|
Sabtu atau Minggu?
Oleh Eka Darmaputera
”INGATLAH DAN KUDUSKANLAH HARI SABAT. HARI KETUJUH ADALAH HARI SABAT
TUHAN, ALLAHMU; JANGAN MELAKUKAN SESUATU PEKERJAAN, ENGKAU ATAU
ANAKMU ATAU HAMBAMU ATAU HEWANMU ATAU ORANG ASING YANG DI TEMPAT
KEDIAMANMU”.
Hukum sosial yang semula mengandung nilai pembebasan dan kemanusiaan
yang sangat tinggi ini—bayangkanlah, bahkan budak dan hewan pun
punya hak untuk beristirahat!—sayang sekali lambat-laun berubah
menjadi sebuah hukum agama yang kaku dan penuh pembatasan. Hari yang
seharusnya penuh sukacita berubah menjadi hari yang muram karena
terlalu banyaknya larangan dan aturan.
Ada sebuah contoh ektsrem dari sejarah mengenai yang saya katakan
itu. Konon, sewaktu terjadi pemberontakan Makabeus melawan
penjajahan Roma, dikisahkan bagaimana orang-orang Yahudi memilih
berdiri diam tanpa melawan, ketika serdadu musuh dengan dingin
membantai dan membabat mereka—ribuan jumlahnya.
Menurut Yosefus, mereka juga cuma berdiri menonton dari
ketinggian—tidak bereaksi apa-apa—tatkala pasukan Pompei di depan
mata mereka membangun kubu-kubu untuk mengurung mereka. Mengapa?
Karena ini terjadi pada hari Sabat.
Sikap yang heroik, bukan? Mungkin. Tapi kita juga dapat menyebutnya
sebagai ekses. Legalisme yang telah mencapai titik ekstrem, jelas
bertentangan dengan semangat Injil Kristus.
KARENA itu, ketika kekristenan mulai merambah muncul masalah.
Masalah yang kontroversinya masih mewarnai hubungan antardenominasi
di dalam tubuh gereja Protestantisme sampai sekarang. Inti
masalahnya: bagaimana orang Kristen seharusnya menyikapi hukum hari
Sabat? Apakah hukum tersebut masih mengikat? Atau tidak?
Pertanyaan yang kadang-kadang disertai perdebatan yang emosional ini
masih merupakan isu hangat. Karena itu, saya merasa perlu
membahasnya agak panjang lebar. Khususnya masalah asal-usul mengapa
sebagian terbesar orang Kristen beribadah pada hari Minggu, bukan
hari Sabtu. Bagaimana menjelaskannya secara historis, obyektif dan
alkitabiah, teristimewa kepada mereka yang konsisten mempertahankan
hari Sabat?
Titik berangkat yang paling penting, tidak bisa lain, adalah
ALKITAB. Di situ, baik dalam PL maupun PB, jelaslah bahwa hari Sabat
adalah hari Sabtu. Sebenarnya tidak perlu ada persoalan, sekiranya
tidak terjadi perkembangan baru.
Orang-orang Kristen pertama yang berlatar belakang Yahudi hampir
dapat dipastikan masih merayakan hari Sabat pada hari Sabtu. Sungguh
tidak mudah menghilangkan begitu saja tradisi yang telah telanjur
mendarah-daging turun-temurun, apalagi bila tradisi itu adalah
tradisi suci, yang diyakini berasal dari Allah sendiri.
Tapi yang saya maksud dengan terjadinya ”perkembangan baru” adalah,
bahwa di samping hari Sabtu, mereka juga merayakan hari lain, yaitu
hari Minggu, sebagai hari yang kudus. Mereka bahkan menamakannya
”hari Tuhan”. Dari pandangan iman mereka, hari Minggu adalah hari di
mana Tuhan mereka bangkit dari kematian.
Dan kebangkitan Tuhan ini, bagi mereka, mengimplikasikan sebuah era
yang sama sekali baru. Peristiwa Paskah adalah satu-satunya raison
d’etre bagi seluruh eksistensi maupun misi mereka. ”Andaikata
Kristus tidak dibangkitkan,” tulis Paulus, ”maka sia-sialah
pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Korintus
15:14). Tidak ada kebangkitan, tidak ada kekristenan.
BEGITU sentralnya peristiwa kebangkitan ini, hingga nyaris
mustahillah bila mereka tidak merayakannya. Sebagai tradisi, mereka
mungkin masih merayakan hari Sabat. Seperti orang Kristen Jawa masih
memelihara tradisi ”mitoni” (ketika kandungan berusia tujuh bulan),
atau orang Kristen Tionghoa memelihara tradisi ”sincia”. Namun, yang
secara teologis jauh lebih penting adalah apa yang terjadi pagi-pagi
sekali, pada hari pertama di minggu itu – Tuhan bangkit!
Kita kemudian menengarai perkembangan selanjutnya, di mana ”pamor”
hari Sabat kian lama kian redup, digantikan oleh hari Minggu. Hari
Sabat tidak sentral lagi.
Menjalankan hukum hari Sabat, misalnya, tidak termasuk dalam daftar
hal-hal yang ditetapkan oleh para rasul sebagai ketentuan yang
mutlak harus dipatuhi, bila orang hendak memeluk iman Kristen.
Aturan mengenai makanan serta kesusilaan dianggap lebih penting
(Kisah Rasul 15:20,29).
Beribadah bersama pada hari Minggu juga kian mentradisi. Pada hari
pertama itu, mereka berkumpul ”untuk memecah-mecahkan roti” (Kisah
Rasul 20:7); dan mengumpulkan persembahan (1 Korintus 16:2).
Kesimpulan kita adalah, paling sedikit bagi orang-orang Kristen
Perjanjian Baru, hari Minggu memperoleh tempat yang kian istimewa
dalam hidup peribadahan mereka.
Ini oleh Paulus diberi pendasaran teologis. Dengan tanpa tedeng
aling-aling ia mengecam dan menyerang praktik-praktik pelaksanaan
hukum hari Sabat, yang lebih dikuasai oleh roh legalisme yang
membelenggu, ketimbang oleh Roh Tuhan yang membebaskan.
Ini ditudingnya sebagai berlawanan secara diametral dengan semangat
Injil. ”Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, bagaimanakah
kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia? Kamu dengan teliti
memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan
tahun-tahun?” (Galatia 4:9,10).
Lebih tegas lagi, ia katakan, ” Janganlah kamu biarkan orang
menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya,
bulan baru ataupun hari Sabat. Semuanya ini hanyalah bayangan dari
apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” (Kolose
2:16-17).
Menurut Paulus, orang-orang Kristen yang kuat dan dewasa dalam iman
tidak boleh mengikatkan diri kepada hari-hari atau bulan-bulan atau
tahun-tahun tertentu. Semua hari adalah baik! Setiap saat adalah
waktu Tuhan!
ìYang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari
yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja.
Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam dirinya sendiri”.
Yang menentukan adalah—apa pun yang diyakini, Sabtu atau
Minggu—lakukanlah itu untuk Tuhan dan dengan rasa syukur! (Roma
14:6-7).
DALAM perjalanan sejarah, kecenderungan untuk beribadah pada hari
Minggu dengan cepat kian menguat. Sudah sejak awal abad ke-2, ”Hari
Tuhan” (= hari Minggu) telah sepenuhnya mengambil-oper tempat ”Hari
Sabat” (= hari Sabtu). Kitab penuntun ibadah yang resmi pada waktu
itu, Didache (100 AD), misalnya, menulis, ”Pada hari Tuhan,
berkumpullah, pecahkan roti, dan selenggarakan ekaristi”.
Ignatius lebih gamblang lagi. Katanya, ”Mereka yang telah
meninggalkan kebiasaan lama, dan masuk ke dalam pengharapan baru,
tidak boleh lagi hidup untuk hari Sabat, melainkan untuk hari
Tuhan”. Nada yang sama dapat kita jumpai dalam tulisan bapak-bapak
gereja lainnya, seperti Yustinus Martir, Dionysius dari Korintus ,
Tertulianus, Athanasius, sampai Agustinus.
Sidang sinode di Laodikea (363 AD), secara resmi memutuskan,
”Orang-orang Kristen tidak boleh meng’yahudi’kan diri mereka dengan
beristirahat pada hari Sabat. Pada hari itu mereka harus bekerja,
dan baru pada hari Tuhan, mereka beristirahat sebagai orang-orang
Kristen”.
Proses ini menjadi lengkap, ketika pada pada tahun 321, Kaisar
Konstatinus Agung, menetapkan dalam undang-undang negara, ”Semua
pekerjaan di kota-kota harus berhenti pada hari Tuhan, kecuali—bila
karena terpaksa—pekerjaan bertani di desa-desa, supaya tanaman tidak
rusak”
Para reformator secara konsisten mengikuti tradisi gereja purba
tersebut, tetapi dengan tambahan nuansa yang menarik.
Martin Luther, dalam ”Katekismus Besar”-nya, menekankan pentingnya
para pekerja, pelayan dan hamba yang sehari-hari telah bekerja
keras, memperoleh kesempatan untuk penyegaran dan beristirahat, dan
terutama untuk mendengar Firman Tuhan, memuji serta berdoa
kepada-Nya. Tapi, begitu kata Luther, secara prinsipal, hari itu
hari apa sebenarnya tidak penting. Semua hari sama baiknya dan sama
kudusnya.
Calvin pun demikian. Untuk membuang semua ketahayulan yang melekat,
hukum hari Sabat—sebagai bagian dari Taurat dan ”hari suci” orang
Yahudi—dinyatakan tidak berlaku lagi bagi orang-orang Kristen.
Namun, orang-orang Kristen toh mesti tetap memelihara jiwanya, yaitu
perlunya hidup dengan sopan, tertib, dan damai dalam hubungan dengan
Allah, khususnya melalui ibadah di dalam gereja. Untuk itu
ditetapkan hari lain—hari Minggu—sebagai pengganti. Tapi merayakan
hari Minggu, tidak boleh sedikit pun mengandung superstisi dan
dirayakan sekadar karena keharusan. Hari Tuhan adalah hari sukacita.
JADI, apakah yang dapat disimpulkan sebagai kata akhir? Paling tidak
kita dapat mengatakan, bahwa semua hari adalah hari Tuhan. Semua
hari sama kudusnya, sama baiknya, dan sama pentingnya.
Bila orang mau merayakan hari Tuhan itu pada hari Sabtu, ia tidak
berdosa. Tapi hendaknya jangan ada anggapan, bahwa mereka yang
beribadah pada hari Minggu tidak mempunyai dasarnya di dalam
Alkitab, dan tidak mempunyai akarnya dalam sejarah gereja!
Yang penting adalah, pada hari apa pun, Tuhan dimuliakan, hak mereka
yang telah bekerja keras untuk beristirahat diindahkan, dan setiap
kita menyisihkan waktu serta melakukan upaya yang khusus untuk
memenuhi kebutuhan jiwa kita. ***
|
|