
Dalam pengelolaan keuangan gereja, sering kali ada kebiasaan yang sering dilakukan padahal tanpa kita sadari hal itu akan merusak keuangan gereja. Jika hal ini terus dilakukan bisa jadi segala hal yang sudah dibuat untuk menata keuangan gereja tidak ada gunanya sama sekali.
“Hendaklah segala sesuatu berjalan dengan sopan dan teratur.” — 1 Korintus 14:40
Berikut kebiasaan yang dapat merusak keuangan gereja.
1. Tidak Ada Perencanaan dan Anggaran yang Jelas
Membuat anggaran memang tidak mudah, bahkan kadang membuat gereja tidak bebas membuat program karena tidak masuk dalam anggaran padahal program tersebut dianggap penting. Gereja adakalanya lebih suka menggunakan uang secara alami, uang akan dikeluarkan untuk kebutuhan yang saat itu diperlukan. Namun hal ini dapat menyebabkan pengeluaran yang tidak terkontril, prioritas pelayanan yang terbengkalai dan bukan tidak mungkin gereja mengalami kekurangan dana bahkan terlilit hutang.
Oleh karena itu buatlah anggaran sesuai dengan apa yang sudah dilakukan oleh gereja dan cobalah menaati anggaran tersebut. Sebagai langkah awal anggaran bisa dibuat secara garis besar. Misal cukup ditulis Keperluan Ibadah sebesar Rp10.000.000,- Setelah satu tahun, dalam apbg baru mata anggaran tersebut dapat diperinci menjadi Transport Pembicara, Dekorasi Gereja, FC Liturgi, dll Buat juga mata anggaran Cadangan untuk menampung kegiatan penting tetapi tidak terencana.
2. Membiarkan “Pengeluaran Kecil” Tanpa Kontrol 🪙
Gereja tentu sering mengeluarkan uang dalam jumlah kecil seperti konsumsi rapat, FC materi rapat, pembelian tisue, dll Hal kecil ini apabila tidak dikelola dengan baik dapat menumpuk hingga jumlah yang signifikan.
Oleh karena itu dalam penyusunan APBG (Anggaran Pendapatan dan Belanja Gereja) hal-hal kecil ini juga perlu diperhatikan. Sebagai contoh masukkan juga item pengeluaran konsumsi untuk rapat pengurus selama 1 tahun dan taati hal tersebut. Dalam praktiknya, setiap pengadaan konsumsi rapat maka perlu melihat di APBG seberapa besar uang yang sudah dikeluarkan.
3. Pembeli Barang Asal Murah🪙
Karena kondisi keuangan kadang gereja memutuskan untuk membeli barang yang lebih murah tanpa memperhatikan kualitas. Padahal bisa saja barang yang lebih murah ini masa pakai lebih cepat dan dalam jangka waktu lama justru lebih murah barang yang agak mahal. Agar keuangan gereja dapat terjaga dengan baik maka perlu diperhitungkan dengan cermat setiap barang yang akan dibeli. Jangan hanya asal murah tetapi perhatikan juga kualitasnya.
4. Tidak Memelihara Aset Gereja
Setiap barang yang sudah dibeli tentu harus dirawat dengan cermat agar tidak merusak keuangan di kemudian hari. Sebagai contoh setelah menggunakan keyboard baik kalau ditutup agar tidak terkena debu, atau buat aturan agar tidak menaruh makanan dan minuman di dekat alat keyboard. Kalau sampai sebuah keyboard rusak karena ketumpahan air minum maka biaya perbaikannya tidaklah murah.
5. Tidak Memiliki Dana Darurat
Gereja kadang akan menghadapi kejadian diluar perkiraan / tidak terencana, sebagai contoh ketika masa pandemi covid-19 kemarin. Gereja perlu membuat ibadah secara online, bahkan live streaming. Untuk mewujudkan hal ini tentu diperlukan biaya yang tidak murah. Pembelian kamera, alat pendukung, pelatihan, dll tentu membutuhkan dana yang cukup besar. Untuk mencukupi hal itu maka gereja perlu memiliki dana darurat yang dapat digunakan kapan saja gereja memperlukan.
Dana darurat ini bisa berasal dari penyisihan persembahan yang diterima setiap bulan (misal 10%) dan dimasukkan ke tabungan dana darurat yang bisa digunakan setiap saat.
6. Hanya Mengandalkan Persembahan
Ketika pandemi covid-19 kemarin melanda banyak gereja yang mengalami penurunan drastis dalam hal penerimaan. Hal ini disebabkan banyak gereja hanya mengandalkan persembahan jemaat tanpa mau mencari sumber pemasukan lainnya. Gereja. Sementara gereja lain yang juga memiliki sumber penerimaan selain persembahan relatif lebih stabil keuangannya.
Memiliki sumber penerimaan lain selain persembahan bukanlah berarti gereja ber-bisnis. Gereja justru dapat memberikan kesempatan kerja bagi warga untuk ikut mengelola sumber pendapatan tersebut. Sumber-sumber ini dapat berupa: aset seperti tanah, emas, toko, warung makan, dll
7. Laporan Keuangan Sangat Sederhana Sekali
Laporan keuangan sering hanya menyajikan total penerimaan, total pengeluaran, dan saldo. Hal ini membuat warga gereja tidak tahu untuk apa saja pengeluaran tersebut. Laporan memang tidak harus detail, tetapi juga jangan hanya pemasukan, pengeluaran, dan saldo saja. Masing-masing perlu disertakan ringkasan item-itemnya. Dengan demikian warga akan memiliki gambaran pengeluaran gereja sebesar itu untuk apa saja.
Contohnya:
- Penerimaan (dibagi lagi ke dalam item Persembahan Mingguan, Persembahan Diakonia, Persembahan Khusus, dll)
- Pengeluaran (dibagi lagi ke dalam item Rumah Tangga Gereja, Bagian Ibadah, Bagian Pemahaman Alkitab, Perkunjungan ke Warga, dll)
Pengelolaan keuangan gereja harus dilakukan dengan hikmat dan tanggung jawab, karena harta yang dikelola adalah milik Tuhan. Dengan menghindari kebiasaan-kebiasaan di atas, gereja dapat menjadi berkat yang lebih besar bagi umat dan masyarakat.