
Rabu Abu adalah hari pertama dalam masa Pra-Paskah (Lent), yaitu 40 hari menjelang Jumat Agung dan Minggu Paskah. Beberapa aliran Gereja-gereja Kristen Protestan juga ikut mengadakan Ibadah Rabu Abu sebagai persiapan memasuki Masa Pra Paskah. Beberapa ada yang menganjurkan umat untuk berpantang / berpuasa yang disertai dengan gerakan celengan Aksi Puasa (menyisihkan sebagai uang untuk ditabung dan dipersembahkan ke Gereja).
Dalam Ibadah Rabu Abu terdapat prosesi penorehan abu di dahi para umat yang hadir sebagai momen pertobatan, refleksi, dan kesadaran akan kefanaan manusia. Abu yang ditorehkan di dahi berbentuk tanda salib mengingatkan kita akan Sabda Tuhan
"Ingatlah, manusia, bahwa engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu" (Kejadian 3:19)
"Bertobatlah dan percayalah kepada Injil" (Markus 1:15).
Abu ini melambangkan kefanaan hidup manusia (kita berasal dari debu dan akan kembali ke debu), kerendahan hati, penyesalan atas dosa, dan panggilan untuk bertobat. Abu dibuat dari daun palem (atau ranting pohon lain) dari perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang dikeringkan, dibakar, lalu disaring hingga halus.
Persiapan Ibadah Rabu Abu
Karena Ibadah Rabu Abu ini agak berbeda dengan pelaksanaan Ibadah Hari Minggu maka tentu ada hal-hal yang harus disiapkan baik oleh Pengurus Gereja, Kantor Gereja maupun Koster Gereja. Secara ringkas: Pengurus Gereja bertanggung jawab mempersiapkan konsep/ tata cara ibadah, Kantor Gereja bertanggungjawab terkait hal administrasi berdasarkan tata cara yang dibuat. Sedangkan Koster bertanggung jawab terhadap segala peralatan yang diperlukan. Walaupun sudah memiliki tanggungjawab masing-masing namun dalam pelaksanaannya tentu dibutuhkan kerjasama semua pihak.
Berikut hal-hal yang perlu dipersiapkan
1. Liturgi Ibadah Rabu Abu
- Buatlah Liturgi atau Urutan tata ibadah seperti pada umumnya, hanya ditambahkan prosesi penorehan Abu setelah Kotbah atau menyesuaikan kebiasaan gereja setempat
- Prosesi penorehan di Gereja-gereja Protestan dapat dilakukan sesuai kondisi gereja setempat. Ada yang dilayani oleh Pendeta, Pendeta dan Penatua, atau menorehkan sendiri, atau juga hanya perwakilan. Yang penting adalah bagaimana gereja tersebut dapat menyampaikan setiap prosesi dengan baik kepada warga
- Pilih lagu dan narasi seputar penyesalan dosa dan pertobatan. Lakukan koordinasi dengan pemain musik agar musik dimainkan dengan lembut sehingga mendukung nuansa pertobatan
2. Petugas Ibadah
- Siapkan semua petugas ibadah, baik petugas liturgi, pembaca Alkitab (apabila menggunakan Bacaan Leksionari), pemain musik, singer / Pemandu Nyanyian Jemaat (PNJ), among tamu, dan pengarah umat untuk maju ke depan sehingga umat dapat maju dengan teratur
3. Abu untuk Penorehan
- Pengumuman ke umat untuk membawa daun Palem kering dari Minggu Palma tahun sebelumnya agar dikumpulkan di Gereja
- Daun yang sudah terkumpul (bisa ditambahi daun palem lain apabila kurang) dibakar dalam Prosesi Pembakaran Daun Palem yang dipimpin oleh Pendeta.
- Abu hasil pembakaran dihaluskan dan disaring sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya.
- Simpan abu dalam wadah kecil yang rapi untuk kemudian diletakkan di altar
4. Persiapan Tempat Ibadah
- Dekorasi ruangan dan altar dengan dominasi warna ungu atau hitam dan lampu dapat dibuat remang untuk mendukung suasana penyesalan dosa dan pertobatan
- Taruh abu dalam wadah kecil dan di taruh di atas meja kecil di depan mimbar. Di meja tersebut juga dapat di taruh salib kecil, lilin, dan alkitab.
- Apabila umat melakukan penorehan sendiri maka pertimbangkan untuk meletakkan tisu ditempat yang dapat diambil dengan mudah oleh umat
- Atur tempat yang longgar/ jalan bagi umat untuk maju ke depan menerima / melakukan penorehan abu dan kembali ke tempat duduk
5. Komunikasikan dengan Umat
- Buatlah pengumuman mengenai pelaksanaan Ibadah Rabu Abu minimal 2 minggu sebelum pelaksanaan agar umat dapat bersiap-siap mengikutinya.
- Bagi gereja yang baru pertama atau beberapa kali menyelenggarakan ibadah Rabu Abu maka pengumuman tersebut perlu dilakukan jauh hari dan secara terus-menerus agar umat ingat.
- Sosialisasikan mengenai makna Rabu Abu berikut prosesi penorehannya sehingga umat tidak sekadar hadir melainkan juga ikut menghayatinya
Bagi beberapa aliran di Gereja-gereja Kristen Protestan, Ibadah Rabu Abu ini baru beberapa kali diadakan oleh karena itu dapat dipahami kalau pelaksanaannya berbeda-beda, bahkan dalam satu sinode pelaksanaannya ada yang berbeda. Umumnya gereja melakukan prosesi penorehan oleh Pendeta kepada umat, beberapa gereja dilakukan oleh Majelis (Pendeta dan Penatua), beberapa lagi umat diminta menorehkan sendiri, dan ada juga yang hanya dilakukan oleh perwakilan beberapa umat saja, bahkan ada juga yang tanpa prosesi penorehan. Hal ini tentu tidak perlu diperdebatkan apalagi sampai mengatakan kamu sesat dan akulah yang paling benar. Semua dilakukan dengan makna pertobatan.
Selamat memasuki Masa Pra Paskah