
Hari sudah larut malam tetapi persiapan untuk kotbah besuk belum juga selesai. Akhirnya ambil cara pintas - Tanya AI dan hasilnya sungguh luar biasa. Materi kotbah tersaji dengan lengkap, mulai dari pendahuluan sampai dengan aplikasinya untuk kondisi jemaat di gereja. Tinggal disampaikan / dibacakan ke jemaat selesai. Tetapi apakah hal ini dapat dibenarkan? Apakah menggunakan AI untuk menyusun bahan kotbah itu dosa?
"Semua diperbolehkan. Tetapi bukan semuanya berguna. Semua diperbolehkan. Tetapi bukan semuanya membangun." (1 Korintus 10:23, LAI/TB)
Antara Boleh atau Tidak
Riset kolaboratif Pushpay-Barna Group (2025) mencatat bahwa 45% pemimpin gereja yang disurveo di Amerika Serikat kini menggunakan AI, dengan 43% pendeta gereja Protestan tersebut melihat manfaat AI untuk riset dan persiapan khotbah — meski hanya 12% yang membiarkan AI menulis khotbah secara utuh. (barna.com).
Walaupun di Indonesia (mungkin) belum ada survei resmi yang tercatat mengenai hal ini, dapat dipastikan bahwa sebagian Pendeta telah menyentuh AI untuk mempersiapkan bahan kotbah, renungan, dan bahkan untuk menyiapkan doa. Namun, sebagian lain akan menolak dan menganggap bahwa penggunaan AI dapat menyingkirkan peran Roh Kudus dalam mempersiapkan bahan kotbah. Selain itu menggunakan AI dianggap akan menumpulkan kreativitas seorang pengkhotbah karena otak tidak dilatih untuk berpikir.
AI seperti juga produk kemajuan teknologi lainnya selalu membawa dua kemungkinan sekaligus—membantu atau mengikis disiplin rohani. AI dapat membantu seorang pengkhotbah menghemat waktu. Di sisi AI juga dapat menggoda seseorang untuk menyampaikan sesuatu tanpa melakukan koreksi atau mendoakannya terlebih dahulu.
Karena itu, inti pembahasannya bukan sekadar “boleh atau tidak boleh.” Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah AI dipakai sebagai alat bantu pelayanan, atau mulai menjadi tuan yang mengarahkan pengajaran/ khotbah seorang pendeta?
Di titik inilah etika penggunaan AI untuk khotbah menjadi penting.
Kapan AI Menjadi Alat dan Tuan?
Dalam pelayanannya Musa memiliki tongkat yang ia gunakan untuk menunjukkan Kuasa Ilahi. Ia hanya memperlakukan alat itu sesuai dengan perintah Tuhan. Dalam keadaan apapun Musa tetap berdoa kepada Tuhan bukan kepada tongkat.
AI adalah alat yang membantu proses pembuatan bahan khotbah. AI sangat membantu Anda:
- Merangkum komentar dari berbagai sumber tafsiran dalam hitungan detik
- Menyarankan struktur logis untuk topik yang kompleks
- Memperbaiki tata bahasa atau menyesuaikan gaya bahasa untuk audiens tertentu
- Menghasilkan ide ilustrasi kontekstual berdasarkan kata kunci
Hasil dari AI ini tentu masih perlu diolah dengan cermat
- hasilnya dibandingkan dengan AI lain,
- dipastikan ayat alkitabnya apakah sudah sesuai konteks dan sudah benar isinya
- apakah referensi rujukan benar-benar ada
- apakah materi yang dibuat terasa hampar
- dan yang paling penting selalu meminta hikmat dan bimbingan Roh Kudus dalam mengolah materi dari AI
Jika Anda melewatkan itu semua, langsung copy paste hasil AI ke naskah khotbah atau bahkan langsung menyampaikan ke warga maka perlahan-lahan AI sudah menjadi tuan atas pelayanan khotbah Anda. Sekarang Anda beralasan tidak sempat cek ulang karena tidak punya waktu, besuknya beralasan materi AI sudah sangat bagus. Akhirnya hikmat Roh Kudus digantikan oleh hasil dari AI
Etika Penggunaan AI untuk Membuat Bahan Kotbah
Beberapa hal yang perlu dilakukan dan dijaga dalam penggunaan AI untuk membuat bahan khotbah atau membantu pelayanan gereja:
- Jangan menggunakan bahan AI secara mentah tanpa melakukan verifikasi ulang. AI bisa membuat bahan kotbah yang baik dengan cepat namun kadang juga salah dalam menafsirkan ayat atau mengambil referensi. Jadi wajib untuk cek ulang
- Jangan menggantikan studi Alkitab dengan prompt. Tetap baca isi alkitab dan cari dari literatur yang ada baik online maupun offline. Prompt hanya digunakan untuk mencari ide.
- Jangan mengaku karya AI sebagai hasil murni pribadi. Walaupun tidak diharuskan menyampaikan ke jemaat bahwa bahan kotbahnya adalah hasil dari AI namun jangan pula mengakui bahwa ini bahan murni dari pemikiran saya, padahal idenya dari AI
- Jangan memakai AI untuk memanipulasi emosi rohani jemaat. AI mampu membuat “kesaksian dramatis” atau kesaksian palsu untuk membuat bahan khotbah lebih menarik. Jangan dipakai! Selalu berikan kesaksian yang benar terjadi sehingga nama Tuhan benar-benar dimuliakan
- Jangan biarkan AI mengarahkan arah pelayanan Gereja. Tetap sesuaikan bahan kotbah dan arah pelayanan sesuai kebutuhan gereja.
Peganglah etika tersebut dapat ketika mau menggunakan AI untuk membuat khotbah maka Anda dapat melakukan hal di bawah ini
- Doa dan baca teks — catat pergumulan utama Anda.
- Gunakan AI sebagai asisten riset — minta ringkasan latar budaya, struktur alternatif, ilustrasi sederhana, atau mencari ide utama apabila Anda kesulitan dengan materi khotbah yang sudah ada. Jangan minta AI menulis naskah penuh.
- Verifikasi dan personalisasi — cek semua referensi AI dengan Alkitab & tafsiran terpercaya. Tulis ulang dengan bahasa Anda sendiri, tambahkan kesaksian nyata.
- Doakan kembali naskah akhir — serahkan pada Tuhan. Biarkan Roh Kudus berdaulat.
Kesimpulan
Jadi, apakah menggunakan AI untuk khotbah itu dosa? Tergantung — tergantung hati Anda saat menggunakannya. AI hanyalah alat, Alat tidak pernah menjadi dosa. Yang menjadikan dosa adalah saat alat itu mulai menjadi tuan dan menggantikan Tuhan yang seharusnya kita layani
Tuhan tidak akan menghukum Anda karena mengetik prompt di jam 2 pagi. Tapi Dia menelusuri: apakah Anda masih mencari wajah-Nya? Apakah jemaat masih digembalakan atau hanya ‘disuguhi konten’?
✨ “AI seharusnya menjadi pelengkap, bukan penyangga. Kalau Anda tidak bisa berkhotbah tanpanya, maka AI bukan lagi alat — ia sudah menjadi kuk, dan Anda sedang belajar melupakan cara berjalan sendiri.”
Selamat menggunakan AI dengan bijak


