Di posting in saya memuat respon Sri Adrianti Muin ttg tulisan saya sebelumnya “Efektifkan Undang-undang Pornografi itu?”. Anti, nama panggilannya adalah sahabat dekat saya waktu kuliah. Makan, tidur bahkan mandi bareng, dekaat sekali deh. Dia salah satu teman dimana saya bisa curhat apa saja, tentang pelajaran, perasaan, pacar, masa depan, agama, dll. Beda dengan saya yang adalah staying home mom, Anti adalah PhD candidate di Bidang ekonomi.
Jika anda tertarik untuk memberikan pendapat … Just leave a comment, I really appreciate it.
Anti:
“Sebenarnya hukum agama sudah mengatur apa yang boleh atau ga boleh dilakukan sama umatNya.Tp negara kita kan bukan menghukum seseorang berdasarkan hukum agamanya? Kembali ke batasan pornografi (atau pornoaksi?). Apa seni tari klasik jawa, atau tari bali bikin libido orang naik? rasanya mustahil. Tapi coba tonton goyangan inul, atau dewi persik? terasa bedanya kan? Nah jelaslah kepada siapa undang2 itu ditujukan.Belum lagi pengaruh internet pada anak2. Gimana caranya mengontrol anak2 dalam berselancar ke dunia maya kalo ga ada pemblokiran situs2 porno. Anak kita mungkin masih bisa kita kontrol, tapi berapa anak2 lain yang tidak bisa? jadi jangan parno terhadap uu porno. Diliat dari niat baiknya dulu n kalo ada yang perlu direvisi, why not? Ok sobat, love with u.”
Nancy:
Menurut saya UU Pornografi itu baik dan efektif buat mereka yang sudah dewasa dan memang kepengen di atur. Tapi buat mereka yang tidak bertumbuh dewasa sehingga masih anak-anak secara mental dan spiritual (usianya tua tapi mentalnya masih sama seperti anak saya yang masih baby itu yang tidak tahu membedakan bahaya dan tidak) atau buat mereka yang merasa kebebasan mereka berekspresi dan belajar dapat terhalang, buat kedua kelompok ini UUP malah bisa menjadi batu sandungan.
Di Indonesia, walau ada UU Pornografi tapi itu tidak akan memberhentikan orang-orang yang memang akhlaknya rusak dan mencari-cari barang ‘haram’ itu. Tidak ada hukuman yang bisa membuat mereka berhenti. Malahan ini akan menjadi kerjaan ekstra buat pemeritah dan mengabaikan masalah-masalah urgent lainnya seperti perbaikan ekonomi, pendidikan, keamanan dan politik.
Dibalik UU ini memang ada niat baiknya, tapi bagaimana jika ini mengakibatkan perpecahan dan perselisihan? sedangkan ada cara lain yang lebih baik dan efektif untuk dijalani?
UU Pornografi itu akan efektif jika di dukung oleh factor-faktor lainnya, ada empat factor yang saya usulkan terinsipirasi dari cara mendidik anak. Salah satunya dengan memperkuat ajaran agama dan norma positif di dalam keluarga.
Saya setuju bahwa kita harus menolong generasi muda dari bahaya kerusakan moral. Benar bahwa kita bisa mendidik anak sendiri tapi bagaimana dengan anak-anak yang lain? Taruhlah sebagai orang tua kita berhasil mendidik anak jadi baik-baik, tapi bagaimana dengan teman-temannya? Untuk itu saya rasa perlu pembinaan akhlak dan agama yang dimulai dari dalam keluarga bukan pemerintah.
Bicara mengenai keluarga, di era teknologi dan globalisasi seperti sekarang kami sebisa mungkin melindungi anak-anak kami mumpung mereka masih kecil, masih murni dan belum tercemar. Sebenarnya saya lebih parno dan protektif bagi anak-anak kami daripada mereka yang mendukung UU Pornografi. Kami bahkan berniat untuk meng-homeschool mereka. Tugas kami sebagai orang tua adalah membekali mereka dengan ajaran agama, kasih sayang dan contoh moral yang akan menjadi landasan bagi mereka kelak.
Kami juga sangat cautious dengan apa yang mereka lihat dan tonton di TV dan komputer. Jarang kami menonton acara orang dewasa jika ada anak-anak (kecuali berita). Untuk acara TV Kami selalu memperhatikan age appropriate-nya. Prinsip ini juga berlaku untuk game, maianan, buku (kecuali bacaan yang bersifat ilmu pengetahuan karena saya tidak mau membatasi minatnya terhadap art and science). Si Joel anak kami, sampai saat ini tidak berani menyalakan komputer dan TV tanpa seizin kami.
Banyak anak-anak lain seusia dia yang saat ini tanpa control bermain game dan berselancar di internet. Barangkali karena orang tua mereka sibuk dan tidak cukup waktu untuk mendampingi anak. Tapi sebenarnya ini pun bukan alasan karena sekarang banyak software parenting yang memungkinkan orang tua menyeleksi program untuk anak mereka. Orang tua harus secara jelas dan konsisten menaruh batasan-batasan ini sedari anak-anak mereka kecil. Jika lalai mereka akan menjadi semakin sulit pada saat usia sekolah dan mulai terpengaruh teman-teman.
Bagi saya secara pribadi UU Pornografi welcome, karena saya memang ingin di atur dan dikontrol mana tahu khilaf (^_^) Tapi bagaimana dengan mereka yang menganggap bahwa UUP itu mengungkung kebebasan mereka berekspresi dan berkreasi?
Jean Jacques Roseau pernah berkata “aku tidak setuju dengan apa yang kamu katakan, tapi akan membela sampai mati hakmu untuk mengatakannya”.
Saya sih nggak mau mendukung apalagi membela sampai mati hak mereka yang ingin Pornografi dan Pornoaksi dilegalkan, tapi saya menghargai spirit of democracy, menghargai perbedaan pendapat dan perbedaan pilihan hidup. Karena hanya dengan cara inilah kita bisa membawa bangsa kita maju ke level yang lebih tinggi.
Untuk selanjutnya mengenai penerapan, isi dan definisi Pornografi/Pornoaksi, mengenai Inul dan Dewi Persik (terus terang saya nggak pernah lihat goyangan mereka
), jadi saya minta pendapat dari pembaca yang lain deh…!
Tags: Child, Education, Family, Parenting, Politic, Pornography
Dulu pernah seseorang menegur saya karena memakai rok dan mempertontonkan betis saya yang menurutnya bisa membangkitkan gairah erotis J. Jika terjadi sekarang barangkali saya bisa terjerat UU Pornogafi karena telah mengusik libido seseorang. L
Padahal di negara-negara lain yang saya kunjungi pakaian bukanlah ‘fear factor’ baik bagi pemakai maupun penontonnya. Demikian juga entity lain yang sudah sangat jelas tergolong cabul : majalah, acara TV, video, koran, iklan, billboard dan sejenisnya yang dengan bebas bisa ditemukan di mana saja. Di Rental Video Korea sebelum mencapai rak film anak saya harus melewati deretan rak film video blue. Di kaki lima Hong Kong, majalah sekelas Playboy di jual seperti kerupuk.
Apakah kemaksiatan negara-negara ini lebih tinggi dari Indonesia? Apakah dengan memberi hukuman terhadap pornografi akan menutup pintu bagi percabulan?
Bagi saya, Undang – undang pornografi sama dengan berkatan “Jangan” kepada anak saya yang berusia 1,5 tahun. Saat ini ia melakukan apa aja yang ‘tidak’ dilakukan oleh orang dewasa yang waras. Memanjat TV, lemari, meja dan apa saja yang bisa dipanjat. Membongkar apa saja yang rapih ditata. Berusaha menyalakan kompor walau bukan untuk memasak, mencuci tangan dan wajahnya mungilnya di closet, mengunyah sliper kamar mandi mengiranya permen karet. Dan setiap kali kami berkata “jangan”, ia semakin penasaran dan semangat melakukannya. Hukuman tidak membuatnya kapok bahkan dianggapnya sebagai hiburan.
Ia sering mambuat kami panik. Misalnya ketika kami harus melarikannya ke rumah sakit ketika kepalanya bocor dan bersimbah darah atau pada waktu kami menjadi tontonan umum karena kepalanya terjepit jendela mobil. Banyak kejadian yang membuat jantung saya hampir copot dan sendi-sendi hampir lepas dari engselnya.
Jadi, apa yang harus kami lakukan sebagai orang tua yang mengasihi anaknya yang juga ingin melindunginya, membesarkannya tanpa cacat sekaligus mencegah agar rumah kami tidak kebakaran?
Pertama,
memakai insting ‘parnografi’ kami sebagai orang tua dan menjadikan rumah kami sedapat mungkin ‘baby proof’. Menempeli setiap sudut yang berbahaya, menyingkirkan semua perabotan yang tidak perlu, menyegel laci, drawer, kitchen set dengan pengaman khusus bayi (yang sebenarnya percuma karena segera ia tahu bagaimana membukanya) dan terakhir melakukan pengawasan melekat. Ini berarti tidak membiarkan ia lepas dari pandangan lebih dari lima detik.
Demikian juga untuk melindungi masayarakat dari pengaruh pornografi, cara yang paling efektif membuat negara ‘baby proof’, yang bersifat melindungi tapi bukan dengan tujuan memberi hukuman. Menurut saya, inilah fungsi dari agama, nilai-nilai tradisional keluarga dan norma-norma postif masyarakat.
Kedua,
memberikan kebebasan kepada anak kami mengeksplore apa yang ada disekitarnya dan menganggap itu sebagai proses belajarnya. Mengeluarkan isi kitchen set, mengacak-acak lemari pakaiannya, meremas-remas makanan sebelum dimakannya, menumpahkan isi gelas minumannya dan apa saja
yang ingin dilakukan selama itu tidak membahayakannya. Ajaibnya, setelah mengulangnya beberapa kali ia akhirnya bosan dan meninggalkan aktivitas yang menguras tenaga ibu itu. Memang jadinya capek membereskan semua kotoran tersebut, tapi ada juga manfaatnya bagi seorang ibu seperti saya untuk cepat menurunkan badan.
Dari pada mengeluarkan UU yang akan membuat masyarakat penasaran dan semakin semangat mencoba-coba yang akhirnya menjadikan penjara sesak dengan para eksplorer yang kepengen tahu ini, lebih baik berikan mereka kebebasan untuk belajar dari pengalaman. Belajar bertanggung jawab dan menerima konsukuensi dari pilihan-pilihan mereka. Menetukan apa yang bagi mereka benar dan melakukannya berdasarkan dorongan hati nurani. Asalkan diberi pagar-pagar yang semestinya, bebaskan masyarakat untuk membedakan terang dari gelap dan melihat kebenaran dari kedurjanaan.
Ketiga,
untuk menghindari leher tegang dan berteriak “no” setiap lima detik saya sering mengalihkan perhatian anak untuk sesuatu yang lepih positif misalnya
bermain bersama, membaca buku, menonton acara anak atau membawanya bermain ke tempat bermain anak sebagai sarana ia menyalurkannya energinya.
Jika kita setuju dengan pendapat Sigmund Freud, berarti manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh libido seksualnya yang harus disalurkan baik dalam bentuk negatif maupun positif. Oleh karena itu untuk mengalihkan energi meluap-luap masayarakat, pemerintah harus menyediakan kompensasi yang positif dan edukatif. Misalnya sediakan tayangan yang bermutu dan informatif dibanding dengan sinetron mistik menyesatkan. Bangun pusat kebudayaan, perpustakan, kebugaran, serta tempat sosialisasi lainnya yang aman dan nyaman. Ini tetunya bisa tercapai jika perekonomian negara telah mapan.
Keempat,
apapun yang kami lakukan sebagian besar akan ditiru oleh anak kami, oleh karena itu tidak ada cara yang lebih efektif untuk mengajar dan mendidik seorang anak selain dari memberikan contoh yang tepat.
Otak dirancang untuk belajar dengan meniru (Tony Buzan). Untuk menghasilkan masyarakat yang bersih, harus dimulai dari tempat tinggi, dari pemerintah dan dari aparat hukum lainnya. Mereka yang harus menjadi contoh moral. Jika pejabat punya istri simpanan dimana-mana mengapa berharap rakyat tidak melakukannya? Jika penegak hukum rajin mengunjungi rumah pelancuran mengapa rakyat yang melakukan hal yang sama harus dihukum?
Jika demikian apakah UU Pornografi itu diperlukan?
Tags: Child, Education, Family, Law, Parenting, Politic, Pornography
Jika ada kesempatan untuk berbuat baik lakukanlah segera, itu mungkin kesempatan terakhir anda.
Di suatu siang hari bolong, jam satu siang, matahari bersinar terik membakar gosong kulit setiap pengelana yang nekad berada di jalanan. Panas yang membakar datangnya tidak hanya dari atas, namun pantulannya di jalan yang beraspal dan tanah kering tandus juga menambah parah teriknya. Keadaan seperti ini seharusnya cukup menyadarkan setiap orang akan dosa-dosanya dan tidak menuju ke neraka.
Angkutan umum tidak terlalu ramai, barangkali sebagian besar sopir beristirahat atau menunggu di poll karena jam begitu tidaklah banyak penumpang lalu lalang. Saya naik angkutan umum yang biasa disebut mikrolet itu dan menjadi penumpang pertama dan satu-satunya. Seperti biasa saya mengambil tempat di sudut agar tidak di geser-geser penumpang lain mengingat perjalanan saya cukup panjang. Dalam posisi seperti ini biasanya saya tidak ingin diganggu karena adalah waktu dimana saya membiarkan pikiran ini mengembara, entah menghayal, bermimpi atau berimajinasi.
Selang beberapa waktu naiklah seorang yang sangat tua. Barangkali usianya belumlah mencapai tujuh puluh tahun namun keadaannya sangatlah memiluhkan. Badannya kurus dan renta, wajahnya dipenuhi benjolan-benjolan sebesar kacang polong, matanya merah dan bersinar lemah dan badanya mengeluarkan bau yang tidak sedap entah disebabkan oleh penyakitnya atau oleh pakaiannya yang lusuh. Ia mengambil tempat duduk di depan saya yang walau berusaha tidak perduli tapi sesekali mengamatinya.
Perjalanan belumlah panjang ketika sopir angkot itu bertanya kepada orang tua tadi “pak mau turun di mana?”. Dan dengan suara berat dipaksakan ia menjawab
“rumah sakit!”.
“Aduh pak, kenapa tidak bilang dari tadi, itu Rumah sakitnya sudah lewat. Bapak turun di sini saja dan ambil angkot lain” kata sopir itu tanpa belas kasihan sedikit pun. Orang tua itu terlalu lemah sehingga membutuhkan waktu yang tidak cepat untuk keluar dari angkot tersebut. Saya satu-satunya penumpang lain disitu tapi badan saya kaku menempal di jok mobil. Hati saya berteriak keras “ayo, tolong orang tua itu”. Namun badan saya tetap tidak bergerak. Sekali lagi suara hati saya berteriak bahkan lebih keras lagi “pegang tangannya, goblok!” . Tidak juga saya lakukan
Dan ketika kedua kakinya menginjak tanah sang sopir langsung menacap gas dan pergi meninggalkan orang tua itu yang sedang berjuang menjaga keseimbangan dan mengibas debu yang dihasilkan roda –roda angkot tersebut. Saya memandangnya dari kaca mobil, dengan penuh belas kasihan dan rasa bersalah. Entah apa yang menahan tubuh ini dan membuatnya tidak bekerja sama dengan akal sehat dan suara hati. Saya seharusnya dapat menolong orang tersebut, menegur sopir yang tidak manusiawi, membantunya turun, mengantarnya ke RS, menghubungi keluarganya, atau apa sajalah. Namun semua tidak saya lakukan. Kenyamanan telah mengalahkan keinginan untuk berbuat baik. Perasaan tidak ingin ditepotkan telah mendiamkan teriakan suara hati nurani. Dan sekarang saya punya masalah, karena wajah orang tua itu terus membayang mengikuti kemana saya pergi : ke sekolah, waktu makan atau mejelang tidur.
“Apa yang terjadi jika seandainya orang itu adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk menguji saya?” tanya saya dalam hati. “Habislah reputasi saya sebagai anak Tuhan jika orang itu memang adalah malaikatnya” terus menerus saya berkata pada diri sendiri sekan-akan ingin menghukumnya dengan perasaan bersalah.
Tiga hari kemudian, ayah saya berkata bahwa seorang tak dikenal telah meninggal di rumah sakit tempat ia bekerja yang adalah rumah sakit tujuan orang tua tersebut ketika saya bertemu dengannya. Dan ia tidak memiliki keluarga atau siapapun. Saya tidak punya kesempatan untuk melihat tampang mayat tersebut, namun dalam bayangan saya orang tua itulah yang terbaring di sana. Jika benar, saya telah kehilangan kesempatan untuk berbuat baik yang terakhir kali
buatnya.
Pengalaman ini mengubah saya untuk tidak menunda untuk mengulurkan tangan bagi yang membutuhkan. Pertama mereka mungkin adalah malaikat yang menjelma, kedua itu mungkin kesempatan terakhir bagi kedua pihak. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
Banyak orang Kristen yang merasa terlalu nyaman berada di dalam gedung gereja yang ber AC dan berkarpet tebal. Para pendeta juga lebih senang melayani di tempat yang menjanjikan uang daripada menjanjikan jiwa. Sementara itu di sekitar kita masih banyak malaikat-malaikat yang berkeliaran menyerupai pengemis, gelandangan, pengamen dan anak-anak kecil di lampu merah.
Terlalu banyak orang yang membutuhkan berada di sekitar kita yang tentu tidak masuk akal jika kita harus menolong semuanya. Namun, paling tidak ulurkan tangan kepada orang yang Tuhan kirim kepada Anda.
Tags: Angel, Inspirational
Setelah beberapa minggu ini disuguhkan dengan topik-topik yang berat, I just want to a take break for a moment, menyajikan sepenggal kehidupan kami di Korea, sekaligus sebagai Partisipasi dalam Fidda Abbot Contest.
Mari pandang sekeliling, dimanapun Anda berada, dan temukan keindahan dibaliknya. Di tengah kemacetan ibu kota, di balik mata pedagang kaki lima, di sela-sela tugas menumpuk dan target yang diburu. Masih adakah dunia ini mengingatkan kita pada pencipta?
“Karena apa yang tidak nampak daripadaNya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, dapat nampak dari pikiran dan karyaNya”
Tahun ini adalah musim gugur yang ke-sembilan di Korea. Saya masih terus menghitung waktu sambil melihat daun-daun itu jatuh. Berapa lama lagi saya masih diberi kesempatan menikmati kemanjaan alam ini. Daun-daun keemasan di penghujung hidup mereka, sebentar lagi akan kering, layu, dan bersatu dalam debu. Teriknya musim panas tidak lagi terasa, menggigilnya musim dingin belum lagi tiba dan musim menuai sebentar lagi akan datang menambah semaraknya.
Tidak pernah sekalipun saya melewati musim gugur ini tanpa mengabadikannya dalam bentuk gambar. Demikian juga hari ini, sambil menikmati matahari yang bersembunyi dibalik awan, memberikan kesempatan pada keluargaku menikmati sejuknya suasana. Tanpa emosi saya berkata “seandainya ini adalah Indonesia”. Suami saya juga berkata iya.
Ternyata keindahan ini belumlah lengkap karena kami tidak berada di bumi pertiwi. Daun-daun keemasan tidak bisa mengganti kenangan akan kampung halaman, wajah handai taulan dan hangatnya rasa persaudaraan.
Di halam rumah kehidupan saya di Korea ada dua taman. Taman yang pertama ditanami bunga-bunga indah berwarna-warni, harum, menyejukkan sanubari. Taman yang kedua tumbuh semak belukar, berduri dan sering melukai.
Setiap pagi saya bangun dan memutuskan di taman manakah akan saya habiskan hari itu.
Jika saya memutuskan menghabiskan hari di taman yang pertama, maka, Korea ini adalah negara yang indah. Tansportasi umum yang nyaman dan aman. Musim berganti empat kali setahun mempertegas keindahan bukit –bukit yang tergeletak rapih di sepanjang Sungai Han. Penduduknya berkulit mulus, tubuh semapai dan wajah cantik rupawan.
Jika saya memutuskan menghabiskan hari di taman yang kedua, maka, Korea ini tidaklah lebih dari sebuah negara kaku yang tidak memiliki tempat bagi orang asing. Sempitnya rumah yang kami tinggali dan mahalnya biaya hidup perhari. Masyarakatnya hidup homogen, monoton dan memiliki standard yang baku. Di balik polesan make up menawan mata-mata indah itu adalah bekas sayatan pisau bedah sehingga menghasilkan kencatikan yang palsu.
Taman hidup itu adalah pilihan. Keindahan dan keburukan adanya di telapak tangan. Hari ini saya merenung, memandang daun-daun yang berguguran, menyadari bahwa hidup ini sangat singkat. Sesungguhnya dunia ini adalah panggung sandiwara, dimana ceritanya telah diatur oleh Sang Sutradara. Manusia hanya turut memainkan peran kecilnya, kadang tertawa, kadang menangis, namun semua hanyalah sementara.
All men are frauds. The only difference between them is that some admit it. I myself deny it. H. L. Mencken, US editor (1880 - 1956)
Amerika telah memilih Barrack Obama sebagai president mereka. Dunia mendukung. Kenya mengumandangkan National Holiday, anak-anak Menteng berpesta pora, Ahmadinedjad memberikan selamat dan pemimpin negera-negara Eropa antusias. Tidak berlebihan jika Obama dikatakan sebagai Presiden Dunia.
Namun ada kelompok yang terluka dibalik perhelatan akbar ini. Mereka yang gemetar dengan janji Obama untuk menandatangani Freedom of Choice Act (what is it) yang akan memberikan kesempatan untuk ribuan aborsi terjadi setiap hari menambah angka rata-rata yang sudah di atas 1 juta pertahun (Time). Mereka yang resah dengan pernyataan Obama yang akan membatalkan Defense of Marriage Act (what is it?) sehingga memberi jalan satu persatu negara bagian melegalkan pernikahan gay. Mereka yang takut karena menganggap Obama berpaham socialis bahkan marxis, yang akan membagi-bagikankan kekayaan kepada mereka yang tidak layak menerimanya.
Di kelompok lain, mereka yang menganggap bahwa krisis ekonomi dan anjolknya wall steet lebih penting daripada mempertahankan hidup calon bayi. Mereka yang juga cinta damai dan menganggap dunia sebagai ‘better place to live’ jika Amerika angkat kaki dari Irak dan jangan turut campur urusan dalam negeri negara lain. Mereka yang merasa perlu mengembalikan citra postif Amerika di mata dunia yang selama ini di coreng habis oleh Bush administration. Mereka yang butuh perubahan, hope for a better future, mereka yang hidupnya terinspirasi oleh kehidupan Obama sendiri.
Masyarakat harus memilih. Dunia harus memilih.
Sayang sekali, karena pilihan terus ada dan tetap ada. Memilih yang satu berarti mengobankan yang lain. Perbedaan-perbedaan kebutuhan, paham dan ideology terus menerus memisahkan umat manusia. Perbedaan mengakibatkan negara angkat senjata memerangi negara lain, perbedaan mengakibatkan perceraian, perbedaan mengakibatkan gereja pecah belah. Semakin hari dunia semakin kompleks dan perbedaan pendapat juga semakin beragam. Tidak mungkin jika ada ideology yang percaya bahwa semua golongan manusia dapat disatukan bahkan jika ada yang mengatasnamakan Tuhan dan agama ingin mencapai tujuan ini.
Tags: Obama, Politic, Spirituality
Change has come to America, demikianlah dideklarasikan ketika Obama secara resmi memenangkan pertarungan panjang ini. Sedangkan rivalnya McCain, dalam pidatonya mengatakan bahwa ini adalah ‘end of a long journey’, yang juga menandakan berakhirnya impian terakhirnya menjadi orang nomor satu di Amerika. Tentu ada yang gembira dan ada yang kecewa dengan hasil akhir journey ini. Ada tawa dan juga derai air mata. Ada pesta pora dan juga yang berkabung.
Sekarang bukan lagi waktu untuk berdebat tentang siapa yang harus kalah dan menang. Bukan juga waktu untuk menunjuk jari dan mengangkat jempol. Sekarang adalah waktu untuk menghadapi tantangan hari esok. Perjuangan menghadapi evil dan immorality tidak akan pernah berakhir siapapun yang menjadi presiden Amerika. Kejatuhan manusia tidak dapat di sempurnakan oleh satu makhluk pun di muka bumi pun.
Wella, berhubung saya tidak mengikuti dengan lekat melekat kampanye dan election ini (setelah pindah rumah) jadi I am speechless. Jadi saya copy paste beberapa issue yang menjadi concern orang Kristen.
Beberapa ballot issue mengenai gay, same seks marriage, adoption dan abortion.
“It’s going to be important as we talk about this election, and make it very clear, it’s not a rejection of conservative values,” said Tony Perkins, president of FRC Action in Washington, D.C.
Dan buat siapa saja, orang Amerika atau bukan , pada akhirnya:
“that you may become blameless and harmless, children of God without fault in the midst of a crooked and perverse generation, among whom you shine as lights in the world.” (Philippians 2:15).
“Supaya kamu tiada beraib dan bercela sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya diantara mereka seperti bintang-bintang di dunia.
Saya berterima kasih untuk teman-teman yang telah memperkaya wawasan saya sebelum menulis artikel ini lewat komentar2 mereka. On board, ada beberapa expert yang memang andal untuk menganalisa masalah ini. Boleh dikata lengkap deh, ada Binsar Sitorus (pendeta), Yudhi Gejali (dokter), Indra Karjianto (psikolog), Singal dan Sahala Napitupulu (penulis), Kandar (poet dan filsuf ? :)), Steffany Tan (specialis ayat Aliktab kita
); tidak lupa juga saksi hidup seperti Nelotte, Stefanus, Gie, David Hotary: serta komentator berharga lainnya, Gloria Limbong, Ruben Manik, Harry Simbolon, Min2, d~, Peter; bahkan kunjungan dari blogger Muslim yang ikuti koment Ajaran dan Kuro.
Baiklah saya akan mulai dari merangkum beberapa pendapat mereka ditambah dengan masukan dari beberapa buku dan artikel yang saya baca.
1.Depresi bisa diderita siapa saja.
“Depressi, sama siapapun bisa terjadi termasuk pada para pendeta atau penetua, jemaat kristen, atau setiap orang pada umumnya.” Singal
Steffany juga memberi daftar panjang tokoh alkitab yang juga mengalaminya (Abraham, Yunus, Ayub, Elia, Saul, Yeremia dan Daud) kalau boleh saya tambahkan tokoh dari Perjanjian Baru yaitu Yohanes Pembabtis, Yudas, dan Yesus Sendiri. Dari kesemuanya hanya Yudas yang berhasil melakukan “complete suicide”
J
Raksasa rohani seperti Charles Spurgeon dan Marthin Luther adalah contoh lain yang sangat significant. Spurgeon yang dikenal sebagai “Prince of Preaching” mengalami Clinical Depression sepanjang hidupnya. Ada saat-saat dimana selama berhari-hari ia tidak mampu untuk bergerak, kondisi ini membuatnya berulang kali ingin meninggalkan tugas mimbarnya. Penderitaannya karena depresi ini sangatlah berat sehingga satu-satunya penghiburannya adalah mendegarkan istrinya membacakan buku (W. Kirwan “Biblical Concepts for Christian Counseling”). More about Charles Spurgeon.
Marthin Luther suatu sisi mengalami perjuangan mengatasi masalah emosional.
“Luther also saw several examples of depression. He used a variety of words to describe this problem. One finds words such as melancholy, heaviness (remember Wesley’s use of this term?) downcast, sad, depression, downhearted and dejection of spirit.” (source here).
2.Depresi berhubungan dengan masalah relationship.
“Namun manusia, perlu teman, perlu penghiburan, perlu berbagi rasa, perlu kita meletakkan diri diposisinya, supaya bisa kita obati, sebagaimana Tuhan Yesus datang sebagai manusia.” Singal
“Mengalami kebingungan, ..tidak dicintai, tidak dimengerti, tidak adil..” Stefanus
“Waktu itu aku masih belon kenal Tuhan sih. Aku decided to kill myself karena rejection and low self-worth sejak dari kecil, and juga pernah di abused sexually. Jadi bikin life tambah meaningless to me.” Nelotte.
Tuhan berkata “Tidak baik manusia itu sendiri saja” (Kejadian 2:18). Relationship atau hubungan adalah esensi dari kebutuhan manusia, kebutuhan untuk dicintai, mencintai; kebutuhan untuk merasa berarti, diterima, diakui; dan kebutuhan bersosialisasi dengan makhluk lainnya.
Harry S. Sullivan mengatakan “Personality is formed by the interpersonal relationship that an individual has, especially with close persons, during his entire lifetime…Personality consists of the characteristic way a person deals with other people in his interpersonal relationships”
3.Depresi adalah masalah spiritual.
“Depresi dan tekanan akan dialami setiap orang yang hidup di muka bumi ini .. perasaan2 tersebut biasanya akan di-amplifikasi (diperkuat seperti dengan sound system imajinatif) dan orang yang tidak memiliki iman dan janji Tuhan Yesus tidak aakn kuat menahannya.” Binsar Sitorus.
“Depresi karena bersalah ” Stefanny
“Kalo dari sudut pandang Kristen (mengacu pada pelajaran iGrow-APS), depresi berkelanjutan bahkan sampai ada intensi utk bunuh diri bisa jadi karena adanya ikatan kuasa jahat/kutuk yg belum dipatahkan.” Indra Karjianto
I’m not denying that depression can be spiritually induced. Guilt from having wronged and hurt others can bring it on. A sense of having failed to live out the will of God can give rise to depression. Certainly the fear of death and what might follow can sap the joy out of life. In such cases, meditation on scripture (especially the Psalms), prayer, and other spiritual disciplines often can make available what the Bible calls “the balm of Gilead” that heals the sin-sick soul (Jeremiah 8:22).(source here)
4.Depresi bisa disebabkan bermacam-macam factor.
“Masalahnya macem2: gara2 broken home lah, cerai, di phk, putus sama pacar, kesulitan ekonomi, dsb.” Gloria Limbong
“Secara medis, depresi ada yg disebabkan oleh alasan psikis, dan fisik. Kalo fisik,biasanya karena Gangguan keseimbangan Neurotransmitter,kurangnya Serotonin.” Yudhi Gejali.
“Depresi, saya setuju bisa dialami oleh setiap orang. Depresi itu bisa lintas agama, lintas partai,lintas suku dan lintas budaya. Mulai dari Artis, politisi, pendeta, wartawan, kaum awam, para blogger hingga komentator blog, semua rentan dengan stress dan depresi. Penyebabnya bisa macam-macam.” Sahala Napitupulu
Selain dari masalah spiritual, depresi juga disebabkan oleh factor-faktor lain yang tidak ada hubungannya dengan iman seseorang tapi berupa pola hidup dan factor genetic. Banyak kasus depresi juga ditemukan pada anak-anak dan bayi. Contoh lain adalah, kelelahan, diet dan exercise dan chemical imbalance.
5.Kesimpulan
Bertahun-tahun yang lalu saya menganggap bahwa depresi adalah sesuatu yang memalukan dan menunjukkan lemahnya iman seseorang. Waktu itu saya belum benar-benar mengenal istilah psikologisnya ‘dan menyebutnya sebagai ’spiritual breakdown’.
Mengetahui bahwa depresi bisa diderita siapa saja membuat saya punya kepercayaan diri untuk ‘come from the closet’ dan mengaku saya juga pernah mengalami depresi bahkan samapai usia 19 tahun pernah 3 kali mencoba untuk bunuh diri (lihat kesaksian saya disini). Percobaan yang terakhir membuat saya berhadapan muka dengan maut, pengalaman yang sangat menakutkan. Puji Tuhan karena Ia menyelamatkan dan membuat saya sadar bahwa hidup itu berharga.
Karena perjalanan hidup saya, maka Tuhan juga mempertemukan dengan orang-orang yang punya pengalaman serupa. Sama seperti C. Spurgeon yang tidak menganggap bahwa penderitaannya melawan depresi adalah dosa melainkan adalah cara agar ia lebih efektif melayani mereka yang juga mengalami masalah serupa.
Saya rasa jika kita tidak pernah mengalami pergumulan, hidup dalam kebahagian senantiasa, kita tidak bisa melayani orang-orang yang menderita.
Banyak hamba Tuhan yang membuat Kekristenan menjadi sesuatu yang menakutkan. Jika seseorang memiliki masalah emosi dengan gampangnya mereka berkata,
“Anda harus lebih banyak berdoa dan baca Alkitab!;
“Barangkali ada dosa yang belum diakui!”,
“Cobalah bertobat dan minta ampun!”; ”
“Mungkin Anda harus dilepaskan dari kutuk dan roh jahat”.
Inilah sikap saya beberapa tahun lalu sampai Tuhan membawa saya ke dalam ’spirital agony’ yang dalam dan lebih berhati-hati sebelum memberi label ‘rohani’.
Pada akhirnya yang akan menetukan menang atau kalah seseorang bukanlah jenis pertandingannya tapi hasil akhirnya!
Saya juga ingin sekaligus menjwab pertanyaan d~
“cm ga tau napa masi ragu aja, klo ada masalah malah buat gw makin takut beharap ke arah Tuhan. Gw lebih suka mikir kl ‘mang hidup mang gitu ya, ga bkal pena adil. Kalo kita menderita masi byk kok org yg sneng hati ganti’in posisi kita, n jg masi byk yg unbeliever yg bisa betahan kok tanpa Tuhan. Juga gw ga bkal tau kl gw pcaya ma ga pcaya ada bedanya ga” (aduh ini masih bahasa SMS).
Apa perbedaan orang Percaya (Kristen) dan Tidak Percaya (non Kristen)?
Jika dalam hal masalah, tidak ada bedanya. Orang percaya maupun tidak sama sama akan mengalami masalah dalam hidupnya bahkan kadang kala orang percaya lebih banyak masalahnya.
Jika dalam hal penyelesaian masalah, sedikit bedanya. Ini tergantung dari kedewasaan rohani, mental, pendidikan, personality,
karakter, dll. Jadi kepercayaan hanya memainkan salah satu factor saja.
Jika dalah hal pengharapan (hope), disinilah perbedaan besarnya. Seandainya manusia adalah pemain trapeze (acrobatic yang melompat dari tali ke tali dalam permainan circus), maka Yesus Kristus adalah jala-jala penahannya. Kadang kala para pemain acrobat ini tidak mempergunakan jala tersebut sama sekali karena pada dasarnya mereka sudah sangat ahli dalam permainan ini. Namun, jala tersebut memberikan mereka rasa percaya diri untuk lebih bermain cantik bahkan melakukan manuver yang berbahaya. Mereka tahu jika mereka jatuh, maka akan ada yang menahannya.
Tags: Depression, Psychology, Spirituality
Menurut Menkes Siti Fadillah Supari yang dimuat di harian Kompas baru-baru ini, ada 25% persen penduduk Indonesia yang mengalami gangguan jiwa seperti depresi dan psiskosomatik. Krisis monteter, beban keluarga, tekanan sosial, factor biologis, asupan gisi, adalah beberapa dari penyebabya. Angka ini tentu saja sangat fantastis, karena itu berarti ada 1 dari empat penduduk yang mentalnya tidak beres. Entah jika angka ini juga berlaku dikalangan Kristen apalagi yang taat bribadah. Apakah orang Kristen yang taat beribadah bebas dari depresi dan gangguan psikosomatik?
Di Korea ada 36 orang bunuh diri setiap harinya yang diduga penyebab utamanya adalah depresi. Baru-baru ini artis papan atas Choi Jin Shil, ditemukan tergantung tak bernyawa di kamarnya. Ia melengkapi deretan panjang artis-artis muda dan berprestasi lainnya yang juga menemui ajal dengan cara yang sama. Lihat wajah-wajah muda dan cantik di bawah ini (dari kika: Da Bin, Lee Hye Ryeon, Lee Eun Joo, Choi Jin Shil) adakah wajah mereka familiar bagi pencinta sinetron Korea di Indonesia?




Sampai tahun 1970 depressi masih dianggap aib yang memalukan. Penderita depresi enggan untuk mencari pengobatan disebabkan oleh stigma sosial yang telah terbentuk ini (sumber: wikipedi, baca juga Daftar nama orang terkenal yang menderita depresi di sini) Jika kita masuk ke dunia Kristen, saya rasa pandangan ini masih tetap ada sampai sekarang dimana seseorang yang menderita depresi lebih sering dianggap sebagai orang yang lemah iman daripada orang yang ’sakit’ sama seperti penderita penyakit somatic lainnya (darah tinggi, diabetes, kanker, dll).
Bahaya utama dari penyakit depresi ini adalah resiko penderitanya untuk bunuh diri yang tinggi. Diperkirakan 15% dari mereka yang menderita depresi meninggal dengan cara ini (sumber: all about depression). Di Korea bunuh diri menduduki tangga nomor 4 sebagai penyebab kematian dan di Amerika nomor 8, di duga depresi adalah penyebab utamanya. Bagaimana dengan Indonesia? Adakah yang tahu statistiknya?
Awasi jika anda memiliki gejala-gejala depresi dibawah ini:
- Susah berkonsentasi, mengingat hal-hal detail dan membuat keputusan.
- Faigue dan energy berkurang.
- Perasaan bersalah, tidak berharga dan/atau helpless.
- Perasaan tanpa pengharapan dan/atau pesismis.
- Insomnia, bangun pagi terasa lemah, atau tidur yang berlebihan.
- Mudah tersinggung dan gelisah.
- Hilangnya interest untuk melakukana aktivitas dan hobbynya termasuk gairah seks.
- Rasa sakit seperti sakit kepala, kram, masalah pencernaan yang tidak reda walau diobati.
- Perasaan sedih, cemas dan kosong terus menerus.
- Pikiran untuk bunuh diri dan usaha untuk bunuh diri.
More untuk gejala Depresi dari DSM-IV : Major Depression.
Silahkan bagikan pandangan anda tentang Depressi, sebagai masukan dan informasi untuk Artikel saya selanjutnya : “PANDANGAN KRISTEN TENTANG DEPRESI”
Tags: Depression, Psychology, Suicide
Saya tidak menyangka bahwa tulisan saya tentang “Pendeta Kaum Homo” di blog ini maupun Jawaban.com mengundang banyak respons. Ternyata banyak yang berminat tentang topik ini. Sayang comment dan respon yang ada di luar dugaan saya.
Secara pribadi saya tidak menganggap dan tidak setuju dengan pandangan yang menganggap bahwa LGBT sesat. Yang saya maksud sesat adalah tindakan ‘misleading’ dari Pastor Mel White sebagai pemimpin agama yang mempraktekkan, mendukung, mengkampanyekan, memperjuangkan HS. Tindakan ini berarti menutup pintu bagi ribuan atau puluhan ribu kaum HS yang semula memiliki keinginan untuk berubah.
Pandangan sinis, prejudice, judgmental dan penolakan mentah-mentah dari orang Kristen juga menjadi salah satu penyebab bagi pada HS untuk menjauhi gereja yang tentunya juga menutup kesempatan bagi mereka untuk dilayani secara efektif. Jika karena orientasi seksual mereka berdosa, siapakah yang tidak? Siapa yang sanggup melewatkan satu hari saja tanpa berbuat dosa? Membenci dosa tidak sama dengan membenci pelakunya.
Masih banyak anggota masyarakat yang menganggap HS sebagai penyakit menular atau borok mengerikan. Di Indonesia, kaum Gay dan Transgender bahan lelucon dan ejekan (drama, komedi TV mempertontonkan stereotype gender dgn ejekan). Tidak terbayangkah bahwa mereka juga manusia sama dengan kita juga yang butuh penerimaan dan apresiasi diri?
Kebanyakan orang yang terlibat hubungan HS yang saya temui memiliki latar belakang kehidupan yang sulit sejak masa kanak-kanaknya walau sebagian juga karena terpengaruh lingkungan setelah dewasa. Mereka adalah orang-orang paling membutuhkan dukungan dan belas kasihan. Dengan orientasi seksual mereka sudah cukup menderita karena merasa lain dari yang lain. Sikap penolakan masyarakat selanjutnya juga membawa mereka pada perasaan terbuang dan tertolak sehingga membuat jalan pemulihan menjadi lebih sulit.
Jadi, bagaimanakah seharusnya sikap kita sebagai orang Kristen?
Kontroversi Mengenai Homoseksuality
Sebelum mengambil sikap sebaiknya kita harus mengerti latarbelakang dan kontroversi mengenai Homoseksualitas ini. Sejak tahun 1972, HS tidak lagi dianggap sebagai disorder atau kelainan jiwa dengan diluarkannya HS dari DSM-IV. Sejak saat itu the American Psychiatric Association) menjadi ‘leading force’ yang mendidik masyarakat untuk menerima HS sebagai suatu bagian dari variasi seksual yang normal. Orang tua dididik untuk menerima anak-anak yang memiliki orientasi HS sebagai anak yang normal, para prsikolog dan konselor tidak diperbolehkan melayani HS yang ingin berubah orientasi seks (re-orientasi seksual/conversion therapy), dan
orang yang menentang HS disebut Homophobia.
Pendapat ini bertolak dari argument yang mengatakan bahwa usaha apapun yang dilakukan untuk mengubah seorang homoseks menjadi heteroseks akan gagal. Seseorang yang telah mengikuti therapy reorientasi kemudian gagal sangat besar kemungkinan menderita depresi, anxiety atau mental disorder lainnya,
Menurut APA, HS adalah immutable (tidak bisa diubah) karena orientasi seksual ini bukanlah pilihan seseorang. Mereka percaya bahwa HS dilahirkan, beberapa penelitian yang diadakan juga mendapati bahwa ada kelainan hormone dan fungsi otak dari penderita HS. Tekanan sosial, gagalnya therapy reorientasi, diskrimimasi masyarakat dipercaya menjadi sebab para HS semakin menderita dan meningkatnya angka bunuh diri di kalangan mereka.
Di kubu lain yang tidak kalah panas, adalah kelompok yang percaya bahwa HS adalah pilihan hidup, perubahan orientasi seksual bukanlah suatu halyang tidak mungkin asal ada keinginan yang kuat dari yang bersangkutan. Pendapat ini tentunya sebagian besar di support oleh kalangan Kristen Evangelical dan kelompok psikolog yang jumlahnya semakin hari semakin bertambah.
Mereka berpendapat bahwa (1) Perlunya otonomy seseorang yang ingin berubah (maksudnya, jika ada yg HS yang mau berubah tidak boleh ditolak) (2) Perlunya menghargai nilai-nilai budaya dan pandagan agama mengenai prilaku seksual (3) Memperhatikan dan mengakui bahwa ada bukti-bukti dari reorientasi seksual yang sukses.
Tags: Church, Gay, Homoseks, Psychology, Spirituality
Krisis ekonomi yang berkepanjangan dan sempitnya kesempatan kerja di tanah air mendorong ratusan ribu orang Indonesia mencari nafkah di luar negeri. Ada yang datang baik-baik dan kembalinya juga baik-baik (legal worker) tapi ada juga yang datang baik-baik tapi pulangnya tidak (illegal worker). Para pekerja Illegal ini tersebar di banyak negara, seperti Amerika, Korea, Jepang, Malaysia, Australia dan negara-negara lain yang memang memberi cela bagi pekerja yang demikian. Pekerjaan mereka juga biasanya adalah pekerjaan yang enggan dilakoni warga setempat karena tergolong 3D (dangerous, dirty, difficult).
Bekerja secara illegal jelas melanggar hukum Negara yang bersangkutan sehingga kalau tertangkap dianggap sebagai criminal, tangan di borgol, di denda, dijadikan pekerja paksa, di masukkan penjara kemudian di deportasi. Namun, apakah bekerja secara illegal juga bertentangan dengan Firman Tuhan?
Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat beragam motivasi orang-orang ini bekerja. Ada seorang ayah yang ingin menghidupi keluarganya karena tidak ada pekerjaan yang cocok baginya di Indonesia. Ada seorang ibu yang bercita-cita menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi supaya memiliki nasib yang jauh lebih baik darinya. Ada seorang pemuda yang ingin mengumpulkan modal untuk memulai suatu usaha kecil yang nantinya membuka lapangan pekerjaan bagi yang lain. Ada seorang pemudi yang ingin menabung supaya bisa kembali dan melanjutkan cita-citanya yang tertunda. Dan banyak lagi motivasi lainnya yang kelihatan baik-baik saja.
Sebagai seorang pastor yang melayani orang-orang asing baik yang legal dan illegal selama bertahun-tahun saya melihat bahwa kasih karunia Tuhan tidaklah memandang status legal seseorang. Bahkan boleh dikata orang illegal mendapatkan anugerah yang lebih karena mereka lebih mudah dijangkau, bertobat, berubah, setia ke gereja dan mengandalkan Tuhan. Ketidakberuntungan mereka sering menjadi keuntungan.
Di Korea, gereja juga pada umumnya menganggap orang asing -tanpa membedakan illegal atau legal- sebagai bagian dari pelayanan social. Mereka dilayani untuk mendapatkan hak-hak pekerja, diberikan pelayanan kesehatan cuma-cuma atau ditampung sementara jika tidak memiliki pekerjaan. Seringkali tanpa misi kristenisasi bagi yang beragama non-kristen.
Dalam keadaan ini sulit untuk memisahkan antara pelayanan dan kepatuhan terhadap hukum pemerintah. Jika kita harus tunduk pada seluruh aturan pemerintah, berarti siapa yang bersalah termasuk yang illegal harus dilaporkan dan mendapatkan hukuman setimpal. Tapi ada hukum yang lebih tinggi yaitu kesempatan untuk menerima keselamatan jiwa dan kesempatan untuk memperoleh hak asasi manusia, membawa orang untuk melanggar hukum lainnya (dalam hal ini hukum keimigrasian).
Jadi, jika ada orang Kristen yang berniat untuk bekerja secara illegal ke luar negeri apakah itu dosa? Kembali kepada hati nurani orang itu sendiri. Saya percaya semakin kuat iman seseorang maka kepekaannya akan dosa dan bukan dosa juga akan semakin tinggi. Yang lebih penting untuk diketahui jika memang ada yang berminat menjadi pekerja illegal bahwa keputusan itu memiliki konsekuensi langsung seperti hilangya hak-hak pekerja (upah minimum, bonus, asurasi, dan pelayanan lainnya) karena mereka bukanlah pembayar pajak. Orang-orang seperti ini juga harus bersedia diperlakukan semena-mena: gaji tidak dibayar, under pay, overtime, dipecat, dianiaya, dikucilkan, sakit dan kecelakaan kerja tanpa kompensasi, atau ditipu agen tenaga kerja. Hidup mereka juga tidak akan tenang karena selalu ketakutan dan bersembunyi dari aparat.
Saya rasa dengan beban menjadi orang asing, buruan polisi imigrasi, dilanggarnya hak-hak asasi manusia sudah menjadi ‘hukuman’ yang berat bagi pekerja illegal ini. Sehingga apa yang mereka butuhkan adalah kekuatan dan penghiburan bukan condemnation dan kuliah tentang masalah hukum.
Tags: Ilegal, Korea, Spirituality, Worker



