam orang: Israel secara jasmani vs Israel secara rohani. Israel secara jasmani telah dibahas dan disimpulkan bahwa mereka yang secara jasmani umat pilihan sebenarnya bukan umat pilihan secara pribadi, tetapi ada beberapa dari mereka yang dipilih (Israel rohani: Israel yang dipilih dan beberapa orang dari bangsa-bangsa non-Israel yang dipilih). Mereka yang TIDAK terpilih disebutkan di bagian pertama tadi, yaitu mereka adalah musuh Allah. Sedangkan mereka yang dipilih Allah inilah yang dimaksudkan Paulus bahwa mereka dipilih dan menjadi kekasih Allah karena nenek moyang mereka. Karena Allah telah mengadakan kovenan dengan Abraham, maka Ia yang adalah Allah yang Setia pasti memelihara kovenan-Nya pada umat Israel sejati secara rohani, sehingga Ia akan menuntun mereka kepada Injil Kristus. Ingatlah! Kita yang termasuk orang Kristen di Indonesia juga diselamatkan karena pemeliharaan kovenan Allah melalui Abraham dan Kristus, sehingga kita yang termasuk orang-orang non-Yahudi juga dimasukkan ke dalam umat pilihan Allah. Karena itulah, kita dapat disebut kekasih Allah atau orang yang dikasihi Allah. Disebut “kekasih” berarti kita itu dikasihi Allah, menjadi anak-anak-Nya yang meskipun memiliki hak, tetapi juga menerima disiplin dari Allah yang Mahakasih sekaligus Mahaadil. Jangan pernah membayangkan bahwa ketika kita disebut “kekasih,” kita bisa berbuat apa saja, lalu mengklaim Allah. Itu ajaran tidak bertanggungjawab! Menjadi “kekasih” Allah, selain mendapat hak sebagai anak-anak Allah, kita juga harus menerima disiplin dari Allah dan menunaikan kewajiban kita sebagai anak-anak-Nya. Di dalam Wahyu 3:19, Allah justru berfirman bahwa tanda Allah mengasihi umat-Nya adalah dengan menegor dan menghajar mereka, oleh karena itu, marilah kita dengan rendah hati belajar dan bertobat jika ditegur dan dihajar-Nya. Di Roma 12:1-2 juga dijelaskan aplikasi praktis tentang kewajiban anak-anak Allah sebagai implementasi dari doktrin-doktrin yang sudah diajarkan Paulus dari pasal 1 s/d 11. Ini semua membuktikan bahwa menjadi “kekasih” Allah, bukan berarti kita menjadi manja, tetapi justru menjadi “kekasih” Allah berarti kita menjadi anak-anak Tuhan yang dewasa. Sudahkah kita layak disebut kekasih Allah? Marilah kita mengintrospeksi diri masing-masing.

Karena Allah berkenan memilih dan memanggil siapa pun, maka tidak ada kata “salah” dalam rencana Allah termasuk dalam pemilihan orang-orang Israel maupun non-Israel. Dengan dasar bahwa Allah itu tidak berubah di dalam rencana-Nya, maka di ayat 29, Paulus mengatakan, “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.” Dalam bahasa Yunani, kata “tidak menyesali” identik dengan tidak menarik kembali (Hasan Sutanto, 2003, hlm. 861). Artinya, rencana-Nya di dalam memanggil dan memilih beberapa orang tidak pernah gagal. Ia adalah Allah yang setia, maka Ia memelihara setiap kovenan yang telah Dia tetapkan. Karena Allah itu setia dan tidak berubah, maka kita dapat mengamini setiap kovenan yang Dia berikan kepada kita. Tetapi seolah-olah kita melihat bahwa Allah mengubah rencana-Nya dari memilih Israel akhirnya memilih bangsa non-Israel, benarkah demikian? TIDAK. Dari awal, Allah memilih Israel bukan secara bangsa, tetapi secara individu. Kovenan Allah pada Abraham diteruskan kepada keturunan-keturunannya asalkan mereka beriman seperti Abraham kepada Allah Yahweh. Meskipun banyak orang Israel yang termasuk keturunan Abraham, mereka tidak semua disebut umat pilihan, karena mereka tidak semua beriman kepada Allah dengan sungguh-sungguh, tetapi hanya secara lahiriah. Di dalam Perjanjian Baru, hal ini makin dibukakan sejak Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa bapak orang Israel yang tidak dipilih adalah Iblis, lalu disambung dengan pengajaran Paulus di Surat Roma dan Galatia (bdk. Gal. 2:15-3:14). Di sini, kita melihat kekonsistenan Allah di dalam menyatakan kehendak dan rencana-Nya. Dari dahulu, Ia mengadakan kovenan kepada Abraham dan keturunan-keturunannya yang percaya kepada-Nya (individual), lalu Ia melanjutkan kovenan-Nya dengan membawa orang-orang pilihan-Nya untuk datang kepada Kristus dan diselamatkan melalui penebusan Kristus. Secara tidak langsung, ayat ini menyerang pandangan sesat dari Open-Theism yang mengajar bahwa Allah itu dapat mengubah rencana-Nya. Jika Allah dapat mengubah rencana-Nya, berarti Ia plin-plan, dan jika Ia plin-plan, masihkah Dia layak disebut Allah yang tidak berubah? Padahal, Alkitab berkali-kali dari PL sampai dengan PB mengajar bahwa Allah itu tidak berubah dan tidak ada rencana-Nya yang gagal (Ayb. 42:2; Ibr. 13:8). Kita bersyukur beriman kepada Allah yang setia dan tidak berubah ini di tengah kondisi dunia postmodern ini yang selalu berubah.

Allah yang tidak menarik kembali anugerah dan panggilan-Nya adalah Allah yang menyatakan anugerah-Nya kepada manusia dengan bebas dan tanpa syarat. Ini dijelaskan Paulus di ayat 30-31, “Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka, demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh kemurahan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh kemurahan.” Kedua ayat ini merupakan pengulangan Paulus di ayat 11-12 dengan perspektif agak berbeda. Jika di ayat 11-12, Paulus mengingatkan orang-orang non-Yahudi agar mereka tidak sombong, maka di ayat 30-31, Paulus mengaitkan tegurannya dengan anugerah Allah yang tidak berubah (bdk. ay. 29 di atasnya). Karena adanya anugerah Allah yang tidak dapat ditarik kembali, maka sebagai orang yang termasuk umat pilihan-Nya baik orang Yahudi maupun non-Yahudi, mereka sudah seharusnya bersyukur. Kita pun demikian. Dahulu kita adalah seteru Allah, tetapi karena anugerah Allah di dalam Kristus, kita dimampukan untuk datang kepada Kristus, taat kepada-Nya, dan hidup bagi-Nya. Sungguh suatu anugerah Allah jika kita yang dahulu tidak taat, lalu menjadi taat. Inilah mukjizat yang sesungguhnya secara esensial.

Untuk menjelaskan lebih tajam lagi tentang anugerah dan kemurahan Allah, Paulus mengemukakan hal ini di ayat 32, “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya atas mereka semua.” Anugerah dan kemurahan Allah ditunjukkan-Nya dengan membuat manusia sadar bahwa mereka itu tidak ada apa-apanya tanpa-Nya. Cara membuat mereka sadar adalah dengan mengurung mereka di dalam ketidaktaatan. Kata “mengurung” di dalam bahasa Yunani dapat diterjemahkan “menahan” (ibid., hlm. 861). Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mengartikan ayat ini, “Sebab Allah sudah membiarkan seluruh umat manusia dikuasai ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka semuanya.” Artinya, cara membuat sadar manusia akan keterbatasan dan kelemahan mereka adalah dengan menunjukkan bahwa mereka itu adalah hamba dosa dan dosalah (=ketidaktaatan) yang memerintah hidup mereka. Jika mereka adalah hamba dosa, mustahil mereka bisa keluar dari jeratan dosa dengan sendirinya tanpa anugerah Allah berlaku bagi umat pilihan-Nya yang menarik mereka keluar dari kegelapan menuju kepada terang-Nya yang ajaib di dalam Kristus. Di sini, kita kembali melihat pengajaran Paulus yang Theosentris yang memusatkan segala sesuatunya pada anugerah Allah yang mahadahsyat. Jika bukan karena anugerah Allah, usaha manusia itu nihil. Bagaimana dengan kita? Seberapa dalam dan jelas kita memahami anugerah Allah yang mahadahsyat itu? Anugerah Allah seharusnya BUKAN menjadi teori yang berkutat di dalam rasio kita saja, tetapi kita implementasikan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Anugerah Allah memungkinkan kita di dalam menjalankan mandat dari Allah selalu bergantung pada anugerah-Nya dan tidak memegahkan diri. Ketika kita terus bergantung pada anugerah-Nya, di saat itulah, kita mendapatkan kemurahan-Nya. Luar biasa. Kemurahan Allah dapat kita rasakan terus pada saat kita terus bergantung pada anugerah-Nya. Sudahkah kita bergantung pada anugerah-Nya sekarang?

Dari perenungan kelima ayat ini, kita disadarkan kembali akan pentingnya konsep anugerah Allah. Inti berita Alkitab bukan pada rumitnya doktrin, tetapi hanya satu, yaitu anugerah Allah yang dikaitkan dengan kedaulatan Allah. Allah yang berdaulat adalah Allah yang memberikan anugerah, dan Allah yang memberikan anugerah adalah Ia yang berdaulat memberi anugerah keselamatan kepada orang-orang yang telah dipilih-Nya sebelum dunia dijadikan. Sungguh suatu anugerah yang mahadahsyat jika kita boleh mengerti konsep agung ini, lalu kita implementasikan dengan cara kita memberitakan Injil Kristus kepada mereka yang belum percaya. Maukah kita berkomitmen menjalankan mandat Injil ini? Amin. Soli Deo Gloria.

KKR Natal Malang Raya 2008 (Pdt. Dr. Stephen Tong) & KKR Natal Siswa Regional (Ev. Jimmy Pardede)

Ajaklah teman-teman, saudara-saudara, rekan-rekan, dan segenap keluarga Anda untuk mendapatkan berkat firman Tuhan melalui:



KKR Natal Malang Raya 2008

oleh: Pdt. DR. STEPHEN TONG



Sabtu, 20 Desember 2008; Pkl. 18.30 WIB

di Aula Andrew Gih,
Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) lama,
Jln. Arif Margono 18, Malang




Sekretariat Panitia:
Jln. Semeru 40, Malang
Telp: (0341) 364699; Fax.: (0341) 321198




Contact Person:
Atul: (0341) 6216922;
Haryono: (0341) 6355580








KKR Siswa
(untuk SD/SMP)


oleh: Ev. Jimmy Pardede




Sabtu, 20 Desember 2008; Pkl. 11.00 WIB

di SAAT, Jln. Arif Margono 18, Malang

Kebaktian Natal 2008 di Surabaya (Pdt. Dr. Stephen Tong)

Ajaklah teman-teman, saudara-saudara, rekan-rekan, dan segenap keluarga Anda untuk mendapatkan berkat firman Tuhan melalui:




Kebaktian Natal 2008

oleh: Pdt. DR. STEPHEN TONG




Jumat, 19 Desember 2008; Pkl. 18.30 WIB

di SIBEC Lt. TR,
ITC Surabaya Mega Grosir, Jln. Gembong 20-30
(seberang Pasar Atum)




GRATIS!!!




Penyelenggara:
Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Ngagel,
Kompleks Ruko Manyar Megah Indah (RMI) Blok K1-3a,
Jln. Ngagel Jaya Selatan, Surabaya
Telp.: (031) 5047759, 5043361; Fax.: (031) 5047758

bekerja sama dengan:

Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI)

10 November 2008

Matius 11:28-30: MARILAH KEPADA-KU-3

Ringkasan Khotbah : 27 Agustus 2006
Marilah Kepada-Ku (3)
oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.
Nats: Mat. 11:28-30



Pendahuluan
Kita telah memahami bahwa orang yang hidupnya tidak berpusat pada Kristus maka ia akan masuk pada kondisi fatigue, letih dan over burden, berbeban berat. Abad 17 merupakan puncak kejayaan manusia, jaman itu disebut sebagai jaman pencerahan, enlightment dimana filsafat humanisme pertama kali diteriakkan: we are now come to the age, kami telah sampai pada usia dewasa, kami tidak memerlukan Tuhan lagi karena mampu mengerjakan segala sesuatunya seorang sendiri. August Comte dengan tegas menyatakan bahwa hanya orang bodoh atau orang primitiflah yang masih mempunyai banyak Tuhan. Kegilaan manusia semakin menjadi-jadi, di abad 20, seorang bernama Nietzsche dengan tegas menyatakan bahwa ia telah membunuh Tuhan, membunuh dengan pikirannya sehingga orang tidak perlu lagi memikirkan Tuhan. Pertanyaannya adalah apakah pada puncak kejayaan itu tujuan manusia, yaitu untuk mencapai kesejahteraan tercapai? Tidak! Dunia semakin hancur, hal ini ditandai dengan meletusnya perang dunia I dan II, berjuta-juta manusia mati terbunuh. Orang mulai sadar dan mulai mempertanyakan akan arti hidup. Dunia tidak menjadi semakin baik, orang mulai menyingkirkan spiritualitas dan orang mengikuti ajaran dunia, seperti: rasionalisme, humanisme, eksistensialime dan lain-lain maka jaman itu disebut sebagai post christian era. Hari itu orang Kristen sangat malu mengakui dirinya percaya Tuhan dan pergi ke gereja. Orang sangat memandang hina dan sinis dan mengatakan orang Kristen adalah manusia primitif. Mereka tidak sadar kalau sesungguhnya merekalah yang patut dikasihani.

Kerusakan dunia tidak berhenti sampai disitu tetapi di abad yang sama, yakni abad 20 muncul tiga gerakan besar yang menjadikan dunia menjadi semakin rusak, yakni:
1. Psikologi
Psikologi adalah usaha manusia menyelesaikan problema manusia dengan menggunakan metodologi yang dikembangkan dunia, tanpa tahu hakekat manusia sejati. Dapatlah dibayangkan apa jadinya kalau manusia yang sedang bermasalah itu menyelesaikan masalah dengan cara dunia yang berdosa pastilah masalah itu tidak terselesaikan tapi justru malah menambah masalah. Hal ini disebabkan karena orang tidak mempedulikan hakekat manusia yang sejati. Psikologi juga tidak memahami hakekat manusia yang sejati, yaitu manusia dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Empat aliran psikologi yang ada, seperti: psikoanalisa, behaviourisme, humanisme, transpersonal psikologi tidak akan pernah memahami hakekat manusia sejati kecuali manusia kembali pada Allah barulah orang dapat mengerti hakekat manusia sejati. Psikologi juga tidak pernah menyelesaikan problema manusia sebab psikologi tidak mengerti bahwa akar dari permasalahan adalah akibat relasi manusia dengan Allah yang rusak. Hubungan manusia dengan Allah yang telah rusak itu menjadikan hubungan antar manusia – manusia rusak, manusia – diri rusak, dan manusia – alam pun rusak. Adalah mustahil manusia menyelesaikan masalah dengan pendekatan psikologi tetapi di satu sisi, manusia membuang Tuhan.

2. Ekonomi
Manusia yang sombong tidak mau taat pimpinan Tuhan; manusia merasa diri mampu mengerjakan segala sesuatunya seorang diri maka manusia mulai mengembangkan suatu ideologi humanisme materialisme. Pada abad 20, manusia mulai berorientasi pada dunia materi, yakni uang maka segala sesuatu dipikirkan dan dikerjakan, hasil akhirnya adalah untuk mendapatkan uang. Ajaran komunisme dan materialisme dialektik berkembang pesat di seluruh dunia, hal ini ditandai dengan munculnya sekolah-sekolah ekonomi dan sejenisnya yang merupakan pengembangan dari ekonomi bahkan seluruh bidang studi yang ada sekarang untuk memenuhi kepentingan ekonomi dan berorientasi pada uang. Manusia pikir, uang adalah segala-galanya, uang adalah sumber kebahagiaan. Salah! Uang adalah sumber kejahatan. Orang yang mengejar kekayaan, seumur hidup ia menjadi budak materi. Bahagia itu kita rasakan kalau kita kembali pada Tuhan. Perhatikan, semakin kaya seseorang, masalah yang dihadapi semakin banyak. Sebagai contoh, Ayub dan Abraham. Kekayaan kalau tidak ditopang dengan spiritualitas maka kekayaan itu menjadi bumerang yang mematikan.

3. Gerakan Karismatik
Di tengah dunia yang semakin kacau, Kekristenan yang seharusnya meneriakkan kebenaran sejati malahan mengikut arus dunia. Gereja pun terpengaruh dengan paham humanis materialis – gereja memakai hukum ekonomi supply and demand, yakni apa yang menjadi kebutuhan jemaat maka gereja akan memenuhinya. Maka muncullah suatu gerakan teologi baru yang dikenal dengan charismatic movement. Gerakan ini muncul di azuza street, Amerika yakni gerakan spiritual yang bersifat spiritisme. Gerakan ini memakai nama Allah tetapi mempermainkan Allah untuk memenuhi kepentingan pribadinya. Gerakan spiritisme ini aspek psikologi dan aspek humanisme materialisme sangat kental didalamnya; kalau Tuhan ada maka adanya Tuhan tersebut adalah
demi kepentingan manusia, yakni untuk menyelesaikan problema manusia dan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Perhatikan, orang yang ada dalam gerakan ini biasanya akan langsung meninggalkan Tuhan dan gereja ketika ia mengalami kekecewaan, ia akan mencari “allah“ lain yang dianggap menguntungkan. Manusia merasa diri berkuasa bahkan lebih berkuasa dari Tuhan sehingga manusia berani meminta supaya Tuhan yang Maha Kuasa itu memenuhi semua keinginannya. Dengan kata lain, Tuhan tidak ubahnya seperti budak.
Namun toh ketiga arus besar, third wave ini tidak dapat menyelesaikan problema manusia, manusia semakin terbelit dengan masalah akibatnya manusia jatuh dalam suatu kondisi letih lesu dan berbeban berat akhirnya orang menjadi kecewa dan mulai meninggalkan Kekristenan. Hal ini terjadi karena tidak ada iman yang sejati dalam dirinya. Dalam keadaan demikian ini Tuhan Yesus berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu“ (Mat. 11:28). Pertanyaannya apakah yang kelegaan seperti apakah yang ditawarkan Kristus? Apakah kelegaan humanisme, yakni kelegaan karena kita kaya? Ataukah kelegaan seperti yang ditawarkan Robert Tiyosaki, yakni kelegaan karena kita tidak bekerja? Ataukah kelegaan dengan melupakan masalah dan lari pada obat-obatan seperti ecstasi atau gerakan mistik lain seperti bunuh diri sama-sama? Perhatikan, semua kelegaan yang diberikan Kristus berbeda dengan kelegaan dunia yang bersifat semu dan justru membawa manusia pada masalah baru yang lain. Dunia semakin bergejolak dan membawa kita pada kehancuran. Kalau dulu, beban berat hanya dirasakan oleh mereka yang bekerja, kini secara pelan dan pasti beban itu dirasakan oleh mereka yang berada di usia sekolah bahkan anak-anak. Itulah sebabnya, kita seringkali menjumpai ada anak-anak yang bunuh diri karena mereka tidak kuat menahan beban yang sangat berat.

Beberapa aspek yang harus kita lakukan supaya kita mendapat kelegaan sejati adalah:
1. Perombakan Paradigma
“Marilah kepada-Ku...“ kalimat ini berbentuk imperatif aktif, suatu perintah yang mengandung otoritas. Kepada mereka yang letih lesu dan berbeban berat, Tuhan ingin supaya mereka datang pada-Nya. Datang kepada Yesus itu menuntut suatu kerendahan hati dan ketaatan mutlak. Dan biasanya setelah orang mengalami jalan buntu dan keputusasaan barulah orang datang kepada Yesus. Tuhan suka pada orang yang hancur dan remuk hatinya tapi itu bukan berarti Tuhan suka melihat anak-anak-Nya sengsara. Tidak! Tuhan ingin supaya manusia itu realistis dan menyadari kenyataan hidup barulah Tuhan membentuk kita menjadi ciptaan baru. Kelegaan sejati barulah kita dapatkan kalau kita mengubah konsep cara berpikir, konsep worldview kita yang salah. Orang sakit yang merasa dirinya sehat tidak akan pernah mendapat kesembuhan secara tuntas. Satu-satunya cara supaya ia dapat disembuhkan adalah ia harus realistis bahwa dirinya sakit dan memerlukan dokter. Ia harus mengubah konsep berpikirnya barulah ia dapat disembuhkan.
Kelegaan sejati harus dimulai dengan perubahan paradigma, bagaimana mengerti kebenaran sejati dengan cara menyangkal diri, membongkar semua apa yang menjadi kesombongan kita, membongkar semua presuposisi duniawi yang selama ini kita agungkan dan membiarkan Tuhan bekerja, barulah orang mendapat kelegaan. Perhatikan, Tuhan tidak pernah memaksa orang untuk datang pada-Nya bahkan teologi Reformed yang percaya predestinasi pun tidak pernah percaya bahwa orang masuk ke sorga karena dipaksa bahkan sampai “diseret“ (bahasa Jawa) oleh Tuhan. Kesombongan manusia yang tidak mau diatur itulah yang membuat manusia sulit datang kepada Tuhan. Orang tidak mau bertobat malah menganggap bahwa beban yang mereka alami sekarang sebagai suatu kewajaran maka kalau orang bisa datang kepada Tuhan dan mengaku bahwa diri adalah manusia berdosa itu merupakan suatu anugerah; Roh Kudus bekerja melembutkan hati seseorang dan melahirbarukan seseorang.
Pemerintah Cina begitu ketakutan ketika John Sung berkhotbah, mereka takut kalau John Sung dan para pengikutnya yang banyak itu melakukan pemberontakan maka pemerintah menempatkan mata-mata dan para tentara untuk mengawasi gerak gerik mereka. Para tentara ini justru dikagetkan dengan kejadian yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya, tanpa dipaksa, banyak orang yang menangis dan mengakui semua perbuatan dosanya tak terkecuali para tentara itu pun menjadi bertobat. Kalau Tuhan bekerja melembutkan dan menyadarkan bahwa kita manusia berdosa maka itu merupakan suatu anugerah maka janganlah keraskan hatimu. Sadarlah, kita adalah orang berdosa dan dosa itulah yang menyebabkan orang menjadi fatigue dan berbeban berat dan hanya datang pada Kristus barulah kita mendapat kelegaan sejati.

2. Proposional Burden
Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa orang Kristen tidak akan mengalami masalah. Tidak! Tuhan justru tidak mau membuat hidup anak-anak-Nya jatuh dalam kehidupan yang tidak natural, Tuhan tidak ingin kita hidup seperti binatang. Perhatikan, ketika Tuhan selesai mencipta manusia dan menaruhnya di taman Eden maka Tuhan memerintahkan manusia bekerja, menanggung beban. Memang, kondisi manusia sebelum dan sesudah kejatuhan sangat berbeda. Setelah kejatuhan, kerja menjadi sangat melelahkan, orang harus berpeluh untuk mendapat nafkah maka muncul pendapat yang mengatakan bahwa seandainya manusia tidak berdosa maka orang tidak perlu bekerja keras. Pendapat yang salah! Tuhan memerintahkan manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman (Kej. 2:15), itu artinya manusia harus bekerja. Tuhan ingin kita menjadi manusia seutuhnya, manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Kalau Allah Bapa bekerja dan Tuhan Yesus pun juga bekerja maka pertanyaannya adalah apakah kita sudah bekerja? Banyak orang yang berpikir dengan menjadi Kristen maka ia akan mendapat kenikmatan, tidak perlu bekerja keras dan yang lebih celaka lagi, ada orang yang berpikir selama di dunia bekerjalah segiat-giatnya, mati masuk sorga dan di sorga nanti kita akan memperoleh kenikmatan. Inilah jiwa manusia berdosa yang hedonis. Tuhan mencipta manusia untuk bekerja maka orang yang tidak mau bekerja berarti melanggar naturnya, orang menjadi non human. Kelegaan sejati itu akan kita dapatkan kalau kita kembali pada proporsional position yang tepat dan pas.
Salah satu faktor penyebab orang berbeban berat adalah ketidakseimbangan. Ketika kita mengangkat sebuah pikulan di titik yang salah maka kita akan terasa berat. Demikian juga orang yang bekerja terlalu berlebihan, bekerja melebihi kapasitas dan kemampuannya maka itu akan menjadikan ia berbeban berat karena ia mengerjakan sesuatu yang bukan pekerjaannya. Tapi kemudian orang jatuh ke ekstrim yang lain, yaitu orang tidak mau bekerja. Bayangkan, manusia mana yang dapat bertahan hidup kalau ia hanya tidur seharian tanpa melakukan apapun? Hal ini justru membuatnya semakin cepat mati. Memang, setelah seharian bekerja, orang butuh istirahat tapi kalau istirahat sepanjang hidup maka justru menjadikan orang lelah. Celakanya, orang tidak tahu dimana letak titik proporsionalnya, manusia ingin hidup nikmat dan bahagia namun tidak tahu caranya maka pada saat demikian Tuhan berkata: “Marilah kepada-Ku yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang ... sebab kuk yang kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan.“
Hanya Tuhan yang tahu titik proporsional setiap kita, sampai batas mana kita dapat mengangkat beban sehingga kita tidak merasa berbeban berat. Biarlah kita kembali pada Tuhan, menyerahkan seluruh aspek hidup kita ke dalam tangan-Nya dan membiarkan Tuhan memasang kuk di pundak kita maka beban yang kita rasakan itu akan terasa ringan. Kerjakanlah seluruh pekerjaan yang Tuhan berikan pada kita dengan bertanggung jawab dan dengan sebaik-baiknya dan percayalah, beban itu akan terasa ringan. Kenapa kita membuat hidup itu menjadi berat padahal Tuhan menawarkan suatu posisi beban yang pas untuk kita. Satu hal yang Tuhan ingin kita lakukan adalah menyangkal diri dan taat pada-Nya; Tuhan akan memberikan beban yang pas untuk kita kerjakan dan kerjakanlah itu sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

3. Revitalisasi
Hanya kembali pada Tuhan barulah kita peroleh kelegaan sejati sebab kalau tidak, hasil akhirnya adalah kesia-siaan. Salah satu kecelakaan manusia adalah ketika ia menjadi humanis, manusia mau menegakkan kebenarannya sendiri maka muncullah gejala yang disebut sebagai trial and error. Manusia mencoba dan gagal, mencoba lagi dan gagal lagi maka pada saat itu kita telah membuang waktu, tenaga, uang dan semangat. Kita merasa tenang dan tidak berbeban ketika kita tahu, apa yang kita lakukan itu bermakna dan bernilai kekal. Orang akan bekerja dengan semangat kalau ia tahu Tuhan yang tempatkan ia untuk menggenapkan rencana-Nya dan bernilai kekal. Berbeda halnya kalau orang bekerja untuk sekedar mencari uang guna memenuhi nafkah maka ia akan merasa sangat lelah, tidak ada semangat kerja. Kelegaan yang Kristus tawarkan membawa kita pada suatu rest, annapauses, ketenangan yang sifatnya esensi. Berbeda dengan dunia yang memberikan ketenangan dengan cara lari dari masalah. Rest yang Tuhan tawarkan adalah merevitalisasi, mengkoreksi seluruh aspek dan masuk pada kondisi yang lebih baik.
Tuhan mencipta manusia dan alam semesta selama 6 hari dan pada hari ke-7, Tuhan menguduskannya. Hari ke-7 merupakan hari peristirahatan tetapi di hari itu, Tuhan tidak beristirahat. Dunia salah mengartikan rest sebagai rekreasi. Rekreasi berasal dari kata repeat yang artinya: ulang dan creation yang artinya dicipta. Setelah rekreasi, orang justru menjadi malas bekerja karena kecapekan. Marilah kita kembali pada istilah yang benar, rest itu tidak menjadikan kita meaningless, rest tidak menjadikan semangat kita hancur tetapi rest seharusnya membangun kembali seluruh aspek hidup yang rusak, rest membangun semangat baru dan pemikiran baru. Tuhan memberikan kelegaan bukan untuk menjadikan kita menjadi loyo dan dekreasi tetapi justru menjadikan kita bervitalitas. Pekerjaan kita memang banyak tetapi kita tidak terasa terbeban karena kuk yang Tuhan pasang itu enak. Kelegaan yang Tuhan tawarkan itu sifatnya esensial, kelegaan yang membawa kita pada true rest dan menyegarkan kita kembali. Dunia semakin menjepit kita masuk dalam kehancuran, kehidupan makin menjepit kita untuk masuk dalam kondisi hidup yang tertekan. Hal ini sangat dirasakan khususnya oleh mereka yang bergolongan ekonomi lemah, orang menjadi lelah, fatigue. Kondisi demikian sangat memancing terjadinya kejahatan dan anarkis. Orang malah bereaksi negatif, orang memberontak dengan harapan untuk memperbaiki keadaan dan akibatnya justru beban itu semakin membelit. Orang seharusnya sadar bahwa satu-satunya jalan untuk keluar dari beban adalah bertobat dan kembali pada Kristus, taat sepenuhnya untuk dipimpin oleh Dia.
Sebagai anak Tuhan, janganlah kita ikut dalam arus dunia yang semakin menjepit tetapi hendaklah kita kembali pada Tuhan, berubahlah dalam paradigma, hidup bersama Dia maka Tuhan akan memberikan beban yang pas sehingga kita mencapai efisiensi tertinggi karena kita tahu semua yang kita kerjakan itu bernilai kekekalan dan saat kita bekerja itu pun akan terasa ringan sebab Dia memberi kelegaan sejati untuk kemudian direvitalisasi ulang dengan semangat baru. Dan di tengah dunia yang rusak moral ini biarlah kita memancarkan terang Kristus dan menjadi saksi bagi-Nya. Amin

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)
Sumber:

Roma 11:25-27: "ISRAEL" SEJATI ATAU PALSU-19: Konsep Keselamatan dan Anugerah-1

Seri Eksposisi Surat Roma :
Doktrin Predestinasi-17


“Israel” Sejati atau Palsu-19 (Penutup) :
Konsep Keselamatan dan Anugerah-1


oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats: Roma 11:25-27


Setelah menjelaskan tentang anugerah Allah bagi orang non-Yahudi dan nasihat Paulus agar mereka tidak berbangga diri di ayat 19 s/d 24, maka ia membukakan pengajaran tentang rahasia mengapa mereka tidak boleh berbangga diri mulai ayat 25. Alasan pertama terletak pada ayat 25-27.

Di ayat 25, Paulus mengatakan, “Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk.” Sekali lagi, Paulus menasihatkan orang-orang non-Yahudi agar tidak berbangga diri atau menganggap diri pandai atau dari bahasa Yunani dapat diterjemahkan jangan mengandalkan dirimu/mereka (Hasan Sutanto, Perjanjian Baru Interlinear, 2003, hlm. 860). Lalu, apa yang harus mereka lakukan? LAI hanya memberi penjelasan bahwa mereka tidak boleh menganggap diri pandai, lalu disambung dengan nasihat Paulus agar mereka mengetahui rahasia ini. King James Version menerjemahkan, “For I would not, brethren, that ye should be ignorant of this mystery,” (=Karena aku tidak ingin, saudara-saudara, bahwa kamu mengabaikan misteri ini,). International Standard Version (ISV) memberi terjemahan hampir sama, “For I do not want you to be ignorant of this secret, brothers,” (=Karena aku tidak ingin kamu mengabaikan rahasia ini, saudara-saudara,). Di sini, kita mendapatkan gambaran lebih jelas maksud Paulus bahwa ia tidak ingin orang-orang non-Yahudi mengabaikan rahasia. Rahasia apa? Rahasia Allah. Rahasia tentang apa? Rahasia tentang predestinasi. Hal ini dijelaskan bahwa sebagian dari Israel telah menjadi tegar (=dikeraskan) sampai jumlah orang-orang non-Yahudi telah masuk. Jika kita memerhatikan struktur bahasa Indonesia, kedua hal ini tampak sama, sama-sama menggunakan kata “telah”, tetapi jika kita memerhatikan struktur bahasa Inggris, apalagi Yunani, maka kita dapat menemukan perbedaan waktu di antara dua hal. Literal Translation of the Holy Bible (LITV) menerjemahkan, “that hardness in part has happened to Israel until the fullness of the nations comes in;” Dalam struktur bahasa Yunani, has happened menggunakan bentuk perfect, sedangkan comes in menggunakan bentuk Aorist. Hal ini bisa dimengerti artinya dalam terjemahan LITV ini, yaitu Allah pertama kali mengeraskan hati sebagian Israel secara jasmani terlebih dahulu sampai Ia memasukkan orang-orang non-Yahudi dalam jumlah yang lengkap. Apa yang kita bisa pelajari dari ayat ini?
Pertama, predestinasi dan reprobasi. Hal pertama yang bisa kita pelajari adalah sentralitas Allah di dalam hal keselamatan. Di sini Paulus mengatakan bahwa pengerasan terhadap sebagian Israel terjadi terlebih dahulu. Jika kita memerhatikan struktur bahasa Yunani, maka “terjadi” di sini menggunakan bentuk aktif. Dengan kata lain, Allah lah yang mengeraskan hati sebagian orang Yahudi secara fisik. Hal ini dilakukan dalam konteks keselamatan. Allah berdaulat mengeraskan hati orang-orang yang bukan merupakan umat pilihan-Nya, sedangkan Ia juga berdaulat menarik umat pilihan-Nya TANPA paksaaan kepada-Nya. Dengan kata lain, predestinasi mencakup pemilihan dan penolakan (reprobasi). Kepada orang pilihan-Nya, Ia memimpin hidup mereka, sedangkan kepada orang-orang sisanya (tentu merupakan orang yang ditolak-Nya), Ia mengeraskan hati mereka dan membiarkan mereka. Ia mengeraskan hati orang yang ditolak-Nya dengan cara Ia sengaja membiarkan orang-orang tersebut tidak meresponi apa-apa ketika Injil diberitakan atau bahkan terang-terangan menolak dan menghina Injil dan Kristus. Realita yang terjadi adalah hal ini banyak (tidak semua) terjadi pada orang Yahudi. Bagaimana dengan kita? Perhatikan: tidak semua orang Kristen adalah anak Allah! Dengan kata lain, ada orang Kristen yang bukan umat pilihan Allah, mungkin sekali umat yang tertolak tetapi masih indekos di dalam Kekristenan. Apa ciri-ciri yang membedakan dua orang ini? Memang sangat sulit membedakannya, tetapi kunci pembedanya hanya satu yaitu masalah hati. Itu mungkin tidak bisa diuji oleh orang lain, tetapi merupakan masalah pribadi. Mari kita menguji masing-masing hati dan motivasi kita. Sungguhkah kita memiliki hati dan motivasi yang murni ketika melayani Tuhan? Ataukah kita terpaksa melayani Tuhan? Jika kita melayani Tuhan dengan hati dan motivasi ingin mencari kepentingan diri, merasa diri layak, dll, waspadalah, kita mungkin tidak sedang melayani Tuhan, tetapi ambisi diri. Jangan-jangan, kita mungkin termasuk golongan yang tidak dipilih Allah tetapi masih mengklaim diri “melayani Tuhan” bahkan naik mimbar berkhotbah. Orang yang jelas-jelas ditolak Allah adalah orang yang tidak menghargai kedaulatan Allah di dalam seluruh kehidupannya (bukan hanya masalah di dalam konsep/teori saja). Seperti sebagian Israel yang dikeraskan hatinya oleh Tuhan, orang yang ditolak Allah juga adalah mereka yang dikeraskan hatinya agar tidak taat kepada Allah yang berdaulat, tetapi memenuhi keegoisan diri (utilitarian). Waspadalah!

Kedua, adanya kaum sisa (remnant). Kalau di poin pertama, kita belajar aspek negatif, yaitu Allah mengeraskan hati orang-orang sisa yang tidak dipilih-Nya, maka di poin ini, kita belajar aspek positif yaitu apa yang Allah kerjakan di dalam umat pilihan-Nya. Poin kedua yang bisa kita pelajari adalah tentang pemilihan Allah yang melampaui pemikiran kita dan apa yang dilakukan-Nya bagi umat pilihan-Nya. Tuhan membalikkan semua paradigma dan penafsiran Israel pada zaman dahulu. Dulu Israel berpikir bahwa merekalah bangsa/umat pilihan Allah. Tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Allah justru membalikkan pemikiran mereka dengan mengeraskan hati sebagian Israel yang tidak taat dan tetap membiarkan sisanya menjadi umat-Nya yang sejati yang nantinya digabungkan dengan orang-orang non-Yahudi. Di sini, Allah memilah sendiri mana yang menjadi umat-Nya yang sejati dengan mengeraskan hati orang Yahudi, sedangkan sisa dari orang yang tidak setia dipelihara-Nya sampai akhir. Poin pertama dan kedua sama-sama berbicara mengenai “sisa”. Di poin pertama, sisa berbicara mengenai sisa secara otomatis dari orang-orang yang tidak dipilih-Nya. Sisa di sini berbicara bukan dalam arti harfiah secara kuantitas, tetapi sisa di poin kedua berkaitan dengan kuantitas dan esensial. Sisa di poin pertama adalah sisa yang berkuantitas banyak dan menjadi mayoritas di mata manusia (tetapi tidak di mata Allah), sedangkan sisa di poin kedua adalah sisa yang benar-benar sisa/minoritas di mata dunia (tetapi mulia di mata Allah). Di poin kedua ini, sisa yang minoritas itulah umat pilihan-Nya di dalam Kristus yang setia dan taat mutlak kepada Kristus. Hal ini akan membedakan mereka dari orang “Kristen” yang ternyata bukan umat-Nya yang mengklaim diri “Kristen” bahkan “melayani Tuhan”, tetapi hidup mereka lebih menuruti kehendak diri ketimbang kehendak-Nya. Di sini, Tuhan TIDAK pernah menuntut kuantitas banyak, tetapi kualitas (dengan kuantitas yang tidak banyak). Perhatikan apa yang Alkitab ajarkan. Dari Perjanjian Lama, Allah sudah mengajarkan bahwa Ia lebih melihat hati ketimbang hal-hal luar. Sampai Perjanjian Baru, Kristus sendiri mengajar bahwa ada dua jalan, yaitu: jalan yang lebar permulaannya, namun sempit pada akhirnya dan menuju pada kebinasaan, sedangkan jalan yang sisanya adalah jalan yang sempit pada mulanya, namun lebar pada akhirnya dan menuju kepada kekekalan. Jalan yang pertama banyak dilalui oleh orang (=mayoritas), karena jalan ini tampak menyenangkan. Tetapi mereka tidak menyadari akhir dari jalan itu. Sedangkan jalan yang kedua sedikit dilalui oleh orang (=minoritas), tetapi mereka akan menemui kekekalan yang penuh sukacita. Termasuk jenis orang Kristen manakah kita? Apakah kita termasuk orang yang mengikuti jalan pertama yang ikut arus dunia (=mayoritas) ataukah kita termasuk orang yang mengikuti jalan yang kedua yang tidak mau ikut arus dunia, tetapi ikut Tuhan saja (=minoritas)? Jika kita pilih jalan yang kedua, kita pasti dihina oleh banyak orang dengan segudang alasan yaitu kurang gaul, sok suci, dll, tetapi percayalah, tujuan akhir yang kita dapatkan lebih mulia daripada mereka semua. Itulah harga dan salib yang harus kita terima sebagai orang minoritas. Maukah kita berkomitmen melakukannya?


Dari Perjanjian Lama, Paulus melanjutkan pengajarannya di ayat 26 dan 27 tentang dua poin tentang keselamatan yaitu sentralitas Kristus dan peran aktif Roh Kudus.
Di ayat 26, Paulus mengatakan, “Dengan jalan demikian seluruh Israel akan diselamatkan, seperti ada tertulis: "Dari Sion akan datang Penebus, Ia akan menyingkirkan segala kefasikan dari pada Yakub.” Ayat ini harus ditafsirkan dengan hati-hati, karena jika tidak, ayat ini akan mengakibatkan pengajaran dispensasionalisme yang mengajarkan bahwa nantinya Israel secara bangsa akan diselamatkan kelak di zaman Kerajaan 1000 tahun, akibatnya kaum Zionis “Kristen” saat ini menanti-nantikan kedatangan Kristus kedua kali di Yerusalem. Padahal ayat ini tidak menuju ke arah situ. Seluruh Israel akan diselamatkan tidak berarti seluruh Israel secara jasmani, tetapi menunjuk kepada Israel rohani yaitu semua umat pilihan-Nya dari semua bangsa. Hal ini ditekankan Paulus dengan mengutip Yesaya 59:20, “Dan Ia akan datang sebagai Penebus untuk Sion dan untuk orang-orang Yakub yang bertobat dari pemberontakannya, demikianlah firman TUHAN.” Konteks Yesaya 59 sedang membicarakan kebebalan Israel (baca mulai ayat 2), tetapi ada janji Allah bagi umat-Nya mulai ayat 19 yang disusul dengan ayat 20 bahwa Allah akan datang sebagai Penebus untuk Sion dan bagi orang-orang Yakub (Israel) yang bertobat dari pemberontakannya. Ayat ini jelas merujuk kepada Kristus sebagai Penebus Israel yang menyelamatkan umat-Nya dari pemberontakan dosa. Di dalam Kristus inilah, semua Israel (rohani) akan diselamatkan. Itu artinya. Jadi, yang ditekankan Paulus bukan Israel dan Kerajaan Allah secara harfiah dan jasmaniah, tetapi Israel dan Kerajaan Allah secara rohani di dalam Kristus. Di tengah pemberontakan dosa, Allah itu setia, Ia memberi jalan keselamatan dari setiap pemberontakan. Hal ini membuktikan kasih setia-Nya sekaligus keadilan-Nya. Sebagai bukti kasih setia-Nya, Ia berdaulat memilih beberapa manusia yang berdosa untuk menjadi umat-Nya, dan membuang/menolak sisanya. Sebagai bukti keadilan-Nya, Ia menuntut pertanggungjawaban dari setiap dosa yang diperbuat oleh orang yang tidak dipilih-Nya. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita bersyukur atas anugerah-Nya yang telah menarik kita dari dunia kegelapan menuju kepada terang Allah yang ajaib?


Bukan hanya di dalam Kristus, keselamatan bagi umat-Nya juga meliputi karya Roh Kudus. Paulus menjelaskan di ayat 27, “Dan inilah perjanjian-Ku dengan mereka, apabila Aku menghapuskan dosa mereka.” Ayat ini dikutip dari Yeremia 31:33-34 yang berbicara mengenai perjanjian baru bagi Israel, “Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka."” Apakah yang Paulus maksudkan di Roma 11:27 tadi yang dikutip dari Yeremia 31:33-34?
Pertama, kovenan baru di dalam Firman melalui Roh Kudus. Bangsa Israel adalah bangsa yang menerima wahyu Allah di dalam Taurat dan Perjanjian Lama. Mereka mempelajari Taurat sejak kecil, tetapi sayang tidak mengerti esensinya, sehingga mereka berdosa ketika mereka mencoba mempraktikkannya dengan pengertian yang salah. Oleh karena itulah, Ia berjanji akan menaruh Taurat-Nya di dalam batin umat-Nya dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Ia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya, sehingga mereka tidak perlu diajar tentang Tuhan, karena Taurat-Nya sudah ada di dalam umat-Nya. Di sini, kita belajar tentang wahyu Allah secara khusus di dalam Kristus dan Alkitab. Melalui Kristus, kita bisa mengenal Allah. Melalui Roh Kudus, kita bisa mengenal Kristus dan Kristus bertakhta di dalam hati kita sebagai Raja, Tuhan, dan Pemilik hidup kita. Melalui Alkitab, kita dicelikkan hati dan pikiran kita oleh Roh Kudus tentang betapa agungnya keselamatan kita dan apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Di sini, fungsi Roh Kudus ada dua, yaitu melahirbarukan kita sehingga kita bisa bertobat kepada Kristus, dan mencerahkan hati dan pikiran kita melalui Alkitab yang Ia wahyukan sendiri.

Kedua, pemeliharaan kovenan Allah. Allah yang telah memberikan janji bagi umat-Nya, Ia jugalah yang akan memeliharanya. Sehingga Tuhan sendiri di Yer. 31:34 berjanji bahwa Ia akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka. Berarti, kovenan yang telah Ia berikan bagi umat-Nya, akan Ia pelihara sampai akhir, sehingga kovenan Allah itu kekal. Providensia kovenan Allah membuktikan bahwa Allah itu setia pada janji-Nya dan inilah pengharapan keselamatan kita. Kalau Allah tidak setia, apa gunanya kita berharap kepada “Allah” yang plin-plan dan ambigu? Puji Tuhan! Di dalam Alkitab, kita beriman di dalam Allah yang setia. Setia dalam terjemahan Yunani bisa diterjemahkan beriman atau dapat diandalkan (trustworthy). Lalu, bagaimana Allah memelihara kovenan-Nya? Melalui Roh Kudus, Allah memelihara kovenan keselamatan bagi umat-Nya dengan memimpin setiap langkah hidup kita agar kita hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan kata lain, Roh Kudus memimpin kita terus menyangkal diri dan memikul salib serta mengikut-Nya setiap hari. Atas anugerah pimpinan Roh Kudus lah, kita bisa hidup memuliakan-Nya. Hal ini yang memungkinkan dan mendorong kita semakin hidup mencintai-Nya dan firman-Nya dengan bersaksi bagi-Nya di dalam kehidupan kita sehari-hari.


Kita sudah belajar tentang kedahsyatan pikiran Allah dan 2 hal tentang keselamatan, sudahkah hati kita bersyukur dan semakin digentarkan untuk bersaksi bagi-Nya? Biarlah perenungan tiga ayat ini membukakan pikiran kita tentang betapa agungnya pemikiran Allah dan keselamatan yang telah Ia buat bagi kita serta mendorong kita mewartakan Injil Kristus kepada mereka yang belum percaya. Amin. Soli Deo Gloria.

09 November 2008

DOAKANLAH KKR DI SUMATERA UTARA (10-11 November 2008)

DOAKANLAH KKR DI SUMATERA UTARA
10-11 November 2008
Bagi Sdr/i yang punya teman/saudara di daerah tsb dapatmenginformasikannya ... Thx..

Roma 1:16 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil,karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya
Lukas 5:32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orangberdosa, supaya mereka bertobat."

KKR DELI TUA 2008
Kekudusan Tuhan dan Kenajisan Manusia
oleh: Ev. Radjali
Senin, 10 November 2008
KKR Anak: 14.00
KKR Muda/i: 16.00
KKR Umum: 19.30
di Jambur Ras - Deli Tua



KKR PANCUR BATU 2008
Misteri Allah Jadi Manusia
oleh: Pdt. Aiter, M.Div.
Senin, 10 November 2008
KKR SD: 07.30
KKR SMP/SMA: 09.00
Kamis, 13 November 2008
KKR SD (kls 3-4): 13.00
KKR SD (kls 5-6): 15.00
Seminar “Keluarga Bahagia”: 18.30
di Gereja Methodist Indonesia - Jemaat Antiokhia,
Jl. Jamin Ginting no. 35 - P. Batu
CP: Bp. Wong (08126574553) & Sdr. Dalan (081361572494)



KKR BULUH NIPES 2008
Lelah dan Kacaukah Jiwamu
oleh: Pdt. Aiter, M.Div.
Senin, 10 November 2008
KKR Umum: 19.30
di Balai Desa Buluh Nipes - Dusun III Sibiru-biru


KKR PERDAGANGAN 2008
Kutau Siapa yang Kupercaya
oleh: Ev. Radjali
Selasa, 11 November 2008:
KKR SD: 08.30
KKR SMP: 10.15
KKR SMA: 11.45
KKR Umum: 19.00
di Sopo Godang HKBP Perdagangan



KKR LIMA PULUH 2008

Aku Percaya
oleh: Pdt. Aiter, M.Div.
Selasa, 11 November 2008:
Seminar Hamba Tuhan: 10.00
KKR SD: 13.30
KKR SMP/SMA: 14.30
KKR Umum: 19.00
di Gedung Serba Guna Maranatha HKBP Lima Puluh

Diselenggarakan oleh:
Stephen Tong Evangelistic Ministries International (STEMI)

Sekretariat Panitia: 085262251000
MRII Medan